Whatsapp Share Like Simpan

Selain bermanfaat untuk menenangkan dan menghangatkan, bedong bayi juga dipercaya mampu mengurangi refleks moro atau refleks kaget. Manfaat ini bisa didapat karena kain atau selimut yang digunakan untuk membedong akan melindungi bayi dari suara keras yang terdengar tiba-tiba dan sentuhan mendadak. Bayi pun akan tidur dengan lebih nyenyak dan jadi tidak mudah terbangun.

Meski sangat bermanfaat, tapi membedong bayi memiliki batasan aturan lho, Bu. Bayi yang dibedong terus-menerus berisiko mengalami beberapa hal. Untuk mengetahui apa saja risiko tersebut dan kapan bayi harus berhenti dibedong, berikut beberapa fakta tentang bedong bayi yang penting untuk Ibu ketahui:

Apakah Risiko Terlalu Lama Membedong Bayi?

Bayi yang dibedong terlalu lama atau dengan cara yang tidak benar berisiko mengalami beberapa hal berikut ini, Bu:

  • Mengalami ruam atau biang keringat. Dibedong dalam waktu yang lama akan membuat bayi merasa kegerahan. Akibatnya, bayi rentan mengalami biang keringat atau ruam karena ia cepat berkeringat.
  • Mengalami SIDS. Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) atau sindrom kematian bayi mendadak menjadi penyebab kematian pada bayi yang cukup menakutkan bagi para orang tua. Bedong bayi dengan cara yang salah dapat meningkatkan risiko sindrom tersebut, Bu.

Misalnya saja jika Ibu membedong terlalu kencang, maka dapat menyebabkan bayi tercekik ketika ia tidur. Bisa juga terjadi jika bedong bayi terlalu longgar, sehingga memungkinkan kain terlepas dan membuat tangannya bergerak bebas yang memungkinkan kain menutupi saluran pernapasannya.

  • Menyebabkan hip displasia. Kesalahan dalam membedong yang kerap dilakukan orang tua adalah meluruskan kaki bayi dengan paksa. Padahal, hal tersebut bisa menyebabkan displasia, yakni gangguan pertumbuhan organ atau jaringan. Jika kaki bayi diluruskan, maka sendi dan tulang rawannya bisa mengalami kerusakan, Bu.

Baca juga: Mengenal Cara Menggendong Bayi untuk Tumbuh Kembang Optimal

Artikel Sejenis

Jangka Waktu Membedong Bayi

Bedong bayi tidak perlu dilakukan dalam jangka waktu yang lama, Bu. Saat ia sudah tumbuh besar, Ibu sudah tidak perlu melakukannya lagi. Ada beberapa tanda yang perlu Ibu perhatikan kapan saatnya untuk berhenti membedong bayi, antara lain:

  • Bayi hanya perlu dibedong ketika tidur, khususnya bagi bayi baru lahir.
  • Rata-rata usia yang tepat untuk tidak lagi membedong bayi adalah 3 atau 4 bulan.
  • Bayi sudah mampu berguling sendiri saat tidur, sebaiknya sudah tidak perlu lagi dibedong karena dapat membuat hidungnya terhimpit hingga membuatnya susah bernapas.
  • Bayi kerap terbangun dari tidur malamnya seperti mencari posisi yang nyaman untuk ia tidur.
  • Bedong bayi juga tidak perlu dilakukan sepanjang hari. Ia juga memerlukan waktu untuk bebas bergerak supaya dapat bertumbuh lebih kuat dan kemampuan motorik kasarnya berkembang dengan optimal.
  • Bayi mulai bergerak-gerak untuk menggulingkan tubuhnya ketika ia hanya dibedong sebatas dada sampai kaki.
  • Tubuh bayi terlepas saat hanya dibedong dari dada hingga kaki akibat ia terus bergerak.

Tips Menghentikan Rutinitas Bedong Bayi

Apabila bayi sudah memasuki usia 2 atau 3 bulan, Ibu sebenarnya sudah tidak perlu lagi membedongnya. Ini karena pada umur 4 bulan bayi perlu mengembangkan keterampilannya untuk berguling. Di usia ini refleks kaget bayi juga mulai berkurang sehingga ia sudah mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan di sekitarnya.

Jika Ibu mau menghentikan rutinitas membedong bayi, lakukanlah secara bertahap, ya. Lepas kain bedong secara perlahan agar bayi tidak langsung kehilangan kehangatan sambil memberikannya waktu untuk beradaptasi. Berikut tahapan dalam melepaskan bedong bayi:

  1. Lepaskan sebagian kain bedong untuk membebaskan satu tangan bayi.
  2. Setelah itu, bedong bayi hanya pada dada sampai kaki.
  3. Terakhir, Ibu sudah mulai bisa melepas seluruh bedongan.

Cara Bedong Bayi yang Tepat

Untuk menghindari risiko yang mungkin terjadi, Ibu harus membedong bayi dengan benar. Ikuti langkah-langkahnya berikut ini:

  1. Letakkan kain di atas permukaan datar, lalu lipat sedikit pada salah satu sudutnya.
  2. Posisikan bayi dengan bagian bahu tepat di atas lipatan tersebut.
  3. Tempatkan kedua lengan bayi ke bawah mengapit tubuhnya.
  4. Arahkan sudut selimut yang ada di dekat lengan kirinya untuk menutupi dada dan lengan kiri.
  5. Selipkan sudut selimut tadi ke bawah sisi kanan tubuh bayi. Pastikan tetap memberikan sedikit kelonggaran supaya ia tetap bisa bergerak dengan bebas.
  6. Arahkan sudut selimut di dekat lengan kanannya untuk menutupi dada dan lengan kanan.
  7. Selipkan sudut selimut tadi ke bawah sisi kiri tubuh bayi dengan sedikit kelonggaran, kemudian lipat dan selipkan di belakang bayi.
  8. Biarkan kedua kaki bayi agak menekuk ke atas agar pinggul dan kakinya dapat bergerak bebas.

 

Jika dengan bedong bayi bisa membuatnya nyaman dan tidur dengan lelap, Ibu boleh saja melakukannya. Namun, tetap awasi dan batasi penggunaannya ya, Bu. Ibu juga harus memperhatikan cara membedong bayi agar tidak memberikan dampak negatif di kemudian hari.

Untuk Ibu yang memiliki pertanyaan seputar anak, ibu dapat bertanya langsung ke pakar kami melalui fitur Tanya Pakar. Namun untuk menggunakan fitur tersebut, ibu perlu melakukan registrasi terlebih dahulu ya, Bu. Selamat mencoba.

Sumber:

Hellosehat