Whatsapp Share Like
Simpan

Kecerdasan sosial atau dikenal dengan istilah SQ (Social Quotient) adalah suatu kemampuan manusia untuk menggunakan kepintarannya dalam bernegosiasi dan melakukan hubungan sosial yang kompleks di lingkungannya. Ahli psikologi mempercayai kecerdasan sosial adalah ‘kekayaan’ kualitas hidup untuk berhubungan dengan keadaan sekitarnya, atau memiliki kesadaran (awareness) sosial yang berkembang dalam suatu sikap dan perilaku untuk mengubah situasi sosial yang rumit.

Seseorang dengan kecerdasan sosial yang tinggi tidak berarti lebih baik atau lebih buruk daripada seseorang dengan SQ yang rendah. Keduanya hanya berbeda dalam perilaku, harapan, minat dan keinginan. Nilai yang diukur dari SQ serupa dengan nilai standar yang digunakan untuk mengukur IQ, tapi tidak bersifat standar atau tetap.

Cara Menilai Kecerdasan Sosial

Seseorang dapat memiliki perubahan SQ dengan mengubah sikap dan perilakunya saat memberikan respon terhadap lingkungan sosial di sekitarnya, seperti bagaimana seseorang memberikan respon terhadap hubungan keluarga, bagaimana bekerja sama dengan kawan, bagaimana mengatasi pertikaian atau pertengkaran dan bagaimana berbaikan setelahnya, serta hubungan timbal balik dengan sesama.

Ada ahli yang menyimpulkan bahwa kecerdasan sosial berpengaruh terhadap perkembangan otak dan mendukung kemampuan dan kepintaran dalam hal-hal yang berkaitan dengan situasi sosial yang rumit, yang merupakan tuntutan dalam pergaulan. Salah satu yang berkaitan dengan kecerdasan sosial adalah bahasa, karena kita menggunakan bahasa sebagai mediasi utama untuk berinteraksi secara sosial.

Pentingnya Kemampuan Berbahasa untuk Kecerdasan Sosial Anak

Berbahasa memerlukan kemampuan berpikir yang kompleks dan merupakan faktor kritis bagi pertumbuhan volume otak. Oleh karena itu, diperlukan stimulasi dan latihan sejak usia dini dalam menggunakan bahasa sebagai ungkapan atau empati, sehingga seorang anak dapat berkomunikasi dengan baik di lingkungan sosialnya kelak.

Artikel Sejenis

Salah satu yang dapat Ibu lakukan untuk mendukung kecerdasan sosial anak adalah mengajaknya bergaul dan bertemu dengan orang lain serta mendorongnya untuk berkomunikasi dengan berbicara. Semakin banyak anak bergaul dalam lingkungan sekitarnya dan mengadakan komunikasi bicara, maka perbendaharaan kata-kata yang diperoleh dari pertemuan tersebut akan semakin banyak. Selain pengalaman mendengar, perbendaharaan katanya dipengaruhi oleh apa yang dilihat dalam kesehariannya.

Kemampuannya dalam merangkai kata-kata menjadi kalimat membutuhkan proses yang panjang, dan tentu saja belum dapat mengutamakan tata bahasa. Oleh karena itu, ajaklah anak berkomunikasi dengan pemahaman dan respon positif, sehingga ia pun dapat belajar akan makna kata.

Biasanya anak akan memberikan respon spontan terhadap kata-kata yang diucapkan orang lain, baik berupa respon fisik yang tampak pada ekspresi wajah atau gerakan anggota tubuh lainnya. Dengan kecerdasan sosial, anak dapat mengetahui bahwa bila Ibu marah, maka nada bicaranya tinggi dan penuh tekanan, sedangkan bila Ibu membujuk tentu dengan nada lembut dan pelan. Bila Ibu berbisik, maka anak akan memberikan respon curiga dan bertanya-tanya.

Baca juga: 7 Tips Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak Usia 4-6 Tahun

Tips Mengembangkan Kecerdasan Sosial Anak

Seiring pertambahan usianya, kelak anak akan hidup di tengah masyarakat seorang diri. Ia harus bisa menyesuaikan diri dengan orang lain dan Ibu tidak bisa selalu bersamanya. Menurut seorang pakar pendidikan dan pengasuhan, Malathi A. Ganesh,. PGDEA., ICEPT., Ibu perlu melatih dan mengembangkan kecerdasan sosial anak sejak dini dengan cara sebagai berikut:

