Whatsapp Share Like Simpan

Ibu tentu tahu bahwa cukup tidur dapat membantu mengoptimalkan pertumbuhan fisik si Kecil dan perkembangan otaknya. Saat si Kecil tidur lelap, tubuhnya dalam kondisi rileks, sehingga darah bisa mengalir lebih lancar ke otak.

Namun, di negara beriklim tropis seperti Indonesia ini, nyamuk sering kali mengganggu kenyamanan tidur dan bisa membuat si Kecil berkali-kali terbangun. Ada beberapa cara yang bisa Ibu terapkan untuk menyiasati hal ini, yaitu dengan menggunakan kelambu nyamuk dan lotion anti nyamuk. Di antara keduanya, manakah yang paling tepat untuk anak? Sebelum bisa memutuskan, lebih baik Ibu baca dulu informasinya di bawah ini, ya:

Kelambu Nyamuk

Saat bayi baru lahir hingga ia berusia sekitar 3 bulan, kelambu nyamuk atau tirai terbilang cocok untuk menjaganya dari gigitan nyamuk karena ia belum bisa bergerak aktif ke sana kemari, Bu. Memasuki usia 4 bulan, meski gerakannya masih terbatas, bayi sudah mulai bisa menggenggam kelambu dengan tangannya. Jadi, demi kenyamanannya, sebaiknya Ibu pilih kelambu dengan ukuran lebih besar agar ia bisa bergerak lebih leluasa.

Hal yang perlu diingat saat menggunakan kelambu nyamuk adalah Ibu harus memeriksa kelambu secara berkala untuk memastikan tak ada satupun nyamuk yang masuk ke dalam kelambu. Tujuannya supaya kelambu nyamuk benar-benar efektif melindungi si Kecil dari gigitan nyamuk.

Lotion Anti Nyamuk

Dibanding kelambu, membalurkan lotion anti nyamuk khusus anak ke tubuh si Kecil terbilang lebih efektif untuk menjaganya dari gangguan nyamuk. Apalagi, berbeda dengan kelambu, cara ini tak membatasi gerakan si Kecil.

Artikel Sejenis

Namun, ada beberapa hal yang perlu Ibu waspadai bila memilih langkah ini. Sebab, menurut artikel yang saya baca, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar cara ini tidak membahayakan si Kecil, di antaranya:

  • Si Kecil sebaiknya berusia lebih dari 2 bulan.
  • Si Kecil tidak diolesi lotion anti nyamuk khusus anak dan tabir surya pada waktu bersamaan.

Penggunaan tabir surya bersamaan dengan lotion anti nyamuk perlu dihindari karena bisa meningkatkan kadar DEET (diethyltoluamide) dalam darah. Meski efektif meminimalisir gangguan nyamuk dan serangga, DEET bersifat toksik pada mata dan mulut, Bu. Penggunaan keduanya secara bersamaan bisa meningkatkan risiko keracunan, seperti muntah atau sakit kepala.

Nah, agar si Kecil tetap aman dan terlindung dari nyamuk tanpa berisiko keracunan, berikut tips yang perlu diterapkan saat memberikan lotion anti nyamuk untuk si Kecil:

  • Perhatikan kondisi kulit si Kecil. Jika ada iritasi atau luka, sebaiknya tunda penggunaan lotion atau hindari bagian tersebut.
  • Saat si Kecil sedang dalam fase oral (di rentang usia 0-18 bulan), ia akan sering memasukkan jari ke mulutnya. Oleh sebab itu, hindari mengoleskan lotion ke bagian telapak tangan si Kecil.
  • Bagian tubuh yang sudah tertutup pakaian tak perlu dioles lotion lagi, Bu. Jadi, cukup oleskan secukupnya di bagian kulit yang terbuka.
  • Hindari mengoleskan lotion di bagian wajah, karena area ini lebih sensitif dibanding bagian tubuh yang lain.
  • Jika si Kecil menunjukkan gejala alergi, segera hentikan penggunaan dan bersihkan kulit yang terkena lotion. Selain itu, demi keamanan, segera lakukan konsultasi ke dokter, Bu.


