Whatsapp Share Like
Simpan

Apa itu stunting? Stunting terhadap anak telah menjadi salah satu indikator global baiknya perkembangan anak. Melalui kasus-kasus stunting dapat dipelajari bagaimana refleksi ketimpangan sosial dan ekonomi yang terjadi di masyarakat. Stunting menjadi salah satu penyakit malnutrisi paling lazim yang terjadi pada si Kecil. Kasus ini semakin sering dan umum terjadi karenanya kurangnya kesadaran akan kebutuhan nutrisi dan kondisi kesehatan si Kecil.

Belakangan ini, beberapa kasus stunting menjadi perhatian publik cukup ramai. Mungkin sebagian dari Ibu yang belum memiliki informasi pasti penasaran kan apa itu stunting? Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut, Ibu dapat membaca artikel berikut yang telah dikumpulkan dari beberapa sumber untuk memberikan pengetahuan yang baik dan mendalam. Yuk, dibaca dengan teliti agar Ibu dapat menghindarkan si Kecil dari bahaya stunting.

Mengenal Stunting

Jadi, apa itu stunting? Secara sederhana, stunting dapat dikatakan sebagai pengerdilan. Hal ini merujuk pada kondisi gagal pertumbuhan pada si Kecil yang menyebabkan mereka tidak memiliki tubuh proporsional sebagaimana mestinya. Stunted children atau anak yang terkena stunting biasanya memiliki tubuh badan yang pendek dan kemampuan otak yang sedikit terbelakang. Penyebab utama dari kondisi ini adalah kurangnya asupan gizi penting dalam waktu yang cukup lama.

Menurut beberapa penelitian, kasus stunting seringkali terjadi di masyarakat tanpa disadari. Hal ini utamanya terjadi pada komunitas yang orang tuanya kurang menyadari apa itu stunting dan pentingnya melakukan kontrol rutin terhadap perkembangan si Kecil. Secara kasat mata, seringkali si Kecil yang terkena stunting tidak terlalu dapat dibedakan dengan kebanyakan si Kecil-si Kecil lainnya. Orang tua yang tidak memahami apa itu stunting seringnya tidak bisa membedakan pertumbuhan si Kecil yang terlambat dengan si Kecil yang terkena stunting.

Cara Mengetahui Stunting pada si Kecil

Menurut World Health Organization (WHO), Stunting merupakan penyakit dari hasil interaksi kompleks yang ada dalam rumah tangga, lingkungan, aspek sosio ekonomi, hingga pengaruh budaya. Stunting biasanya diidentifikasi dengan menilai panjang atau tinggi si Kecil (panjang si Kecil saat telentang untuk si Kecil usia dibawah 2 tahun atau tinggi saat berdiri untuk si Kecil usia diatas 2 tahun), dan membandingkannya dengan pengukuran atas standar-standar tertentu yang dapat diterima.

Artikel Sejenis

Berdasar kesepakatan internasional, si Kecil dinilai terhambat pertumbuhannya apabila tinggi badan mereka dibawah 2 standar deviasi dari standar median pertumbuhan si Kecil dibanding dengan rata-rata si Kecil seumuran dan sejenis kelamin. Lebih lanjut, si Kecil dikatakan mengidap stunting akut apabila mereka berada dibawah 3 standar deviasi dari tolak ukur diatas.

Nah, tahukah Ibu, menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 oleh Kementerian Kesehatan RI, ada sekitar 8,9 juta anak di Indonesia yang menderita kondisi stunting? Artinya, 1 dari 3 balita mengalami gangguan pertumbuhan dan butuh perhatian lebih. Saat ini, Indonesia menduduki peringkat tertinggi penderita kondisi stunting di Asia Tenggara dan kelima di dunia. Cukup memprihatinkan ya Bu.

Apa Dampaknya?

