Share Like
Simpan

Bu, pernahkah si Kecil menunjukkan keanehan pada indera penglihatannya? Seperti sulit melihat sebuah objek dengan fokus, atau sulit mengikuti arah gerak mainan yang Ibu pegang?

Nah, kebetulan salah satu tetangga saya yang baru saja melahirkan mengalami hal serupa, Bu. Ia menanyakan kepada saya apakah gerakan mata si Kecil tersebut normal atau tidak. Dulu, saya pernah membaca sebuah artikel di internet mengenai cara mendeteksi gangguan mata pada anak. Di situ memang tertulis apabila terlihat tanda-tanda yang cukup janggal pada penglihatan si Kecil, sebaiknya segera periksakan ke spesialis mata.

Di artikel tersebut, ada juga pembahasan mengenai cara-cara yang bisa Ibu gunakan untuk mendeteksi masalah pada matanya. Berikut adalah informasi selengkapnya:

  • Perhatikan arah fokus mata

Apabila si Kecil terlihat seperti memiliki gangguan penglihatan, misalnya sulit fokus pada sebuah objek, bisa jadi ini merupakan sebuah gejala dari strabismus atau mata juling.

  • Pergerakan mata yang cepat dari sisi ke sisi

Normalnya, gerakan mata si Kecil tidaklah begitu cepat dan cenderung mengikuti gerakan objek yang dilihat. Namun, apabila pergerakan bola matanya terlihat cukup cepat dari satu sisi ke sisi lain atau bahkan melihat sembarang ke segala arah, segera periksakan ke dokter ya, Bu.

  • Si Kecil tidak bereaksi saat melihat cahaya

Sewaktu melihat lampu kamarnya dinyalakan, seringkali Ibu menjumpai reaksi dari si Kecil seperti kaget atau bahkan melihat ke arah sumber cahaya. Nah, jika ia tidak menunjukkan reaksi apapun, Ibu perlu mewaspadai adanya gangguan pada bagian mata, lho.

  • Terdapat titik berwarna putih pada mata si Kecil

Jika Ibu memotret wajahnya menggunakan flash, biasanya akan terlihat titik merah yang sering disebut sebagai red-eye. Namun, apabila yang muncul justru titik berwarna putih, sebaiknya segera hubungi spesialis mata, ya. Bisa jadi, si Kecil terkena retinoblastoma atau kanker mata.

  • Ukuran bola mata yang berbeda

Apabila pada normalnya bola mata atau pupil memiliki ukuran yang sama, waspadai tanda-tanda si Kecil memiliki gangguan jika salah satu matanya berukuran lebih besar.

Setelah membaca dan mengaplikasikannya kepada si Kecil yang masih berusia 2 bulan dulu, saya sempat khawatir karena ia tidak menunjukkan reaksi terhadap cahaya yang saya arahkan ke matanya. Langsung saya menghubungi dokter spesialis mata dan kebetulan hari itu dokter sedang praktek.

Saat berkonsultasi, saya sempat ditanya beberapa pertanyaan perihal riwayat kesehatan keluarga maupun gangguan yang terjadi saat proses kelahiran. Ternyata gangguan mata pada si Kecil ini bisa terjadi karena berbagai hal, Bu. Seperti: 

  • Adanya gangguan pada saraf pada otak yang berfungsi mengontrol penglihatan.
  • Selama hamil, Ibu mengalami infeksi yang disebabkan oleh virus rubella, cytomegalovirus, atau toksoplasmosis.
  • Terdapat riwayat penyakit genetik yang berhubungan dengan mata, seperti retinoblastoma atau katarak. Jika salah satu anggota keluarga Ibu ada yang mengalami masalah penglihatan seperti ini, sebaiknya tanyakan kepada dokter terkait perihal kemungkinan menurun pada si Kecil.
  • Kelahiran prematur yang memungkinkan ia memiliki masalah pada penglihatannya.

Untungnya, setelah melakukan pemeriksaan, gangguan pada mata si Kecil ini masih terbilang ringan dan hanya butuh terapi selama beberapa pertemuan tanpa perlu melakukan operasi. Baiknya lagi, saya disarankan untuk terus melatih kemampuan matanya di rumah sebagai bagian dari pemulihan. Caranya cukup sederhana, kok. Bisa dengan menggerakkan objek tertentu dan lihat arah fokus matanya atau bermain cilukba. Tidak hanya itu, melalui latihan rutin seperti ini, bisa membantu mencegah si Kecil menggunakan kacamata saat ia tumbuh besar nanti lho, Bu.

Terima kasih sudah membaca artikel ini ya, Bu. Semoga si Kecil sehat selalu!