Share Like
Simpan

Ibu, lebih baik mencegah daripada mengobati. Kalimat ini sangat cocok untuk menggambarkan fungsi imunisasi. Tetapi, masih ada orang tua kerap mengabaikan tindakan penting untuk memberikan imunisasi bagi si Kecil. Pada akhirnya, orang tua pun dapat menyesali kelalaiannya ketika si Kecil terkena sakit di kemudian hari.

Seperti yang kita ketahu bersama, imunisasi sangat bermanfaat untuk memberikan kekebalan tubuh bagi bayi agar terhindar dari bahaya berbagai penyakit. Oleh karena itu, bayi yang masih di bawah lima tahun wajib mendapatkan imunisasi.

Mungkin Ibu masih bingung jenis imunisasi apa saja yang seharusnya diberikan kepada anak dan apa pula yang masih kategori dianjurkan. Untuk lebih jelasnya, berikut ini jenis-jenis imunisasi yang wajib untuk anak sesuai program pemerintah.

• Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin)
Seperti diketahui bahwa Indonesia termasuk negara endemis Tuberculosis (TBC) dan merupakan salah satu negara dengan penderita TBC tertinggi di dunia. TBC disebabkan karena kuman Mycobacterium tuberculosis, dan mudah sekali menular melalui droplet, yakni butiran air di udara yang terbawa keluar saat penderita batuk, bernapas ataupun bersin. Untuk mencegah TBC serta komplikasinya, bayi sebaiknya mendapat imunisasi BCG yang dilakukan sekali seumur hidup. Sebaiknya Imunisasi ini diberikan pada umur 2-3 bulan.

Perlu diingat, bila Ibu lupa memberikan imunisasi ini dan kemudian diberikan saat umur si Kecil sudah lebih dari 3 bulan, maka harus dilakukan uji tuberkculin terlebih dulu. Uji ini untuk mengetahui apakah di dalam tubuh anak sudah terdapat bakteri penyebab TBC atau tidak. BCG baru bisa diberikan bila hasil uji tuberkulin negatif.

• Imunisasi Hepatitis B
Banyak jalan masuknya virus Hepatitis B ke dalam tubuh si Kecil. Bisa melalui jalan lahir, sejak dalam kandungan karena Ibu mengidap penyakit hepatitis B, atau saat proses kelahiran. Cara lain bisa melalui kontak dengan darah penderita, bisa juga dari alat-alat medis yang sebelumnya sudah terkontaminasi darah dari penderita hepatitis B. Malangnya, tidak ada gejala yang jelas dan bisa dilihat dari penyakit ini. Gejala baru ada saat hati si penderita tidak lagi mampu mempertahankan metabolisme tubuh.

Upaya pencegahan yang baik yakni dengan imunisasi untuk mencegah masuknya virus. Imunisasi ini bermanfaat untuk melindungi tubuh dari virus Hepatitis B yang bisa menyebabkan kerusakan pada hari. Sebaiknya Ibu memberikan imunisasi ini dalam waktu 12 jam setelah si Kecil lahir, dan diulang kembali pada usia 1 bulan, dan 3 - 6 bulan. Perlu diingat, jarak antara pemberian pertama dengan kedua minimal 4 minggu.

• Imunisasi Polio
Belum ada pengobatan yang efektif untuk membasmi penyakit polio. Penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan yang disebabkan oleh virus poliomyelitis yang sangat menular. Penularannya bisa lewat makanan/minuman dan bisa juga air liur dari penderita polio.

Namun tidak semua orang yang terkena virus polio akan mengalami kelumpuhan karena tergantung dari keganasan virus polio dan daya tahan tubuh anak. Nah, untuk mencegahnya Ibu bisa memberikan imunisasi polio untuk kekebalan si Kecil terhadap serangan virus polio.

Sebaiknya imunisasi polio diberikan saat kunjungan pertama setelah lahir. Selanjutnya vaksin ini diberikan tiga kali yakni saat bayi berusia 2, 4, dan 6 bulan. Perlu diingat, pemberian vaksin harus diulang pada usia 18 bulan dan 5 tahun.

• Imunisasi DPT (Diphteria, Pertussis, Tetanus)
Dengan pemberian imunisasi DPT, diharapkan penyakit difteri (infeksi saluran pernafasan yang disebabkan oleh bakteri), tetanus (Infeksi bakteri pada bagian tubuh yang terluka), dan pertusis (batuk rejan biasanya berlangsung dalam waktu lama) bisa terhindar dari tubuh si Kecil. Meskipun penyakit ini sudah jarang ditemukan, tapi bila tidak ditangani dengan cepat dan tepat, bisa mengakibatkan kematian.

Sebaiknya Ibu memberikan imunisasi DPT saat bayi berumur lebih dari enam minggu setelah lahir dan pemberian selanjutnya pada usia 4 dan 6 bulan. Imunisasi DPT diberikan kembali pada usia 18 bulan dan 5 tahun. Biasanya saat usianya 12 tahun, vaksinasi akan dilakukan lagi di sekolah.

• Imunisasi campak
Sebenarnya, bayi sudah mendapat kekebalan campak dari Ibu. Namun seiring usia dan tumbuh kembang si Kecil, antibodi dari Ibu semakin menurun, sehingga butuh antibodi tambahan lewat pemberian vaksin campak. Dengan Ibu memberikan imunisasi campak, dapat melindungi anak dari penyakit campak. Sebaiknya imunisasi ini diberikan saat bayi berusia 9 bulan. Kemudian campak kedua diberikan pada saat anak sudah masuk sekolah atau berusia 6 tahun. Apabila si Kecil belum mendapat vaksin campak pada umur 9 bulan, anak bisa diberikan vaksin kombinasi dengan gondongan dan campak Jerman (MMR atau Measles, Mumps, dan Rubella) pada usia 15 bulan.