Whatsapp Share Like
Simpan

Tahukah Ibu kalau hernia juga dapat menyerang bayi? Ya, hernia pada bayi bahkan bisa menyerang saat ia baru lahir hingga beberapa bulan usianya. Hernia terjadi ketika ada bagian usus yang menonjol keluar dari otot-otot dinding perut yang lemah. Hal itu bisa diketahui dari tonjolan lunak di bawah kulit tempat hernia terjadi.

Bagaimanakah penjelasan lebih lengkap tentang hernia pada bayi? Ibu bisa menyimaknya dari informasi yang sudah saya kumpulkan berikut ini:

Mengenal Hernia

Pada bayi, hernia biasanya terjadi pada dua tempat, yakni di daerah pusar (disebut hernia umbilikalis) dan pangkal paha (disebut hernia inguinalis). Kedua jenis hernia tersebut terjadi dengan sebab yang sedikit berbeda. Penjelasannya sebagai berikut:

Hernia Umbilikalis

Saat janin tumbuh dan berkembang selama kehamilan, terdapat suatu celah kecil dalam otot-otot dinding perut, sehingga tali pusat dapat masuk ke dalamnya. Setelah bayi lahir, otot-otot perut yang membuka itu akan menutup seiring kematangan fisik bayi.

Artikel Sejenis

Kadang-kadang, otot-otot tersebut tidak menyatu dan menutup secara sempurna, sehingga masih ada celah terbuka. Bila ada sedikit usus yang masuk ke dalam celah tersebut, maka akan menyebabkan terjadinya hernia.

Tak sedikit anak mengalami hernia umbilikalis saat lahir. Hernia ini biasanya tidak sakit atau berbahaya, dan dapat menutup sendiri tanpa operasi. Hingga kini, para ahli belum mengetahui dengan pasti mengapa celah tersebut kadang-kadang tidak bisa menutup. Berikut adalah gejala-gejalanya:

  • Terdapat tonjolan halus di bawah kulit pusar.
  • Bagian yang menonjol tersebut kadang dapat didorong masuk kembali oleh dokter.
  • Tonjolan tersebut mungkin mudah terlihat saat bayi duduk atau berdiri tegak, atau otot-otot perut tegang selama ia melakukan aktivitas normal, seperti menangis, batuk, atau mengejan saat BAB.

Biasanya hernia ini akan menutup sebelum bayi berusia satu tahun. Jika celah tidak menutup pada saat anak berusia 5 tahun, biasanya dokter akan melakukan operasi untuk menutupnya.

Hernia Inguinalis

Saat janin laki-laki tumbuh dan berkembang selama kehamilan, testis yang berkembang dalam perut akan turun ke bawah ke dalam skrotum (kantung buah zakar) melalui suatu daerah yang disebut kanal inguinal. Sesaat setelah bayi lahir, kanal tersebut akan menutup, mencegah testis kembali ke dalam perut.

Jika kanal tersebut tidak menutup sempurna, usus dapat masuk ke dalamnya melalui daerah lemah pada dinding perut bagian bawah yang kemudian menyebabkan hernia. Meskipun bayi perempuan tidak punya testis, tapi tetap punya kanal inguinal, sehingga bisa saja mengalami hernia inguinalis.

Hernia ini bisa terjadi pada umur berapa saja, namun sepertiga penderitanya pada bayi-bayi berusia kurang dari 6 bulan. Gejala-gejalanya adalah:

  • Terdapat pembengkakan atau tonjolan pada pangkal paha atau skrotum yang terlihat selama si Kecil menangis atau tegang, dan terlihat mengecil saat ia rileks.
  • Ada massa lunak yang biasanya tidak lunak pada pangkal paha.
  • Rasa sakit hanya pada bagian yang mengalami hernia.

Hernia inguinalis harus dioperasi secepatnya untuk menghindari risiko menjadi lebih parah. Pada bayi-bayi prematur yang baru berusia beberapa bulan, operasi harus ditunda selama beberapa bulan hingga paru-paru mereka berfungsi sempurna.

Apa Penyebabnya?

Ada beberapa faktor penyebab hernia pada bayi, yaitu sebagai berikut:

  1. Kelemahan otot atau jaringan: faktor utama penyebab hernia adalah jaringan yang lemah dapat membuat organ-organ internal (terutama usus) menjadi menonjol keluar.
  2. Faktor genetik: hernia umbilikal dapat terjadi akibat faktor genetik. Jika si ayah pernah mengalaminya, maka ada kemungkinan bayi juga dapat mengalaminya.
  3. Cacat bawaan: beberapa bayi terlahir dengan lubang pada otot perut dan kanalis inguinalis yang tidak dapat menutup secara sempurna menjelang kelahirannya.

Bahaya yang Mungkin Terjadi

Ada kemungkinan lekukan usus yang menonjol terjepit dan jadi tidak dapat masuk kembali ke rongga perut. Akibatnya, bagian usus tersebut kehilangan suplai darah hingga membuatnya rusak. Bila sampai terjadi, berikut beberapa gejala yang dapat terlihat:

  • Demam
  • Muntah
  • Benjolan berwarna kemerahan
  • Bayi menangis kesakitan

Sudah sering ditemui kasus hernia terjepit pada bayi berusia di bawah 1 tahun. Gejalanya yang mirip dengan kondisi penyakit lainnya membuat banyak orang tua tidak menyadari kasus tersebut dan menganggapnya sebagai penyakit yang tidak berbahaya.

Bagaimana Cara Menanganinya?

Untuk dapat mengetahui secara pasti, bayi perlu mendapatkan diagnosa dari dokter. Kemudian bayi akan diperiksa secara fisik guna menentukan apakah hernia yang ia alami dapat didorong kembali ke dalam rongga perut atau tidak. Selain itu akan dilakukan pemeriksaan rontgen perut untuk pengecekan usus secara detail, terutama jika hernianya tidak dapat didorong kembali.

Umumnya hernia umbilikal dapat menghilang dengan sendirinya saat bayi berusia 1 atau 2 tahun, tapi terkadang juga dapat bertahan lebih lama. Namun bila bayi sudah berusia 4 tahun dan hernianya belum juga menghilang, maka perlu mendapatkan pemeriksaan oleh dokter.

Sementara untuk hernia inguinalis perlu mendapatkan tindakan operasi untuk mendorong kembali benjolan serta menguatkan bagian-bagian yang lemah pada dinding abdomen. Operasi baru dilakukan jika muncul gejala yang cukup parah dan terdapat komplikasi serius.

Sekian informasi hernia pada bayi yang bisa saya bagikan. Bayi yang terlahir secara prematur atau yang memiliki ayah/ibu mengalami hernia saat bayi lebih berisiko terserang hernia. Bayi laki-laki lebih rentan mengalaminya daripada bayi perempuan dengan perbandingan 1:50. Jadi, bila Ibu mencurigai bayi menderita hernia, maka sebaiknya Ibu konsultasikan dengan dokter untuk diperiksa lebih lanjut.

Laman Tanya Pakar dapat menjadi wadah bagi Ibu yang ingin berkonsultasi tentang kesehatan bayi. Sudah ada para ahli di bidang kesehatan anak yang siap membantu Ibu. Jangan lupa untuk registrasi terlebih dulu sebelum menggunakan fitur tersebut, ya.

Sumber:

id.theasianparent.com