Whatsapp Share Like Simpan

Saluran pencernaan memang masih belum berkembang dengan sempurna. Hal inilah yang menyebabkan bayi sering mengalami diare, Bu. Secara umum, diare pada bayi disebabkan oleh parasit, infeksi bakteri, dan virus (rotavirus) yang menyerang sistem pencernaan.

Meski merupakan penyakit yang umum dialami oleh bayi, tapi Ibu sebaiknya tidak menyepelekannya, ya. Jika dibiarkan terlalu lama, diare bisa berdampak buruk bagi bayi. Untuk mencegah kemungkinan buruk tersebut, Ibu perlu tahu secara lengkap hal-hal yang berkaitan dengan diare pada bayi, mulai dari penyebab, gejala, hingga cara mengatasinya. Berikut informasi selengkapnya untuk Ibu:

Apakah Faktor Penyebab Diare pada Bayi?

Bayi bisa mengalami diare karena di dalam saluran pencernaannya terdapat infeksi bakteri, parasit, atau virus. Namun secara umum, diare pada bayi disebabkan karena adanya kontaminasi antara bakteri dan kuman yang masuk ke dalam mulutnya melalui benda atau mainan. Hal ini rentan terjadi karena bayi gemar memasukkan berbagai macam benda ke mulutnya sebagai cara ia mengenali benda tersebut.

Bayi juga bisa mengalami diare saat ia alergi terhadap jenis obat atau makanan tertentu. Hal ini karena sistem pencernaannya intoleran terhadap obat atau makanan tersebut sehingga menimbulkan reaksi berupa diare. Jika bayi diare karena alergi, biasanya akan disertai dengan gejala lainnya, seperti ruam kemerahan dan gatal di kulit, sesak nafas, sulit menelan, atau bengkak pada mata dan bibir.

Apa Saja Gejalanya?

Untuk melihat gejala saat bayi terserang diare ini cukup mudah, Bu. Inilah beberapa gejala yang biasanya mengindikasikan diare pada bayi:

Artikel Sejenis

  1. Frekuensi buang air besar meningkat minimal lima kali sehari.
  2. Tekstur feses cair seperti air.
  3. Feses juga berbau menyengat.
  4. Perut terasa sakit.
  5. Bayi tampak rewel dan lesu.
  6. Cekung pada bagian bawah mata.
  7. Bibir kering.

Diare yang berlebihan tanpa diimbangi jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh bisa menyebabkan bayi mengalami dehidrasi. Sangat penting untuk melakukan deteksi dini apakah bayi dehidrasi atau tidak. Caranya adalah dengan mencubit pelan perutnya. Apabila kulit yang dicubit tidak segera kembali, tandanya ia memang dehidrasi, Bu. Namun jika langsung kembali, berarti ia masih cukup cairan. Jangan tunda ke dokter saat frekuensi BAB bayi semakin meningkat, bayi sangat rewel, menolak minum, serta terlihat haus dan lesu.

Baca juga: Jenis Buah dan Asupan Makanan yang Ampuh Untuk Obat Diare Anak

Bagaimanakah Cara Mengatasinya?

Dehidrasi adalah dampak terburuk pada bayi yang terserang diare. Oleh karenanya, sangat penting untuk mencegah bayi mengalami dampak tersebut, Bu. Caranya adalah dengan mencukupi asupan cairan bayi. Untuk bayi berusia 0-6 bulan, tingkatkan intensitas menyusuinya dengan ASI atau susu tambahan. Untuk susu tambahan ini sebaiknya kurangi tingkat kekentalannya atau gantilah dengan susu yang tidak mengandung laktosa untuk sementara waktu. Tujuannya supaya kerja usus tidak terlalu berat dan dapat membuat diarenya semakin parah.

Sementara bagi bayi yang sudah berusia 6 bulan ke atas boleh diberi tambahan air putih dan jus buah yang efektif menghentikan diare, seperti apel, jambu biji, dan blueberry. Hentikan dulu pemberian makanan kaya serat, seperti daging, keju, dan sayuran karena dapat memperparah diare pada bayi.

Selain mencukupi kebutuhan cairan bayi, Ibu juga sebaiknya diberi oralit yang bisa dibuat sendiri dari campuran air, gula, dan garam. Oralit akan membantu menggantikan elektrolit dan cairan tubuh yang hilang saat bayi diare.

Langkah Mencegah Bayi Terserang Diare

Bayi memang belum bisa mengetahui bahwa dirinya tidak boleh sembarangan memasukkan benda ke dalam mulutnya sehingga membuatnya rentan terserang infeksi bakteri dan virus penyebab diare. Namun Ibu masih bisa melakukan beberapa langkah pencegahan agar bayi tidak mudah terkena diare, dengan cara sebagai berikut:

  • Rajin mencuci tangan bayi. Kebiasaan mengemut tangan adalah fase yang umum dialami oleh bayi. Jadi, Ibu harus rajin mencuci tangan bayi setelah ia beraktivitas, sebelum makan, dan setelah mengganti popoknya.
  • Menjaga kebersihan peralatan makan dan mainan bayi. Benda-benda yang sering disentuh oleh bayi ini harus selalu dijaga kebersihannya dengan cara mencucinya menggunakan sabun khusus bayi, lalu disimpan di tempat yang bersih dan tertutup.
  • Cuci tangan terlebih dulu sebelum menggendong bayi. Kebersihan tangan juga harus diterapkan pada Ibu atau siapapun yang akan menggendong bayi, supaya kuman yang menempel pada tangan tidak berpindah ke bayi.
  • Memperhatikan proses pengolahan makanan dan peralatan memasaknya. Pada bayi yang sudah makan MPASI, proses pengolahan makanan harus sangat diperhatikan. Cucilah tangan dengan sabun sebelum memasak dan cuci bahan makanan menggunakan air mengalir. Begitu pula dengan peralatan memasaknya harus dicuci dengan bersih untuk menghindari infeksi kuman.
  • Menjaga kebersihan lantai. Ketika bayi sering bermain di lantai atau sudah bisa merangkak, maka kebersihan lantai harus sangat dijaga. Sapu dan pel lantai setiap hari menggunakan cairan khusus lantai yang dapat membunuh kuman.
  • Memberikan vaksin Rotavirus. Saat bayi berusia di bawah 6 bulan, dokter anak biasanya akan menjadwalkan untuk imunisasi Rotavirus yang bertujuan menurunkan risiko bayi terserang diare dalam kondisi parah. Jadi, jangan sampai melewatkan pemberian vaksin ini ya, Bu.

Diare pada bayi yang tergolong ringan tidak membutuhkan obat-obatan, Bu. Bayi hanya perlu dirawat di rumah dengan mencukupi asupan cairan dan makanan agar ia terhindar dari dehidrasi. Namun pada kasus yang akut, Ibu sebaiknya segera membawa bayi ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Bagi Ibu yang ingin berkonsultasi seputar bayi, bisa langsung berkunjung ke laman Tanya Pakar, ya. Para ahli di sana akan membantu menjawab pertanyaan Ibu. Untuk bisa menggunakan fitur tersebut, jangan lupa untuk registrasi terlebih dulu.

Sumber:

Popmama