Whatsapp Share Like Simpan

Bu, apakah bayi tiba-tiba muncul ruam merah pada kulit, bersin-bersin, atau gatal-gatal setelah makan? Hati-hati, Bu, bisa jadi si kecil terserang alergi makanan yang akan menimbulkan beberapa gejala. Anak-anak memang rentan mengalami alergi. Apalagi kalau orang tua atau ada anggota keluarga lainnya yang juga memiliki alergi, maka ia pun lebih berisiko tinggi mengalaminya.

Pada kasus tertentu, alergi makanan bisa sangat membahayakan, sehingga Ibu tidak boleh menyepelekannya. Nah, untuk menghindari kemungkinan buruk tersebut, Ibu perlu tahu lebih banyak seputar alergi makanan pada bayi yang bisa Ibu baca pada uraian di bawah ini:

Mengenal Alergi Makanan

Alergi makanan merupakan sebuah kondisi di mana daya tahan tubuh mengalami perubahan setelah mengkonsumsi jenis makanan tertentu. Jadi, bayi yang terserang alergi karena makanan atau zat di dalamnya dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya. Sebagai akibatnya, bayi akan mengalami beberapa ciri khas alergi makanan.

Alergi akibat makanan umumnya tidak dapat diketahui secara langsung. Di sinilah Ibu harus lebih waspada ketika muncul reaksi alergi pada bayi supaya di kemudian hari dapat memperkecil resiko munculnya gejala alergi tersebut.

Penyebab Alergi Makanan pada Bayi

Seperti yang sudah disinggung di atas, bayi bisa terserang alergi makanan karena makanan yang ia konsumsi dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya oleh tubuhnya. Selanjutnya, sistem imun pun menganggap makanan tersebut sebagai sebuah zat asing yang mampu menyebabkan penyakit. Sistem imun kemudian bereaksi dengan memproduksi immunoglobulin E (IgE) untuk menangkal zat asing tersebut.

Artikel Sejenis

Dengan demikian, setiap bayi mengkonsumsi makanan tertentu yang menyebabkan alergi, antibodi akan mengirimkan sebuah tanda supaya sistem imun meresponnya. Respons tersebut adalah dengan mengeluarkan histamin dan berbagai zat kimia lainnya ke aliran darah sampai akhirnya timbullah ciri-ciri alergi makanan pada bayi.

Kapan Alergi Akibat Makanan pada Bayi Dapat Terdeteksi?

Biasanya, alergi akibat makanan mulai muncul pada usia bayi dan di awal usia anak. Namun yang perlu menjadi catatan Ibu, reaksi alergi setiap bayi akan berbeda-beda. Ada yang langsung menunjukkan reaksi ketika pertama kali mengkonsumsi, tapi ada juga yang memerlukan waktu agar reaksi alerginya dapat muncul. Umumnya tubuh bayi memerlukan waktu selama beberapa bulan agar alerginya dapat berkembang.

Alergi Makanan Bisa Hilang dengan Sendirinya?

Beberapa alergi makanan seperti alergi gandum, alergi kacang kedelai, susu sapi, hingga telur umumnya akan bisa diatasi oleh tubuh anak seiring dengan pertumbuhan dan pertambahan usia. Beberapa penelitian juga menyatakan jika protein penyebab alergi makanan pada bayi bisa dikelola oleh tubuh anak dalam rentang waktu tertentu yang berbeda pada setiap anak.

Namun, ada juga alergi makanan yang tidak bisa hilang dengan sendirinya. Beberapa anak yang mengalami alergi makanan seperti kerang, udang, ikan, berpotensi akan terus mengalami alergi makanan ini hingga dewasa. Pahami apa saja alergi makanan yang diderita si kecil dan hindari bahan makanan penyebab alergi makanan tersebut. Berikan variasi makanan pada bayi agar kebutuhan vitamin dan zat-zat penting lainnya untuk pertumbuhan bisa terpenuhi.

Baca Juga: Efek Dahsyat Pikiran dan Kata Terhadap Anak

Samakah Alergi Makanan dengan Intoleransi Makanan?

