Whatsapp Share Like Simpan

Penyakit miom adalah benjolan atau tumor jinak yang tumbuh di rahim. Miom atau fibroid uterus dapat tumbuh di dinding rahim bagian dalam maupun bagian luar. Wanita yang mengalami penyakit miom dapat memiliki lebih dari satu buah tumor di dalam rahimnya. Gejala miom yang muncul pada penderitanya bergantung kepada ukuran, lokasi dan jumlah tumor yang terdapat pada rahim. 

Melansir healthline.com, penyakit miom diperkirakan muncul pada 20 persen wanita usia subur dan biasanya baru terdeteksi saat melakukan pemeriksaan rutin. Hal ini karena penyakit miom tidak menimbulkan gejala yang spesifik pada penderita. Pada banyak kasus, penyakit miom dapat menyebabkan gangguan kesuburan (infertilitas). Pada kasus lainnya, kondisi ini juga bisa membuat penderitanya kehilangan rahim karena harus diangkat melalui tindakan operasi. Miom terbagi ke dalam empat jenis, di antaranya:

Gejala Penyakit Miom

Dalam banyak kasus, penyakit miom tidak menimbulkan gejala pada penderitanya. Namun, jika ada gejala, maka penderitanya akan mengalami tanda-tanda berikut ini:

  • Periode menstruasi sangat panjang dengan perdarahan yang cukup banyak
  • Keluar darah menggumpal dari vagina
  • Nyeri perut bagian bawah atau bagian panggul
  • Nyeri di bagian belakang kaki
  • Nyeri selama berhubungan intim
  • Sering buang air kecil karena tekanan miom pada kantung kemih
  • Sembelit atau kembung
  • Perut membesar

Penyebab Penyakit Miom

Penyebab miom belum diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko munculnya penyakit ini, salah satunya adalah peningkatan hormon estrogen, yang terlihat pada siklus menstruasi atau kehamilan. 

Miom biasanya berkembang dari usia sekitar 16 tahun hingga 50 tahun, ketika tingkat estrogen dalam tubuh wanita sedang berada pada titik tertinggi. Namun, biasanya pertumbuhan miom akan mengalami penurunan ketika tingkat estrogen rendah, seperti setelah menopause.

Melansir laman resmi Mayo Clinic, banyak ahli juga yang menduga penyebab miom karena beberapa faktor, seperti faktor genetik, kelebihan berat badan, dan kelainan menstruasi. Sementara, faktor yang dapat menurunkan risiko terjadinya penyakit miom adalah riwayat melahirkan. Wanita yang pernah menjalani persalinan memiliki risiko lebih rendah untuk menderita penyakit miom.

Pengobatan Penyakit Miom

Pada kondisi miom yang masih kecil dan tidak menimbulkan gejala, sebenarnya tidak diperlukan pengobatan khusus karena dapat menyusut dengan sendirinya. Meski demikian, penderita miom tetap perlu menjalani pemeriksaan rutin untuk memantau kondisi miom. 

Sedangkan pada miom yang menimbulkan gejala, ada pengobatan yang perlu dilakukan, yaitu berupa terapi hormon untuk mencegah perkembangan miom dan meredakan gejalanya. Ada pula kondisi yang harus melakukan tindakan operasi untuk mengangkat miom tersebut. 

Apakah Penyakit Miom Menyebabkan Wanita Susah Hamil?

Seperti yang telah disebutkan, penyakit miom biasanya paling sering dialami oleh wanita usia subur. Melihat kondisi tersebut, banyak pula kekhawatiran bahwa kondisi ini dapat menyulitkan wanita untuk hamil. Faktanya, tak semua penderita miom akan menjadi sulit hamil. 

Kemungkinan kondisi ini tergantung dari lokasi miom yang diderita. Jika berasal dari bagian tengah otot rahim (miom intramural) dan di dalam rongga rahim (miom submukosa), kesuburan penderitanya memang dapat terganggu. Ini karena tonjolan miom ke dalam rongga rahim dapat mengubah rongga rahim, serta tubuh dapat menganggap benjolan tersebut sebagai benda asing, sehingga menjadi penghalang untuk proses implantasi, yaitu proses saat sel telur dibuahi oleh sperma.

