Whatsapp Share Like Simpan

Autisme adalah sebuah gangguan yang menyerang perkembangan saraf. Gangguan yang saat ini disebut dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) ini akan mempengaruhi perkembangan bahasa dan kemampuan anak untuk berperilaku, berkomunikasi, serta berinteraksi.

Biasanya, gejala autisme bisa terdeteksi saat anak berusia 2-3 tahun. ASD sendiri mencakup beberapa gangguan, seperti sindrom Asperger, childhood disintegrative disorder, gangguan autistik, dan gangguan perkembangan pervasif (PPD-NOS).

Faktor-faktor Pemicu Autisme

Ada beberapa faktor yang dapat memicu seorang anak mengidap autisme, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Faktor keturunan. Orang tua yang mengalami autisme lebih berisiko memiliki keturunan dengan autisme juga.
  • Jenis kelamin. Dibandingkan anak perempuan, anak laki-laki memiliki risiko 4 kali lebih tinggi terserang autisme.
  • Kelahiran prematur. Bayi yang terlahir prematur, terutama yang lahir di usia kehamilan 26 minggu atau kurang juga berisiko mengalami autisme.
  • Penularan selama kehamilan. Efek samping terhadap obat-obatan (khususnya obat epilepsi bagi ibu hamil) atau minuman beralkohol yang terjadi selama kehamilan dapat memicu janin di dalam kandungan mengidap autisme.
  • Pengaruh dari gangguan lainnya. Si Kecil bisa mengalami autisme akibat terkena pengaruh dari gangguan lainnya, seperti sindrom Rett, lumpuh otak (cerebral palsy), distrofi otot, sindrom down, sindrom Tourette, dan neurofibromatosis.

Penyebab Autisme

Hingga kini, penyebab autisme masih belum bisa diketahui secara pasti. Meski begitu, para peneliti menemukan adanya beberapa gen mungkin berkaitan dengan ASD. Terkadang gen-gen tersebut muncul lalu bermutasi dengan spontan. Namun pada beberapa kasus lain, penderita juga dapat mewarisi gen tersebut dari orang tuanya.

Pada kasus kelahiran kembar, autisme dapat terjadi karena adanya gen kembar. Contohnya saja jika salah satu anak kembar mengalami autisme, maka kembarannya akan berisiko mengalami gangguan yang sama sekitar 36-95 persen. Area utama otak penderita autisme juga dapat mengalami perubahan sehingga akan berpengaruh pada perilaku dan cara berbicaranya.

Artikel Sejenis

Apa Saja Gejalanya?

Autisme adalah gangguan dengan gejala yang dikategorikan menjadi dua, yaitu:

  • Kategori pertama. Kategori ini merujuk pada penyandang yang mengalami gangguan dalam berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Gejalanya meliputi pemakaian bahasa verbal dan nonverbal serta kepekaan terhadap lingkungan sosial.
  • Kategori kedua. Kategori ini merujuk pada penyandang yang memiliki gangguan meliputi gerakan berulang yang kaku, pola pikir, dan minat. Gerakan berulang contohnya seperti meremas dan mengetuk-ngetukkan tangan. Ketika rutinitas tersebut terganggu, maka si Kecil akan merasa kesal.

Penyandang autisme umumnya juga cenderung mempunyai masalah di dalam belajar dan kondisi kejiwaan lainnya, seperti depresi, gangguan kecemasan, dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Baca juga: Anak dengan Selective Mutism, Seperti Apa Tanda-tandanya?

Diagnosa Autisme

Dokter tidak akan melakukan tes khusus untuk mendiagnosa autisme, tapi dari pengamatan dan laporan perilaku. Pada setiap kasus, autisme akan memiliki tingkat gejala yang berbeda-beda, tergantung pada:

  • Usia
  • Intelegensi (kemampuan dalam memecahkan masalah, beradaptasi, serta belajar dari pengalaman)
  • Berbagai kebiasaan pribadi lainnya
  • Pengaruh pengobatan

Terdapat setidaknya empat ciri utama jika si Kecil terdiagnosa menderita autisme, yaitu:

  • Tidak peduli terhadap lingkungan sosialnya.
  • Tidak mampu bereaksi normal di dalam pergaulan sosial.
  • Memiliki perkembangan bahasa dan bicara yang tidak normal.
  • Terbatasnya pengamatan atau reaksi terhadap lingkungan atau berulang-ulang.

Pengobatan Autisme

Autisme adalah gangguan yang tidak bisa disembuhkan. Langkah yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah waspada terhadap gejalanya sedini mungkin. Walaupun begitu, orang tua masih bisa melakukan beberapa penanganan untuk membantu buah hati yang menyandang autisme supaya bisa menyesuaikan diri di kehidupan sehari-hari serta secara optimal mengembangkan potensi yang ada di dalam diri mereka.

Masing-masing pengidap bisa mendapatkan tindakan penanganan yang berbeda-beda, tergantung pada gejala yang ditampakkan. Namun penanganan yang umumnya diberikan pada penyandang autisme adalah berupa terapi dengan beberapa pilihan metode sebagai berikut:

  • Terapi keluarga. Metode terapi ini ditujukan bagi orang tua dan keluarga penyandang autisme yang bertujuan agar keluarga dapat mempelajari cara berinteraksi dengan penyandang. Terapi keluarga juga akan mengajari pengidap cara berperilaku dan berbicara secara normal.
  • Terapi komunikasi dan perilaku. Metode terapi ini memberikan berbagai pengajaran pada penyandangnya, seperti kemampuan dasar untuk sehari-hari, baik secara verbal maupun nonverbal.
  • Dengan obat-obatan. Pemberian obat tidak dapat menyembuhkan autisme, tapi bisa mengendalikan gejalanya. Sebagai contoh adalah obat untuk mengobati depresi, gangguan tidur, kejang, atau masalah perilaku.

Mencegah Autisme

Ketika Ibu melihat si Kecil menunjukkan gejala-gejala autisme, maka Ibu harus segera membawanya ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan. Jika si Kecil mendapatkan penanganan secepatnya, maka perkembangan kondisinya akan lebih meningkat secara efektif serta dapat meminimalisir gejala yang lebih buruk.

 

Mengetahui gejala-gejala autisme adalah hal yang penting karena sangat membantu Ibu untuk mengetahui apakah buah hati memiliki tanda mengidap autisme atau tidak. Dengan begitu, Ibu dapat segera melakukan langkah selanjutnya supaya dapat meminimalisir kondisi si Kecil. Tetap berpikir positif ya, Bu, karena penyandang autisme juga masih bisa berperilaku normal layaknya anak sehat lainnya jika ditangani dengan tepat.

Bagi Ibu yang ingin berkonsultasi seputar bayi, bisa berkunjung ke laman Tanya Pakar, ya. Pertanyaan Ibu akan dijawab langsung oleh ahlinya. Untuk bisa mengakses laman tersebut, jangan lupa untuk registrasi terlebih dulu.

 

Sumber:

Halodoc

Health.kompas