Share Like
Simpan

Apakah Ibu pernah mendengar istilah selective mutism atau mutisme selektif? Selective mutism adalah gangguan berkomunikasi yang biasanya dijumpai pada anak yang memilih tidak berbicara pada situasi tertentu atau orang tertentu, meskipun ia mampu. Misalnya, anak tidak mau berbicara di sekolah. Padahal jika di rumah atau bersama temannya, ia banyak bicara. Gangguan ini umumnya dimulai sebelum anak berusia lima tahun, namun baru disadari saat anak mulai bersekolah.

Tanda-tanda selective mutism di antaranya, selalu gagal berbicara pada situasi tertentu, misalnya di depan umum atau di depan kelas. Gejala ini berlangsung setidaknya selama sebulan setelah bersekolah dan bukan pada awal masuk sekolah akibat anak masih belum terbiasa. Gangguan bicara ini bukan karena si Kecil tidak menguasai materi atau karena tidak nyaman, dan juga bukan karena masalah dalam berbicara (misalnya gagap). Selain itu, bukan termasuk gangguan jiwa. Namun, dalam panduan tentang gangguan jiwa internasional disebutkan bahwa anak dengan selective mutism sering juga mengalami gangguan kecemasan, sangat pemalu, takut dengan lingkungan sosial, dan suka menarik diri.

Diduga, penyebab seorang anak mengalami selective mutism adalah faktor genetik, terutama yang terkait dengan gangguan kecemasan. Seringkali anak-anak dengan selective mutism menunjukkan perasaan cemas berlebihan, sering tantrum dan menangis, tidak mood, gangguan tidur, dan pemalu berat.

Beberapa anak dengan selective mutism juga diketahui sangat sensitif dengan suara, cahaya, sentuhan, rasa, dan bau. Sebanyak 20-30 persen penderita selective mutism memiliki gangguan bahasa/berbicara. Misalnya, menimpa anak-anak yang datang dari keluarga dengan dua bahasa/multibahasa, menghabiskan masa kecil di daerah dengan bahasa asing atau terpapar dengan bahasa asing pada masa-masa perkembangan bahasa (umur 24 bulan). Penelitian menunjukkan tidak ada kaitan antara selective mutism dengan kekerasan dan pengabaian.

Penting untuk diketahui bahwa mayoritas anak dengan selective mutism bisa seperti anak normal lainnya jika berada dalam lingkungan yang menurut dia nyaman. Kadang ada orang tua yang mengatakan, jika di rumah anaknya sangat aktif, banyak bicara, dan bahkan sangat dominan dan suka mengatur. Kebanyakan anak dengan selective mutism disebabkan kesulitan dengan lingkungan sosial. Bagi mereka, bicara di depan orang seperti tengah berada di atas panggung. Bahkan sebelum dipanggil, si anak sudah gemetaran dan cemas luar biasa.

Beberapa terapi untuk selective mutism adalah:

Terapi perilaku dan terapi bermain. Cara ini bisa efektif jika semua tekanan untuk berbicara dihilangkan dan buatlah anak merasa relaks dan terbuka. Jangan pernah mengancam anak dengan selective mutism, karena akan memperberat masalah. Ajaklah anak ke sekolah saat belum banyak anak dan ajak berlatih bicara di depan kelas. Bisa pula dibantu bimbingan psikolog.

Obat-obatan. Pengobatan yang diberikan biasanya untuk mengatasi gangguan kecemasan. Saat kecemasannya berkurang, bisa dikombinasikan dengan terapi perilaku. Hal ini perlu dikonsultasikan dengan dokter tentunya.

Tambah kepercayaan diri. Yang terpenting, orangtua harus memberikan penilaian positif pada anak. Misalnya, jika anak suka kesenian, berikan dukungan sepenuhnya. Buatlah hari spesial untuk menunjukkan bahwa ia seorang masterpiece! Sering-seringlah mengajak anak ke lingkungan di luar rumah dan perkenalkan lingkungan baru secara perlahan agar ia semakin merasa nyaman dengan lingkungan sekitarnya, termasuk lingkungan sekolah. Jangan lupa libatkan pihak sekolah untk membantu.