Samakah Alergi Makanan dengan Intoleransi Makanan?Intoleransi makanan dan alergi makanan adalah hal yang berbeda, Bu. Alergi makanan bisa terjadi karena sistem kekebalan tubuh menunjukkan respon yang berlebihan terhadap senyawa dalam makanan tertentu sebagai zat yang berbahaya. Pada bayi dan anak, alergi makanan bisa bersifat akut (secara tiba-tiba) maupun kronis (berlangsung lama).

Sedangkan intoleransi pada makanan itu tidak ada hubungannya dengan sistem kekebalan tubuh, melainkan akibat tubuh tidak mampu mencerna senyawa tertentu di dalam makanan, misalnya laktosa yang ada di dalam susu sapi.

Baca juga: Pencegahan Alergi Terhadap Makanan

Gejala Alergi Makanan pada Bayi

Saat bayi mengalami alergi akibat makanan, maka biasanya akan muncul beberapa gejala. Namun gejala bayi satu dan lainnya tidak selalu sama. Bayi bisa mengalami gejala pada salah satu bagian tubuh, tapi juga bisa lebih dari satu. Berikut beberapa bagian tubuh yang sering menunjukkan reaksi alergi beserta gejala-gejalanya:

Pada pencernaan:

  • Sakit perut
  • Diare
  • Mual
  • Muntah

Pada pernapasan:

  • Sakit tenggorokan
  • Bersin
  • Pilek
  • Sesak nafas
  • Hidung tersumbat
  • Mengi

Pada kulit:

  • Muncul ruam pada kulit yang terasa gatal.
  • Bengkak pada beberapa bagian tubuh, seperti bibir, lidah, dan wajah.
  • Muncul bintik-bintik merah seperti bekas gigitan nyamuk.

Pada sirkulasi darah:

  • Hilang kesadaran
  • Hilang keseimbangan
  • Kulit terlihat pucat

Pada kasus tertentu, bayi mungkin juga bisa mengalami anafilaksis, yakni sebuah kondisi saat tubuh menunjukkan reaksi yang cukup berat hingga bisa menyebabkan kematian. Gejala anafilaksis tersebut bisa berupa:

  • Denyut jantung meningkat cepat
  • Pingsan
  • Tekanan darah menurun
  • Napas cepat
  • Wajah, bibir, mulut, dan tenggorokan membengkak
  • Kulit ruam dan gatal di hampir seluruh tubuh

Untuk gejala alergi yang gawat seperti ini, bayi harus segera mendapatkan pertolongan medis supaya tidak terlambat dan bisa mengancam keselamatannya.

Daftar Makanan yang Sering Mengakibatkan Alergi

Beberapa makanan sering menyebabkan alergi pada bayi. Contohnya adalah sebagai berikut:

  • Seafood, seperti lobster dan udang
  • Ikan, seperti kod, salmon, dan tuna
  • Gandum
  • Kacang tanah
  • Susu sapi
  • Telur
  • Kacang pohon, seperti kacang mete, pistachio, dan kenari
  • kedelai

Kacang-kacangan dan seafood adalah jenis makanan yang kerap memicu reaksi alergi yang berat. Para ahli akan menyarankan untuk memberikan makanan tersebut hingga bayi sudah berusia setidaknya 3 tahun. Meski begitu, beberapa alergi makanan dapat hilang ketika anak sudah menginjak usia 5 tahun, seperti alergi susu, telur, kedelai, dan gandum. Namun, makanan seperti seafood dan kacang-kacangan ini sangat sedikit yang bisa sembuh bahkan hingga anak berusia dewasa.

Adapun, untuk makanan seperti telur, terutama bagian putih telur bisa menyebabkan reaksi alergi makanan. Akibat yang bisa ditimbulkan berupa rasa gatal, kulit tampak kemerahan, hingga bengkak-bengkak. Sementara untuk kacang tanah yang bisa menyebabkan alergi makanan dapat menimbulkan rasa gatal pada tubuh bayi.