Salah satu dampak stunting yang paling mudah dilihat adalah tinggi dan berat badan si Kecil yang jauh di bawah rata-rata anak seusianya. Selain itu, stunting juga bisa berdampak sebagai berikut:

  1. Membuat si Kecil mudah terserang penyakit. si Kecil yang mengidap stunting pada umumnya memiliki sistem imun yang lebih jelek sehingga mereka gampang terserang penyakit, mulai dari pneumonia, diare, meningitis, tuberkulosis hingga hepatitis.
  2. Mempunyai postur tubuh kecil ketika dewasa.
  3. Resiko terserang penyakit kronis lebih tinggi pada usia dewasa. Studi menunjukkan penderita stunting memiliki relasi dengan tekanan darah tinggi, disfungsi ginjal, dan metabolisme glukosa yang buruk.
  4. Menyebabkan kematian pada usia dini. Hal ini tentunya berkaitan dengan bagaimana stunting berdampak pada imunitas dan resiko terserang penyakit kronis. Si Kecil yang yang terkena stunting identik dengan malnutrisi yang jika berlangsung secara terus-menerus dalam waktu yang lama tidak menghindari risiko kemungkinan berujung pada kematian pada usia dini.
  5. Ukuran lingkar kepala yang lebih kecil dibanding ukuran normal anak seusianya yang menandakan bahwa otaknya tidak berkembang dengan baik.
  6. Jika otak tidak berkembang dengan baik, maka dapat mempengaruhi kecerdasan.
  7. Si Kecil kemungkinan akan sulit belajar dan menyerap informasi, baik secara akademik maupun non akademik. Dalam beberapa kasus, mereka telah menunjukkan keterlambatan perkembangan semenjak kecil seperti baru dapat belajar merangkak, berjalan di waktu yang lebih lambat.
  8. Badan si Kecil terlalu kurus atau bisa jadi malah kegemukan akibat terlalu banyak mengonsumsi makanan yang tinggi gula.
  9. Saat dewasa, penderita stunting wanita akan memiliki resiko tinggi saat menghadapi kehamilan.

Baca juga: Minimalkan Risiko Stunting dengan 3 Asupan Berikut!

Penyebab Stunting

Setelah mengetahui apa itu stunting, inilah beberapa faktor utama yang menjadi penyebab stunting yang wajib Ibu ketahui:

  1. Ibu kurang mengkonsumsi makanan dan minuman bergizi selama hamil dan menyusui. Misalnya, kekurangan nutrisi yang mengandung Protein, Asam Folat, Kalsium, Zat Besi, Omega 3, dan Serat.
  2. Si Kecil tidak mendapat ASI eksklusif dan jumlah serta kualitas MPASI-nya tidak mencukupi kebutuhan si Kecil ketika berusia 6 bulan ke atas.
  3. Lingkungan yang kotor dan tidak sehat. Misalnya, kekurangan air bersih dan tidak mempunyai saluran pembuangan limbah mandi, mencuci, atau membuang kotoran yang baik. Akibatnya, si Kecil, terutama saat berusia kurang dari 2 tahun, lebih rawan terkena infeksi maupun bermacam penyakit.
  4. Kurangnya fasilitas kesehatan untuk ibu dan si Kecil dari masa kehamilan hingga kelahiran dan pertumbuhan.
  5. Kurangnya stimulasi psikososial melalui hubungan orang tua-si Kecil semasa perkembangan si Kecil.
  6. Faktor keturunan. Penderita stunting kemungkinan besar juga akan melahirkan si Kecil yang menderita stunting.

Langkah Pencegahan

Pada umumnya, stunting terjadi pada balita, khususnya usia 1-3 tahun. Pada rentang usia tersebut, Ibu sudah bisa melihat apakah si Kecil terkena stunting atau tidak. Meski baru dikenali setelah lahir, ternyata stunting bisa berlangsung sejak si Kecil masih berada dalam kandungan.

Setelah mengetahui apa itu stunting, penting bagi ibu untuk melakukan upaya pencegahan untuk memastikan si Kecil tidak menjadi penderita stunting. Yang penting diperhatikan bagi ibu adalah 1000 hari pertama kehidupan sang si Kecil. Hal ini karena 1000 hari pertama memegang peranan penting dalam menentukan perkembangan si Kecil selanjutnya. 1000 hari pertama ini dihitung semenjak janin hingga si Kecil berusia kurang lebih 2 tahun.

Dikarenakan stunting bisa dimulai sejak masih berada dalam kandungan, oleh karenanya langkah pencegahan sudah bisa dilakukan selama kehamilan dan di 2 tahun pertama kehidupan si Kecil. Inilah beberapa langkah pencegahan stunting yang bisa Ibu coba lakukan:

