Share Like
Simpan

Banyak mitos yang beredar seputar imunisasi, khususnya imunisasi campak. Banyak orang menganggap pemberian imunisasi menghasilkan efek samping yang kurang baik bagi bayi. Dalam persepsi masyarakat, imunisasi dikatakan dapat menyebabkan efek samping seperti munculnya gejala kejang, demam, bahkan tidak sadarkan diri. Namun, imunisasi sangat penting bagi bayi, karena imunisasi memberikan perlindungan kekebalan terhadap penyakit.

Imunisasi campak adalah vaksin yang berisi kuman penyebab penyakit campak yang sudah dilemahkan. Selain imunisasi campak, juga ada imunisasi MMR (Mumps, Measles and Rubella) yang berguna untuk melindungi bayi dari penyakit campak, gondongan, dan rubela. Imunisasi campak diberikan dua kali, yaitu pada waktu bayi berusia sembilan bulan dan setelah berumur enam tahun.

Vaksin campak akan menyebabkan tubuh bereaksi karena kuman yang telah dilemahkan dalam vaksin merangsang kekebalan tubuh untuk bereaksi mengenali kuman campak. Tubuh akan membentuk “pasukan” perlawanan yang dinamakan antibodi. Proses kerja antibodi ini dapat menimbulkan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI); salah satunya ditandai dengan munculnya demam.

Karena vaksin campak juga bisa disertai vaksin gondong dan rubela, maka bayi akan menunjukkan beberapa gejala. Sekira 8-12 hari setelah imunisasi, bayi mengalami campak dalam bentuk ringan. Gejalanya adalah naiknya suhu badan, muncul ruam kemerahan, nafsu makan menurun, dan bayi rewel. Hal ini berlangsung sekira 2-3 hari.

Sebagian bayi juga dapat mengalami gondongan 3-4 minggu setelah imunisasi, yang ditandai pembengkakan kelenjar di leher, pipi, atau bawah rahang.

Reaksi berat seperti ensefalitis (radang otak), yang ditandai demam tinggi disertai kejang dan penurunan kesadaran pada bayi sangat jarang terjadi. Reaksi lainnya yang dapat terjadi, yaitu:

  • Bercak memar kebiruan yang muncul 2-3 minggu setelah imunisasi, bercak akan hilang dengan sendirinya.
  • Kejang, namun sangat jarang terjadi. Justru kejang demam karena penyakit campak jauh lebih sering terjadi dibandingkan kejang yang diakibatkan imunisasi.
  • Reaksi alergi, misalnya ruam (kaligata), atau jika berat dapat menyebabkan gangguan pernapasan. Reaksi ini juga sangat jarang terjadi, dan petugas medis yang memberikan imunisasi biasanya sudah dibekali persiapan penanganan keadaan ini. 

Apabila anak mengalami demam setelah imunisasi, yang dapat Ibu lakukan, yaitu:
- Bila suhu badan bayi > 38 C, kompres bayi dengan air biasa di lipatan selangkangan dan ketiak.
- Kenakan pakaian yang tipis.
- Berikan obat penurun panas.

Jika Ibu menghadapi keadaan suhu badan bayi tidak turun dengan pemberian obat penurun panas atau gejala lainya seperti gondong, ruam, atau memar yang tidak hilang, dan reaksi alergi, segera bawa bayi ke dokter.

Imunisasi campak tidak dianjurkan bagi ibu hamil, bayi dengan gangguan sistem kekebalan primer, pasien TB yang tidak diobati, pasien kanker atau transplantasi organ, bayi yang mendapat obat penekan kekebalan tubuh jangka panjang, alergi berat terhadap kanamisin dan eritromisin, serta pengidap HIV/AIDS.

Manfaat pemberian imunisasi campak jauh lebih besar daripada potensi risikonya. Penanganan KIPI relatif lebih mudah daripada mengobati campak, karena campak berisiko besar menyebabkan kematian. Selain itu, kejadian ikutan pasca imunisasinya ini angkanya relatif rendah. Jadi, Ibu tidak perlu khawatir dalam memberikan imunisasi campak kepada buah hati. Yang terpenting adalah Ibu mengawasi si Kecil untuk memastikan adanya kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai KIPI dan cara penanggulangannya, Ibu dapat berkonsultasi dengan dokter.