Untuk gandum, alergi makanan karena makanan yang mengandung gandum seperti roti atau sereal, bisa mengakibatkan berbagai gejala alergi seperti gatal-gatal, sesak napas dan mual, termasuk reaksi alergi fatal yang disebut anafilaksis. Kemudian untuk ikan, bisa menyebabkan reaksi alergi pada sebagian bayi.

Oleh karena itu, sebaiknya jangan memberikan ikan pada bayi sebelum usianya 6 bulan karena masih dalam masa pemberian ASI eksklusif. Setelah usia bayi sudah 8 atau 12 bulan, ikan bisa menjadi bagian dari menu yang seimbang.

Sementara itu, jenis kerang-kerangan termasuk lobster, udang, dan kepiting bisa menimbulkan gejala alergi makanan berupa urtikaria (gatal di kulit), angioedema (bengkak-bengkak), asma atau kombinasi dari beberapa kelainan tersebut. Alergi makanan karena ikan laut biasanya paling mudah dideteksi karena gejala yang ditimbulkan realtif lebih cepat muncul.

Cara Mengatasi Alergi Makanan pada Bayi

Cara Mengatasi Alergi Makanan pada BayiPenting bagi Ibu untuk meneliti dengan cermat setelah bayi diberi MPASI. Ketika bayi menunjukkan gejala adanya alergi pada makanan, maka sebaiknya segera berkonsultasi pada dokter agar ia mendapatkan penanganan medis yang tepat.

  • Hindari memberi makanan sumber alergi. Penanganan paling mudah untuk mengatasi alergi pada bayi adalah dengan menghindari makanan yang cenderung menyebabkan alergi. Tunda pemberiannya hingga ia setidaknya berusia 3 tahun.
  • Teliti memilih makanan olahan. Termasuk pada makanan olahan bayi, Ibu harus teliti membaca komposisi bahan yang ada di dalamnya. Baca label kemasan untuk menghindari jenis makanan tertentu yang rentan menyebabkan alergi.
  • Rekomendasi obat dari dokter. Saat bayi sudah menunjukkan gejala, maka dokter biasanya akan memberikan resep obat untuk mengobatinya. Untuk reaksi yang tergolong ringan hingga sedang, obat yang direkomendasikan adalah antihistamin. Obat ini bisa berbentuk tablet, cairan, dan gel yang diberikan setelah gejala alergi mulai muncul. Sementara untuk gejala yang sudah parah, biasanya dokter akan memberi suntikan epinefrin yang disuntikkan ke paha.
  • Bayi yang mengonsumsi susu formula cenderung memiliki risiko lebih tinggi mengalami alergi makanan, dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan ASI. Hal ini disebabkan susu formula bisa menjadi salah satu penyebab alergi makanan. Tunda pemberian susu formula jika diperlukan, namun Ibu juga perlu memerhatikan apakah alergi makanan yang dialami si kecil disebabkan karena makanan yang dikonsumsi oleh Ibu dan diterima bayi melalui ASI.
  • Memperkenalkan makanan secara bertahap bisa menjadi langkah penangan lain jika bayi mengalami alergi makanan. Hal ini penting dilakukan agar Ibu mengetahui makanan apa yang membuat si kecil terkena alergi makanan.
  • Memberikan makanan dengan risiko pemicu alergi makanan terkecil bisa menjadi cara selanjutnya untuk diterapkan Ibu. Bubur beras adalah makanan yang direkomendasikan sebagai makanan awal bagi bayi, termasuk juga sayuran umumnya memiliki risiko alergi makanan yang kecil. Namun, pastikan Ibu tetap memberikan makanan yang memenuhi gizi seimbang agar si kecil mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.

Ibu sebaiknya berhati-hati ketika buah hati sudah menunjukkan gejala-gejala alergi makanan seperti yang disebutkan di atas. Selalu selektif dalam memilih makanan untuk MPASI bayi guna menghindari reaksi alergi adalah langkah pencegahan yang bisa Ibu lakukan. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bu.

Bagi Ibu yang ingin berkonsultasi seputar anak langsung dengan ahlinya, bisa mengunjungi laman Tanya Pakar. Untuk bisa menggunakan fitur tersebut, jangan lupa untuk registrasi dulu ya, Bu.

 

Sumber: Hellosehat