Menurut penelitian, penyakit miom intramural dan miom submukosa dapat menurunkan kesempatan untuk hamil sekitar 70%. Namun, dengan penanganan yang tepat, salah satunya dengan melakukan operasi, maka dapat mengembalikan kesempatan hamil. 

Sementara itu, jenis miom yang terletak di luar permukaan rahim (miom subserosa) tidak memengaruhi kesuburan penderitanya. Begitu juga dengan miom intramural yang ukurannya tidak mengubah rongga rahim.

Penyakit miom intramural dan miom submukosa memiliki gejala-gejala berupa siklus haid tidak teratur, nyeri haid, serta jumlah darah haid yang berlebih. Sedangkan, miom subserosa umumnya tidak disertai gejala dan tidak terjadi gangguan saat haid. Namun, bila ukurannya semakin membesar, maka akan muncul tanda dan gejala, seperti benjolan di perut bagian bawah dan sering buang air kecil.

Fakta Penyakit Miom Saat Hamil

Penyakit miom saat hamil merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang umum terjadi. Bila muncul saat hamil, penyakit miom dapat menimbulkan nyeri perut pada akhir trimester pertama atau awal trimester kedua. Selain nyeri di perut, miom saat hamil dapat menimbulkan gejala berupa demam, mual dan muntah, serta perdarahan dari vagina.

Meski demikian, miom yang muncul saat hamil sering kali tidak menimbulkan gejala. Pada banyak kasus, kemunculan miom baru disadari saat Ibu hamil melakukan kontrol rutin ke dokter untuk pemeriksaan USG pada perut. Sebagian besar ibu hamil dengan penyakit miom tetap dapat menjalani persalinan normal. Namun, ada beberapa kondisi yang perlu Ibu waspadai, sehingga persalinan mungkin harus dilakukan dengan operasi caesar. Beberapa kondisi tersebut adalah:

  • Miom yang terletak di segmen bawah rahim sehingga menutupi jalan lahir
  • Miom yang ukurannya besar dan terletak di leher rahim atau serviks
  • Miom yang berlokasi di antara kepala janin dan serviks
  • Miom yang mengakibatkan pertumbuhan janin terhambat

Operasi caesar dilakukan jika miom dianggap akan membahayakan janin atau menyebabkan gagalnya persalinan normal. Selain akibat miom, operasi caesar juga perlu dilakukan bila memang terjadi kelainan posisi janin, misalnya posisi bayi melintang atau pembukaan yang tidak kunjung maju setelah beberapa waktu.

Penyakit miom memang cukup berpotensi menyebabkan kondisi lebih serius saat hamil. Namun, belum ada penelitian lanjutan yang dapat membuktikan pengaruh miom terhadap munculnya komplikasi berbahaya saat kehamilan. Sebab, sebagian besar Ibu hamil yang menderita miom justru tidak memiliki komplikasi saat hamil, selain munculnya rasa nyeri di perut. Namun, jika Ibu mengalami beberapa gejala di atas, sebaiknya Ibu periksa ke dokter untuk mendapat penanganan dengan tepat. 

Selain pemeriksaan ke dokter kandungan, Ibu juga tetap perlu memenuhi asupan nutrisi berkualitas, agar meningkatkan kesehatan Ibu dan tumbuh kembang bayi dalam kandungan. Salah satu nutrisi yang perlu dikonsumsi, yaitu susu khusu Ibu hamil dan Ibu menyusui, seperti susu Frisian Flag MAMA yang diformulasikan khusus Ibu hamil dan Ibu menyusui. Frisian Flag MAMA mengandung protein, serat pangan, vitamin B9 (asam folat), zat besi, dan kalsium untuk mendukung kesehatan Ibu dan si Kecil selama di dalam kandungan hingga setelah lahir.