Whatsapp Share Like
Simpan

Penyakit kuning pada bayi, atau yang disebut juga dengan jaundice, sering terjadi pada bayi yang baru lahir. Warna kuning ini akan terlihat pada kulit dan mata bayi. Dalam keadaan normal, kondisi bayi kuning dapat berkurang dalam kurun waktu 2 minggu dengan cara dijemur di bawah sinar matahari pagi dan banyak diberi ASI. Bagaimana jika kondisi tersebut berlangsung hingga usia bayi 1 bulan? Apakah hal tersebut masih termasuk normal ataukah berbahaya? Ibu bisa mengetahui jawabannya melalui uraian di bawah ini:

Apa Penyebabnya?

Saat lahir, bayi memiliki kadar sel darah yang tinggi di mana kondisi tersebut dapat memicu produksi bilirubin (pigmen berwarna kuning kecoklatan di dalam empedu, tinja, dan darah). Jika jumlah bilirubin tersebut tinggi, maka dapat menyebabkan bayi terlihat kekuningan.

Saat bayi masih berada di dalam kandungan, sebenarnya tubuh Ibu mengeluarkan bilirubin untuk bayi melalui plasenta. Namun setelah lahir, organ hati bayi tidak bisa melakukannya karena belum berkembang secara sempurna. Akibatnya, proses pembuangan bilirubin yang seharusnya melalui air kencing dan feses pun jadi terhambat.

Penyakit kuning ini akan terlihat 24 jam setelah ia lahir dan di hari keempat kondisinya akan memburuk. Barulah setelah bayi berusia seminggu, kondisinya akan mulai membaik.

Selain disebabkan oleh jumlah bilirubin, penyebab bayi kuning juga bisa karena beberapa hal berikut:

Artikel Sejenis

  1. Infeksi virus dan bakteri
  2. Kerusakan hati
  3. Kekurangan enzim tertentu
  4. Pendarahan internal
  5. Sepsis
  6. Gangguan sistem pencernaan
  7. Rhesus dan golongan darah antara ibu dan bayi tidak cocok
  8. Ketidaknormalan sel darah merah sehingga mudah rusak

Penyakit kuning rentan menyerang bayi yang terlahir prematur (sebelum 37 minggu), terlahir dalam kondisi memar, atau yang kesulitan mengonsumsi ASI.

Akibat Bilirubin Terlalu Tinggi

Jika bayi Ibu terlihat kuning, Ibu harus mengecek kadar bilirubin yang dimilikinya ke dokter. Kadar normal bilirubin adalah di bawah 13. Jika kadarnya lebih dari angka tersebut, maka dapat berakibat fatal pada bayi, antara lain:

  • menembus ke otak
  • merusak sel-sel otak
  • menyebabkan ensefalopati (kelainan struktur atau fungsi otak yang disebabkan suatu penyakit)

Gejala yang akan terlihat adalah sebagai berikut:

  • Demam
  • Kulit menguning
  • Muntah
  • Lesu
  • Sering gelisah dan rewel
  • Tidak mahir menghisap payudara atau dot
  • Sulit bangun tidur
  • Leher dan tubuh melengkung ke belakang

Kapan Perlu ke Dokter?

Berdasarkan data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Amerika Serikat, sebanyak 60% bayi baru lahir mengalami penyakit kuning. Setelah dilakukan penanganan yang tepat, maka setelah 2 minggu kondisi bayi akan mulai membaik. Namun jika sudah melebihi waktu tersebut, Ibu sebaiknya melakukan pengecekan ke dokter untuk mengetahui apa penyebab bilirubin bayi masih tinggi.

Bayi kuning yang jumlah kadar bilirubinnya tinggi dan melebihi batas waktu normal mungkin menjadi pertanda suatu penyakit. Bayi bisa mengalami kernicterus, yaitu kerusakan otak akibat kadar bilirubin menumpuk di otak dan menyebabkan gangguan, tuli, dan cerebral palsy (lumpuh otak).

Breast Milk Jaundice

Kemungkinan lainnya bayi kuning hingga usia 1 adalah ia mengalami breast milk jaundice. Apa itu? Breast milk jaundice adalah kondisi di mana bayi memiliki kadar bilirubin tinggi yang biasanya timbul saat bayi berusia sekitar seminggu dan akan memuncak pada hari ke-10 hingga ke-21. Penyebab dari kondisi ini belum diketahui secara pasti, tapi kalangan medis mendiagnosa bahwa suatu zat yang terkandung dalam ASI yang bernama Beta Glucuronidase mengurangi kemampuan hati bayi untuk mengurangi kadar bilirubin di dalam tubuhnya.

Breast milk jaundice adalah hal yang normal dan biasanya hanya terjadi paling lama tiga bulan. Dalam kurun waktu tersebut, bayi mungkin akan terlihat normal. Banyak minum ASI, sehat, aktif, lincah, responsif, kenaikan BB-nya baik, BAB sering, dan BAK berwarna bening, tapi karena bilirubinnya tetap tinggi maka mata dan kulitnya tetap terlihat kuning.

Bayi yang mengalami kondisi ini harus tetap diberi ASI yang mencukupi. Ibu juga harus memantau frekuensi buang air bayi, yaitu BAK lancar (minimal 6 kali sehari) dan BAB juga lancar (3 kali sehari). Jika Ibu mendapati kondisi bayi yang terlihat lemas, tidak mau menyusu, dan frekuensi buang airnya di bawah normal, sebaiknya lekas membawa bayi ke dokter, Bu. Semakin cepat ia didiagnosa, maka semakin cepat pula penanganan yang akan ia dapatkan untuk bisa disembuhkan.

Berdasarkan informasi di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa bayi kuning bisa menjadi hal yang normal jika tidak disertai dengan gejala-gejala tertentu. Namun jika kondisinya sudah terlihat tidak wajar, meminta penanganan medis secepatnya adalah langkah terbaik yang bisa Ibu lakukan. Semoga informasi ini dapat bermanfaat ya, Bu.

Ibu masih memiliki pertanyaan seputar anak? Tanyakan saja di laman Tanya Pakar, Bu. Semua pertanyaan Ibu akan dijawab langsung oleh para ahlinya. Untuk bisa menggunakan fitur ini, pastikan Ibu sudah registrasi terlebih dahulu.

Sumber:

www.alodokter.com, aimi-asi.org