Share Like
Simpan

“Ibu, kok teman aku tidak berpuasa?” sudahkah si Kecil menanyakan hal tersebut kepada Ibu? Setelah memasuki usia 4 tahun, selain semakin lincah, ia juga akan terlihat lebih kritis bertanya mengenai banyak hal mengenai dunia yang ada di seklilingnya. Sifatnya tersebut merupakan hal yang biasa terjadi di tahap tumbuh kembang balita. Oleh sebab itu, pemahamannya tersebut bisa Ibu gunakan untuk mulai mengajarkannya mengenai toleransi terhadap beragam suku, agama, serta ras yang ada di sekitarnya.

Bu, mengajarkan si Kecil tentang nilai toleransi beragama dapat memberikan banyak manfaat bagi pertumbuhan karakternya. Jika ia sudah memahami pentingnya rasa saling menghormati sejak dini, si Kecil akan belajar untuk lebih terbuka dan menerima perbedaan di lingkungan bermainnya.  Berikut adalah hal-hal yang dapat membantu Ibu mengajarkan ia rasa toleransi, yaitu:

Perbedaan yang ada di sekitarnya saat ini mungkin masih terasa membingungkan. Oleh sebab itu, Ibu bisa mulai memberikan penjelasan bahwa perbedaan fisik dan keyakinan yang dimiliki oleh teman-temannya bukanlah sesuatu yang buruk, tapi justru sesuatu yang patut dihargai dan disyukuri. 

Perluas dunia si Kecil dengan mengajaknya bermain atau mengikuti kegiatan di mana ia bisa bertemu dengan berbagai macam anak dengan status sosial, suku, atau agama yang berbeda-beda. Dengan begitu, si Kecil dapat belajar untuk memahami perbedaan di sekitarnya. 

Jika si Kecil suatu saat menanyakan tentang perbedaan agama miliknya dan temannya (seperti bertanya, "Mengapa ia berpuasa sementara temannya tidak?") cobalah memberikannya penjelasan yang sederhana. Ibu bisa menjelaskannya kalau setiap agama di dunia memiliki cara yang berbeda-beda, walaupun Tuhan yang dipuja sama. Perlu diingat, meskipun pertanyaan si Kecil seringkali terasa mengagetkan dan sulit untuk dijawab, usahakan Ibu tetap menjawab pertanyaan tersebut dengan singkat dan jelas. