Share Like
Simpan

Menjaga si Kecil tetap sehat tentu menjadi prioritas setiap orang tua. Oleh karena itu, segala upaya akan dilakukan oleh Ibu dan Ayah agar ia terhindar dari ‘bahaya’ yang dapat menyerang sistem imun tubuhnya.

Namun tahukah Ibu, bahwa beberapa anak justru bisa memiliki reaksi berlebih pada sistem imunnya terhadap sesuatu yang bagi sebagian orang malah tidak berbahaya? Nah, kondisi yang seperti ini disebut dengan alergi, Bu. Sama seperti si Kecil. Sewaktu bermain kucing di rumah tetangga, ia malah bersin-bersin dan gatal-gatal. Langsung saya menghubungi dokter langganan saya dan menanyakan apakah itu merupakan reaksi alergi.

Ternyata betul, Bu. Alergi pada si Kecil tidak hanya disebabkan oleh makanan namun bisa juga dari udara. Jenis alergi seperti ini sering disebut dengan rhinitis. Apa saja penyebabnya? Yuk, simak bersama-sama!

  • Serbuk sari

Bu, apakah Ibu termasuk orang yang senang merawat berbagai jenis bunga? Jika iya, coba perhatikan ajak si Kecil ikut serta saat berkebun. Apabila saat mendekati bunga-bunga yang Ibu miliki dan ia sering bersin, sebaiknya Ibu hati-hati. Bisa jadi, ia memiliki alergi terhadap serbuk sari yang dihasilkan oleh tanaman. Menurut Harvard Medical School reaksi alergi ini bisa terjadi beberapa kali saja tergantung dari musim serbuk sari memuncak.

  • Tungau debu

Jika saat si Kecil ikut membantu Ibu membereskan tempat tidur kemudian ia bersin-bersin, sebaiknya segera minta ia untuk berhenti membantu Ibu dan keluar dari kamar tersebut. Hal ini disebabkan oleh kemungkinana adanya reaksi alergi terhadap tungau debu yang hidup pada butiran-butiran debu di rumah dan tidak dapat dilihat tanpa bantuan mikroskop.

Apabila Ibu melihat adanya gejala alergi pada si Kecil, rajinlah mencuci sprei atau selimut si Kecil dengan air panas per minggu supaya tungau-tungau tersebut tidak mengganggunya.

  • Jamur

Jenis alergi yang satu ini, biasanya terjadi di daerah yang cukup lembab. Sebagai pencegahan reaksi alergi pada si Kecil, Ibu bisa membuka pintu dan jendela di rumah setiap pagi agar sirkulasi udara menjadi lancar. Selain itu, hindari juga menjemur handuknya di tempat yang tidak cukup dilalui udara ya, Bu.

  • Hewan

Binatang seperti anjing atau kucing, memiliki potensi menjadi alergen karena berdarah panas. Reaksinya sendiri bisa dipicu oleh bulu yang berterbangan di sekitar si Kecil. Namun, yang paling sering memicu alergi pada seseorang adalah kucing. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan hewan ini menjilati bulunya sendiri sebagai bagian dari perawatan atau yang orang sering sebut dengan “dandan”.

Ternyata, saliva kucing yang mengering memiliki protein yang bisa menempel di kain sehingga bisa berkembang menjadi jamur. Tidak hanya itu, urin hewan yang tidak dibersihkan, juga berpotensi menjadi jamur alergen dan bisa memicu reaksi alergi pada si Kecil, lho.

Pada dasarnya, gejala munculnya alergi ini serupa namun tak sama dengan penyakit flu. Lalu, bagaimana cara membedakanya? Simak cara berikut ini ya, Bu.

  • Flu

Saat si Kecil terserang flu, cairan yang keluar dari hidungnya terlihat berwarna kekuningan dan disertai dengan bersin-bersin yang muncul di saat-saat tertentu. Biasanya,   penyakit ini juga disertai dengan demam dan dapat sembuh dalam jangka waktu dua minggu saja.

  • Alergi

Berbeda dengan gejala flu, alergi menunjukkan tanda-tanda yang lebih ringan namun sering. Seperti bersin yang berulang-ulang dalam jangka waktu yang tidak tentu tergantung seberapa sering ia bereaksi dengan alergen tersebut. Selain itu, reaksi alergi ini juga tidak disertai dengan demam serta cairan yang keluar dari hidung si Kecil tidak berwarna dan tidak pekat.

Reaksi alergi yang dialami olehnya bisa jadi merupakan kondisi bawaan dari Ibu atau Ayah. Namun, meskipun keadaan ini diturunkan secara genetika, belum tentu semua anak Ibu bisa mengidapnya juga. Bahkan, ada pula kondisi di mana si Kecil memiliki alergi sementara tidak ada riwayat serupa pada anggota keluarganya.

Oleh sebab itu, kondisi ini tidak dapat disembuhkan secara total, melainkan hanya bisa diredakan dengan obat anti-inflamasi yang disarankan oleh dokter saja. Sebaliknya, reaksi alergi ini bisa dihindari dengan cara menjauhkan si Kecil dari alergen di sekitarnya.

Semoga informasi ini berguna ya, Bu!