  1. Selama hamil, Ibu memang harus makan lebih banyak sekaligus lebih bergizi supaya janin dalam kandungan turut mendapatkan nutrisi untuk tumbuh kembangnya. Penting bagi kedua orang tua untuk menyadari bahwa selama masa kehamilan, konsumsi Ibu selama masa kehamilan juga menjadi sumber nutrisi utama bagi janin, tidak hanya bagi ibu sendiri. Jika diperlukan, Ibu dapat mengkonsultasikan asupan nutrisi kepada ahli untuk memastikan konsumsi nutrisi janin terpenuhi dengan baik.
  2. Rutin melakukan kontrol kandungan ke bidan atau dokter kandungan untuk mengetahui tumbuh kembang janin. Di masa sekarang ini dokter dan rumah sakit telah dilengkapi dengan berbagai macam perangkat medis yang didukung oleh teknologi yang canggih untuk membantu para ibu hamil memantau kondisi janin mereka. Tidak ada salahnya memanfaatkan teknologi ini dengan baik untuk memastikan janin tumbuh dan berkembang dengan baik sebagaimana mestinya.
  3. Mengonsumsi suplemen penambah darah dan asam folat.
  4. Memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan kepada bayi. ASI eksklusif merupakan sumber nutrisi yang sangat penting bagi masa-masa awal perkembangan bayi. Oleh karenanya, penting bagi ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif. Selain itu, ibu juga perlu memastikan kualitas ASI dengan mengkonsumsi makanan-makanan yang bergizi dan membantu menopang kebutuhan produksi ASI bagi anak.
  5. Memberikan MPASI setelah bayi berusia 6 bulan dengan tekstur makanan yang ditingkatkan sesuai usianya. Meskipun sudah berusia 6 bulan, Ibu diharapkan masih tetap diharapkan memberikan ASI sebagai sumber utama nutrisi bayi. Namun disamping itu ibu juga sudah mulai dapat memberikan asupan tambahan seperti susu atau bubur yang dapat membantu memenuhi asupannya.
  6. Rajin mencari informasi tentang makanan dan minuman yang boleh dan tidak boleh diberikan kepada si Kecil sesuai usianya.
  7. Memberi si Kecil asupan gizi yang cukup, terutama protein dan kalsium. Hapus kebiasaan mengkonsumsi nasi dengan porsi banyak, tapi protein sedikit. Asupan yang terpenting justru adalah protein yang dapat menunjang tumbuh kembang si Kecil.

Secara kesimpulan, stunting pada si Kecil merupakan indikator terbaik bagi baik buruknya keseluruhan perkembangan si Kecil sekaligus menjadi cermin kehidupan sosialnya. Disadari atau tidak, sampai sekarang ini stunting masih menjadi salah satu bentuk penyakit akibat malnutrisi yang paling umum terjadi. Stunting masih menjadi masalah besar di Indonesia dan masih diderita banyak anak secara global. Pemahaman orang tua mengenai apa itu stunting menjadi bekal penting untuk mencegah rantai malnutrisi yang telah menyebabkan begitu banyak anak tumbuh di bawah garis kelayakan.

Nah, bagaimana, Bu? Sudah paham apa itu stunting, kan? Semoga informasi dari saya seputar stunting membantu Ibu lebih mengenal serta memahami soal kondisi gangguan pertumbuhan tersebut. Kesadaran mengenai apa itu stunting menjadi pijakan utama untuk mencegah stunting pada si Kecil.

Sangat baik jika ibu tidak hanya berhenti pada membaca artikel ini, tapi mulai meningkatkan kesadaran bersama di lingkungan tempat tinggal ibu. Dengan memiliki kesadaran bersama secara komunitas, akan lebih mudah untuk saling mengawasi dan mengamati perkembangan anak-anak di sekitar lingkungan. Saya juga menyarankan Ibu untuk membaca artikel mengenai pencegahan stunting pada si Kecil dan dampak stunting lainnya untuk memperoleh informasi yang lebih komplit.

Susu Frisian Flag 123 PRIMANUTRI turut mencegah stunting pada si Kecil dengan memberikan asupan nutrisi yang dibutuhkan si Kecil di masa tumbuh kembangnya. Susu ini telah diperkaya dengan zat gizi makro (protein, karbohidrat, dan lemak) serta zat gizi mikro (vitamin dan mineral). Selain itu ada juga kandungan lainnya berupa omega 3 dan 6, minyak ikan, kalsium, zat besi, zinc, serat pangan inulin, dan selenium.

Laman Tanya Pakar hadir bagi Ibu yang memiliki pertanyaan atau ingin berkonsultasi seputar si Kecil. Para ahli di sana akan membantu Ibu dengan senang hati. Pastikan Ibu sudah registrasi terlebih dulu untuk bisa menggunakan fitur tersebut, ya.