  • Ajari anak tentang emosi. Sedari kecil, anak perlu belajar mengenal berbagai macam emosi, seperti bahagia, sedih, marah, kecewa, gugup, takut, dan frustasi. Tujuannya supaya anak mampu memahami dan mengungkapkan perasaannya sendiri. Dengan cara ini anak cenderung jadi tidak mudah tantrum.
    Saat anak menampakkan emosi tertentu, tanyakan padanya apa yang sedang ia rasakan waktu itu juga alasannya, seperti “Adek lagi marah, ya?” atau “Adek kecewa ya Mama belum bisa belikan kamu mainan?”. Ibu juga perlu memperkenalkan emosi ini melalui permainan. Gunakan gambar berbagai macam ekspresi pada anak, lalu sebutkan nama emosi tersebut. Cara ini dapat membantunya untuk membedakan dan mengekspresikan masing-masing emosi dengan lebih baik.
  • Dukung anak untuk lebih banyak berinteraksi dengan orang lain. Anak perlu banyak berinteraksi dengan orang lain supaya ia terbiasa untuk berkumpul, bergaul, dan bersosialisasi dengan teman, saudara, tetangga, maupun orang lain. Jadi, ajaklah ia untuk sering melakukan kegiatan yang melibatkan banyak orang, seperti kelompok bermain atau PAUD.
  • Selalu mulai dengan pertanyaan. Dalam hidup bersosial, anak juga perlu diajari untuk membuat keputusan terhadap orang lain. Langkah untuk mengembangkan kemampuan ini adalah dengan memberikan pertanyaan sebagai bentuk respon dirinya. Contohnya saja saat membawa ia untuk playdate dengan saudara-saudaranya, bertanyalah seperti ini, “Itu ada banyak teman mengajak kamu bermain bersama. Kamu mau main sama mereka?”.
    Di sini anak pun akan belajar membuat keputusan. Jika ia menjawab “mau”, maka biarkan ia bermain bersama saudara-saudaranya. Namun jika ia menjawab “tidak mau”, maka Ibu perlu untuk membimbing dan mengajarinya untuk mengatakan, “Aku sedang tidak ingin main. Jangan paksa aku. Nanti kalau aku ingin main, aku ikut, ya.”.
  • Tunjukkan rasa peduli padanya. Peranan orang tua terhadap kepribadian anak memang sangat besar, Bu. Anak yang banyak memperoleh simpati dari orang tuanya cenderung memiliki kepribadian yang mudah simpatik. Maka dari itu Ibu harus selalu menunjukkan perhatian dan kepedulian terhadap emosinya dan ajarkan bagaimana cara meresponnya.
  • Jangan paksa ia untuk berbagi. Orang tua sering mengharapkan agar anaknya mau berbagi dengan orang lain. Bahkan kadang orang tua menyertainya dengan paksaan. Padahal, hal ini tidak baik lho, Bu. Dari sini anak jadi belajar kalau ia tidak berhak menentukan atas kepemilikannya dan tidak bisa memperjuangkan haknya sendiri.
    Saat Ibu memaksanya untuk meminjamkan mainan pada temannya yang merengek karena ingin meminjam mainan tersebut, ia jadi belajar bahwa dengan cara merengek atau merebut seseorang sudah bisa memperoleh sesuatu. Bisa jadi ia pun akan menggunakan cara yang sama dan tantrum ketika menginginkan sesuatu.
  • Ajarkan cara memperhatikan perasaan orang lain. Misalnya ketika anak memaksa ingin meminta makanan dari temannya sehingga membuat temannya menjadi kesal. Ibu bisa mengatakan, “Kamu ingin meminta makanan, tapi temanmu tidak mau berbagi. Bagaimana ya cara agar bisa adil dan tidak ada yang kecewa dan kesal?”. Dari sini, anak pun akan belajar cara membuat keputusan yang lebih menghargai perasaan orang lain.
  • Jangan asal memuji. Memuji saat anak melakukan kebaikan adalah hal yang biasa dilakukan oleh setiap orang tua. Namun sebaiknya jangan asal memuji, Bu. Contohnya saja saat anak mau berbagi mainannya dengan temannya, jangan langsung memberikan pujian bahwa ia anak yang hebat karena sudah bersedia berbagi. Lebih baik ganti dengan kalimat yang menunjukkan ekspresi senang dari temannya karena diizinkan untuk bermain dengan mainannya. Melalui cara ini, anak akan belajar cara berempati tanpa merasa terbebani.

Manusia sebagai makhluk sosial akan selalu berinteraksi dengan orang lain. Oleh karena itu kecerdasan sosial sangatlah diperlukan agar bisa menjalin hubungan yang baik semua orang. Yuk, Bu, latih dan kembangkan rasa sosial anak sejak dini agar kelak ia bisa menjadi pribadi yang peduli pada sesamanya.

Jika Ibu punya pertanyaan lainnya seputar anak, jangan ragu untuk melakukan konsultasi anak pada laman Tanya Pakar ya, Bu. Pastikan Ibu sudah registrasi terlebih dulu agar bisa menggunakan fitur tersebut.

Sumber:

Parenting