Whatsapp Share Like Simpan

Bayi masih memiliki kulit yang sensitif dan sistem imun yang lemah sehingga membuatnya berisiko terkena alergi. Alergi pada bayi bisa disebabkan oleh makanan, hewan, dan zat kimia. Pada bayi yang memiliki riwayat alergi dari keluarga, kulit sensitif, eksim, maupun asma akan sangat mudah mengalami iritasi pada kulitnya.

Alergi bisa terjadi saat sistem imun melepaskan histamin sebagai respon terhadap alergen. Sebagai hasilnya, tubuh akan mengalami reaksi peradangan sehingga muncul ruam, gatal, atau bengkak pada kulit. Gejala-gejala tersebut tentu bisa membuat bayi merasa tidak nyaman. Makanya, Ibu harus berusaha mengatasi alergi pada bayi tersebut.

Kenali Dulu Pemicunya

Sebelum bisa mengatasi alergi yang menyerang bayi, Ibu harus mengetahui dulu apa yang menjadi pemicunya. Biasanya, alergi pada bayi disebabkan oleh beberapa faktor berikut ini, Bu:

  • Makanan. Ada beberapa makanan yang kerap memicu alergi, seperti kacang-kacangan, susu sapi, telur, makanan laut, dan gandum. Saat bayi memiliki alergi terhadap makanan, ia akan menunjukan gejala berupa:
    • Batuk
    • Gatal atau ruam pada kulit
    • Diare
    • Sakit perut
    • Mual atau muntah
    • Hidung meler
    • Sulit bernapas
    • Sesak di tenggorokan
    • Bengkak pada wajah, tangan, atau kaki
    • Pingsan

Pada kasus alergi makanan yang parah, bayi bisa mengalami kesulitan bernapas dan penurunan tekanan darah yang drastis hingga dapat menyebabkan syok. Saat bayi syok, ia akan terlihat pucat, pusing, dan kulit lembab. Jika sudah begini, bayi harus segera mendapatkan perawatan medis supaya gejala alerginya tidak bertambah serius.

  • Tungau debu. Banyak terdapat pada boneka dan kain, seperti gorden, sprei, dan kasur. Gejala yang muncul antara lain:
  • Zat kimia. Biasanya terdapat pada detergen, sampo, atau sabun yang rentan dialami oleh bayi yang memiliki kulit sensitif. Gejalanya muncul pada kulit, berupa:
    • Gatal-gatal
    • Ruam kemerahan
    • Kulit kering
    • Kulit melepuh
    • Kulit terasa perih
    • Kulit berubah warna menjadi gelap
    • Bengkak pada wajah, muka, atau selangkangan
  • Bulu hewan. Bulu hewan yang halus bisa menyebabkan alergi pada bayi dengan gejala diantaranya:
    • Bersin
    • Gatal-gatal
    • Sesak nafas
    • Hidung gatal dan berair
    • Mata berair dan membengkak
    • Ruam dan gatal di kulit
    • Bengkak di bawah mata

Solusi untuk Mengatasinya

Setelah melihat tanda-tanda yang muncul dan mengetahui penyebabnya, Ibu bisa melakukan beberapa langkah berikut untuk mengatasi alergi pada bayi:

