Whatsapp Share Like
Simpan

Beberapa bulan yang lalu, saya dan suami akhirnya memutuskan untuk pindah rumah. Seperti biasa, anak-anak yang sudah tumbuh semakin besar menjadi pertimbangan utama kami untuk mencari rumah yang juga lebih besar. 

Saat membereskan benda-benda yang akan dibawa, tiba-tiba saya menemukan kotak penyimpanan karya si Kecil sewaktu ia masih balita dulu. Saya buka kotak yang sudah lumayan berdebu itu dan menemukan sebuah gambar kami sekeluarga (saya, Ayah, si Kecil, dan adik bayinya) yang dibuatnya sewaktu ia masih berusia 3 tahun. 

Kalau nggak salah ingat, si Kecil dulu membuat gambar ini karena ia bosan dengan permainan yang itu-itu saja. Akhirnya, saya mengajaknya menggambar sambil bercerita. Waktu itu yang saya siapkan untuk aktivitas ini adalah:

  1. Kertas gambar (ukuran bisa disesuaikan).
  2. Alat mewarnai (krayon atau pensil warna).
  3. Dulu saya menambahkan stiker bergambar sebagai pemanis gambar yang sudah jadi.

Cara bermain:

  1. Pertama-tama, minta ia bercerita tentang keluarga kecilnya. Ibu bisa memulai dari Ayah, dilanjutkan dengan Ibu, kemudian adik nya.
  2. Sembari menggambar, minta si Kecil untuk menirukan cara berbicara orang yang sedang ia gambar. Ketika mendengarnya menirukan cara berbicara kami, saya cukup terkesima sekaligus merasa lucu deh, Bu. Apalagi sewaktu ia mencoba untuk menirukan suara adik kecilnya, rasanya menggemaskan banget!
  3. Setelah gambarnya jadi, saya berikan ia beberapa stiker bergambar untuk semakin mempercantik gambar yang ia buat. Hasilnya bagus lho, Bu.

Ketika ia memberikan gambar tersebut kepada saya, mendengarnya mengatakan, “Ini buat Ibu.” rasanya benar-benar bahagia sekaligus bercampur haru! Karena senang, akhirnya saya memberikan si Kecil pelukan sambil memujinya dengan berkata, “Terima kasih ya, Nak. Gambarnya bagus sekali!”. 

Saya pernah mendengar dari beberapa teman dan kerabat, bahwa pujian seperti memeluk atau mencium yang diiringi dengan kata ‘terima kasih’ dapat membuat si Kecil belajar untuk ikut menghargai siapapun yang melakukan hal baik kepadanya. Secara tidak langsung, Ibu memberikan contoh sikap yang baik kepadanya sekaligus mengajarkannya untuk menggunakan bahasa tubuh sebagai ungkapan yang tepat. 

Selain mengajarkannya gestur untuk hal-hal yang positif, Ibu juga bisa menggunakan gestur untuk melarangnya melakukan sesuatu, lho. Misalkan, karena sedang aktif-aktifnya bergerak, si Kecil secara tiba-tiba naik ke atas kursi kemudian melompat-lompat di atasnya. Daripada memarahinya, saya dulu melarangnya dengan cara menggerakkan jari telunjuk ke kiri dan ke kanan sambil mengatakan ‘tidak’ kepadanya. Tapi saat melarang, saya juga menjelaskan kepadanya, bahwa melompat-lompat di atas kursi itu berbahaya karena ia bisa terjatuh.

Mengekspresikan sesuatu kepada si Kecil dari hati ke hati dapat membuat ia menjadi lebih terbuka kepada Ibu. Jika dibiasakan, lama-kelamaan ia dapat membangun rasa percaya diri dan jadi lebih berani untuk berbicara dengan orang lain. Nah, pada fase yang seperti ini, keterlibatan Ibu dapat sangat berpengaruh terhadap perkembangan linguistiknya dan juga penambahan kosa kata si Kecil. 

Kalau menurut artikel yang saya baca pada situs kidshealth.org, rata-rata anak berusia 3 tahun sudah memiliki kosa kata sebanyak 200 kata atau bahkan lebih. Hal ini disebabkan oleh interaksi yang sering ia lakukan dengan Ibu ataupun juga orang di sekitarnya untuk memenuhi rasa ingin tahu si Kecil.

Sosok seorang Ibu merupakan figur idola si Kecil saat ini. Oleh karena itu, berilah ia contoh yang baik, termasuk dalam komunikasi. Biasakan mengekspresikan pikiran/ perasaan dengan kombinasi bahasa verbal dan non verbal, agar kelak hingga dewasa nanti, si Kecil dapat bersosialisasi dengan baik di lingkungannya.

Dalam masa ini, si Kecil mulai senang mengamati hal-hal baru yang ia temui di sekitarnya. Tentu saja ia membutuhkan nutrisi tepat yang dapat mendukung daya tahan tubuh agar bebas menJelajah. Oleh karenanya, di sela-sela aktivitas, Si Kecil akan lebih mudah merasa lapar. Tapi, hindari memberikannya makanan yang manis-manis seperti permen. Saya tahu bahwa kandungan gizi pada pemanis buatan itu kurang terjamin, itu sebabnya saya memilih untuk memberikannya potongan buah segar seperti pepaya, semangka, atau jambu. 

Lalu bagaimana kalau ia bosan? Tenang, Bu. Ibu bisa membuat es krim sendiri atau smoothie dengan bahan dasar susu pertumbuhan Frisian Flag Jelajah Suprima, intip resepnya di sini.  Selain nikmat, kombinasi Tinggi Protein, Zat Besi, Iodium, Selenium, Seng, Vitamin A, C dan E serta Inulin yang terdapat pada susu Frisian Flag Jelajah Suprima ini diformulasikan untuk setiap tahap penting pertumbuhan si Kecil. Jadi, ia bisa mendapatkan camilan manis yang nikmat sekaligus mengoptimalkan tumbuh kembangnya. Tertarik untuk mencoba?