Baca juga: Serba-Serbi Alergi Pada Anak

Cara Lain Menghindarkan Si Kecil dari Nyamuk

Apabila penggunaan kelambu nyamuk dinilai sulit, tapi si Kecil belum memenuhi syarat untuk dipakaikan lotion anti nyamuk, Ibu dapat menggunakan minyak esensial atau minyak telon yang terbuat dari tumbuhan, seperti lemon, lavender, serai atau minyak kayu putih (Eucalyptus). Ketiganya memiliki aroma yang tidak disukai oleh nyamuk. Namun bahan-bahan tersebut sebaiknya baru diberikan pada anak yang sudah berusia 3 tahun ke atas, ya.

Alternatif lainnya adalah dengan menerapkan beberapa cara berikut ini:

  • Menanam tumbuhan pengusir nyamuk. Tumbuhan seperti serai, lavender, geranium, dan lemon diketahui memiliki aroma yang tidak disukai oleh nyamuk. Ibu pun bisa menanamnya di sekitar rumah untuk mengusir nyamuk agar tidak mendekat ke rumah Ibu.
  • Memasang kasa di jendela. Nyamuk biasanya masuk ke dalam rumah dari jendela atau ventilasi. Jadi untuk menghindari masuknya nyamuk, tutuplah semua jendela dan ventilasi yang ada di rumah menggunakan kasa nyamuk. Kasa terdiri dari lubang-lubang yang berukuran sangat kecil, sehingga membuat nyamuk sulit menembusnya tapi masih bisa ditembus oleh udara. Namun karena kasa bersifat mengumpulkan debu, maka Ibu harus sering membersihkannya supaya tidak menyebabkan penumpukan debu.
  • Menjaga kebersihan rumah. Benda-benda yang menumpuk dan air yang menggenang merupakan tempat bersarangnya nyamuk. Jadi, Ibu harus selalu menjaga kebersihan rumah, ya. Bersihkan tempat-tempat yang rawan menjadi sarang nyamuk, seperti tumpukan barang bekas dan air genangan dispenser, vas bunga, selokan, dan bak air.
  • Memasang perangkap nyamuk. Selain kelambu nyamuk, ada alat lainnya yang bisa mencegah si Kecil terhindar dari gigitan nyamuk, yaitu lampu perangkap serangga. Lampu ini mengeluarkan sinar yang menarik serangga untuk datang mendekat dan akhirnya terperangkap di dalamnya. Jadi, rumah Ibu tidak hanya terbebas dari nyamuk, tapi juga serangga lainnya yang mengganggu.

Kelambu nyamuk bisa dijadikan pilihan yang aman untuk menghindarkan si Kecil dan anggota keluarga lainnya dari gigitan nyamuk. Pilihlah kelambu berukuran besar yang bisa dipasang pada kasur dewasa sehingga si Kecil tetap bisa bergerak dengan leluasa.

Nyamuk tidak hanya menyebabkan rasa gatal di kulit dan mengganggu tidur si Kecil, tapi juga merupakan serangga yang bisa mengakibatkan penyakit berbahaya, seperti demam berdarah, malaria, chikungunya, kaki gajah, dan zika. Jadi sebisa mungkin lakukan berbagai cara untuk membuat buah hati terbebas dari gigitan nyamuk yang berbahaya ya, Bu.

Untuk Ibu yang masih memiliki pertanyaan seputar anak, bisa mencari informasi di Tanya Pakar. Di sana pertanyaan Ibu akan dijawab oleh ahlinya. Untuk dapat menggunakan fitur tersebut, Ibu bisa registrasi sekarang untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya, Bu!


Sumber:

Blibli

Alodokter