Artikel Sejenis

  • Menjaga kebersihan rumah. Bayi yang sensitif harus mendapatkan perawatan yang ekstra. Kebersihan rumah dan lingkungan di sekitarnya harus selalu terjaga. Untuk itu, Ibu sebisa mungkin rutin membersihkan rumah agar bebas dari debu. Singkirkan barang-barang yang tidak terpakai untuk menghindari tumpukan debu. Untuk kain atau bulu, Ibu bisa menyedot debunya secara berkala menggunakan vacuum cleaner.
  • Menjauhkan bayi dari alergen. Pada bayi yang alergi terhadap bulu hewan, maka sebaiknya Ibu menjauhkannya dari hewan-hewan yang berbulu, seperti anjing, kucing, kelinci, dan sebagainya. Jika ingin memberikan hewan peliharaan, pilihlah ikan yang cenderung lebih aman dan tidak menimbulkan alergi. Sedangkan bayi yang alergi terhadap makanan tertentu, hindari memberikan makanan tersebut hingga usianya 1 tahun.
  • Menjaga kelembaban kulit bayi. Kulit yang kering lebih berisiko menyebabkan gatal dan ruam menjadi lebih parah. Jadi, Ibu harus menjaga kelembaban kulit bayi, terutama setelah memandikannya. Ibu sebaiknya memilih krim atau salep khusus untuk bayi. Dibandingkan dengan lotion, krim atau salep mengandung minyak yang dapat menempel di kulit dengan lebih baik, sehingga bisa memberikan kelembaban yang lebih baik.
  • Menggunting kuku bayi. Gatal yang timbul pada kulit karena alergi pasti akan membuat bayi ingin selalu menggaruknya. Ibu pasti akan susah untuk melarang bayi, jadi sebagai langkah pencegahan Ibu bisa menggunting kukunya supaya tidak tajam. Gatal yang terus digaruk dengan kuku tajam bisa menyebabkan kulitnya menjadi lecet sehingga menimbulkan rasa perih.
  • Memilih produk perawatan bayi khusus. Untuk bayi yang sensitif terhadap zat kimia, maka Ibu disarankan untuk memilih produk perawatan bayi yang hypoallergenic atau mengandung zat khusus supaya tidak memicu alergi pada bayi. Bacalah label pada kemasan produk dan pilihlah produk yang tidak mengandung pewarna, pewangi, dan terbuat dari bahan alami.
  • Memandikan air hangat. Saat alergi bayi kambuh, mandikan ia dengan air hangat guna meredakan rasa gatal di kulit. Mandikan bayi selama 3-5 menit saja. Mandi yang terlalu lama bisa menyebabkan kulit menjadi kering. Setelah mandi, keringkan secara lembut dengan handuk yang lembut dan bersih, lalu oleskan krim pada kulitnya.

Mencegah Bayi Mengalami Alergi

Alergi memang sulit untuk dihindari dan akan berkurang bahkan hilang sendiri seiring bertambahnya usia bayi. Namun, Ibu masih bisa mengupayakan agar bayi tidak sering mengalami alergi melalui beberapa cara di bawah ini:

  • Perkenalkan makanan secara perlahan. Bayi yang baru memulai MPASI sebaiknya diperkenalkan pada makanan baru secara bertahap dan perlahan. Berikan makanan baru selama seminggu untuk melihat apakah terdapat reaksi alergi atau tidak terhadap makanan tersebut. Apabila aman, barulah Ibu boleh memperkenalkannya dengan makanan baru lainnya.
  • Lindungi bayi. Apabila bayi berisiko tinggi memiliki asma atau alergi, maka Ibu sebaiknya mengurangi paparan ia terhadap tungau debu sejak dini. Hal ini akan membantu mencegah bayi mengalami asma dan alergi di masa depan. Cara untuk mengurangi paparan tersebut bisa dengan menggunakan alas tidur yang tahan air yang harus rutin dibersihkan dengan air panas.

 

Itulah beberapa informasi yang terkait dengan alergi pada bayi, Bu. Ibu juga sebaiknya berkonsultasi pada dokter untuk membantu mengatasi alergi yang dialami oleh bayi. Sementara itu, terapkan langkah-langkah dalam merawat alergi bayi seperti di atas. Semoga informasi ini dapat membantu masalah Ibu.

Jika ibu memiliki pertanyaan lain seputar nutrisi maupun tumbuh kembang anak, silahkan berkunjung ke laman Tanya Pakar. Para ahli di sana akan menjawab pertanyaan Ibu secara langsung. Untuk dapat menggunakan fitur tersebut, jangan lupa untuk registrasi terlebih dulu ya, Bu.


Sumber:

Orami

Docdoc