Whatsapp Share Like Simpan

Sejak lahir ke dunia, bayi akan mendapatkan berbagai macam imunisasi wajib, salah satunya adalah imunisasi DPT. DPT merupakan singkatan dari tiga jenis penyakit, yaitu difteri, pertusis, dan tetanus. Ketiganya adalah jenis penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Dikarenakan penyakit tersebut berisiko tinggi bagi anak-anak bahkan dapat menyebabkan kematian, maka pemberiannya tidak boleh sampai terlewatkan.

Artikel ini akan menjelaskan lebih detail tentang imunisasi DPT, mulai dari manfaat, jadwal pemberian, dan efek sampingnya. Yuk, langsung baca informasi selengkapnya berikut ini:

Manfaat Imunisasi DPT

Imunisasi DPT memiliki manfaat untuk mencegah tiga jenis penyakit, yaitu difteri, pertusis, dan tetanus. Berikut penjelasan dari ketiga penyakit tersebut:

  • Difteri. Ini adalah penyakit yang menyerang selaput lendir di tenggorokan dan hidung. Difteri membentuk lapisan tebal di tenggorokan yang bisa menyebabkan penderitanya kesulitan bernapas dan makan. Jika tidak diobati, bakteri tersebut bisa menghasilkan racun yang akan mengakibatkan kerusakan pada jantung, ginjal, dan saraf.

Penyakit ini pernah mewabah di tahun 2017. Data dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan bahwa pada tahun 2017 terdapat 954 kasus difteri yang tercatat di seluruh provinsi di Indonesia dengan angka kematian sebesar 44 kasus.

  • Pertusis. Disebut juga dengan batuk rejan, pertusis adalah penyakit yang menyerang sistem pernapasan sehingga mengakibatkan batuk parah. Apabila pertusis menyerang bayi di bawah usia 1 tahun, akan berisiko mengalami kejang, kerusakan otak, pneumonia, bahkan kematian.
  • Tetanus. Ini adalah penyakit yang menyebabkan kejang dan kekakuan otot parah hingga kelumpuhan. Cara penularan tetanus tidak seperti difteri dan pertusis melalui orang ke orang, melainkan melalui luka terbuka yang terpapar bakteri yang terdapat di dalam kotoran hewan dan manusia, tanah, dan debu. Saat bakteri tersebut berhasil masuk ke dalam tubuh, maka akan berkembang biak dan melepaskan neurotoksin, yakni racun yang menyerang sistem saraf.

Umumnya pertusis baru memunculkan gejala pada 5-10 hari setelah bakteri menginfeksi saluran pernapasan. Setelah itu, terdapat tiga tahapan perkembangan pertusis, yaitu tahap awal (fase catarrhal), tahap lanjut (fase paroksismal), dan tahap pemulihan (fase convalescent).

Artikel Sejenis

Neurotoksin akan mengacaukan kerja saraf sehingga menyebabkan penderitanya mengalami kekakuan dan kejang otot. Selain itu, tetanus memiliki gejala rahang tidak bisa dibuka dan mengatup atau yang disebut dengan rahang terkunci (lockjaw). Penderita tetanus juga bisa mengalami gangguan menelan.

 

Baca juga: Kenali Efek Samping Imunisasi & Cara Mengatasinya

Kapan Imunisasi DPT Diberikan?

Vaksin DPT diberikan pada anak sebanyak lima kali, yaitu sejak usia 2 bulan sampai 6 tahun dengan jadwal sebagai berikut:

  1. Tiga pemberian pertama: usia 2, 3, dan 4 bulan.
  2. Pemberian keempat: usia 18 bulan.
  3. Pemberian kelima: usia 5 tahun.

Pemberian vaksin berupa suntikan dengan dosis sebanyak satu kali setiap imunisasi. Setelah itu, Ibu disarankan untuk memberikan booster Tdap, yakni imunisasi DPT ulang setiap 10 tahun sekali.

Sebelum memberikan bayi vaksin, periksa terlebih dulu kondisinya. Apabila saat jadwal imunisasinya tiba bayi sedang sakit parah, maka tunggu hingga ia sembuh baru setelahnya lakukan penjadwalan ulang terhadap imunisasinya.

Hal yang Wajib Diperhatikan

Hindari memberikan imunisasi lanjutan bila bayi mengalami kondisi sebagai berikut:

  • Setelah mendapatkan imunisasi bayi mengalami reaksi alergi parah yang bisa membahayakan nyawanya.
  • Setelah disuntik vaksin bayi mengalami gangguan pada otak dan sistem sarafnya selama 7 hari.

Jangan tunda membawa bayi ke dokter jika ia mengalami beberapa gejala berikut setelah mendapatkan imunisasi DPT:

  • Bayi hilang kesadaran atau mengalami kejang.
  • Demam tinggi hingga suhu 40 derajat Celcius.
  • Terus menangis selama sekitar 3 jam.

Efek Samping Imunisasi DPT

Vaksin ini mungkin menyebabkan efek samping sebagai berikut:

  • Merah dan sakit pada bekas suntikan.
  • Bengkak pada bekas suntikan.
  • Demam ringan.
  • Bayi rewel dan terlihat lelah.

Biasanya efek samping di atas hanya berlangsung selama tiga hari setelah vaksin diberikan. Untuk meredakan demam dan nyeri yang bayi alami, Ibu boleh memberikan obat berupa paracetamol. Jangan memberikan obat yang mengandung aspirin sebab bisa mengakibatkan bayi mengalami gangguan kesehatan yang membahayakan nyawa, seperti kerusakan otak dan hati.

Pada kasus yang sangat langka, pemberian vaksin ini bisa memicu gangguan pada otak. Namun Ibu tak perlu takut untuk tetap memberikannya pada bayi, karena gangguan tersebut hampir tidak pernah terjadi.

Mengimunisasi bayi merupakan salah satu upaya untuk menjaga kesehatannya. Walau memang imunisasi tidak bisa sepenuhnya melindungi bayi dari penyakit, tapi setidaknya gejala yang dialami oleh bayi tidak terlalu parah. Maka dari itu, tetaplah berupaya melindungi buah hati dari serangan penyakit yang berbahaya. Catat jadwal pemberian imunisasi DPT di atas ya, Bu, supaya bayi tidak terlewatkan untuk mendapatkannya tepat waktu. Berikan juga imunisasi lainnya supaya kesehatan bayi tetap terjaga dengan baik.

Bagi Ibu yang ingin berkonsultasi seputar anak, bisa berkunjung ke laman Tanya Pakar, ya. Pertanyaan Ibu akan dijawab langsung oleh ahlinya. Untuk bisa mengakses laman tersebut, jangan lupa untuk registrasi terlebih dulu.

 

Sumber:

Alodokter, halodoc

https://www.alodokter.com/imunisasi-dpt-manfaat-dan-efek-sampingnya

https://www.alodokter.com/batuk-rejan#:~:text=Batuk%20rejan%20atau%20pertusis%20adalah,pada%20bayi%20dan%20anak%2Danak.

https://www.halodoc.com/kesehatan/tetanuss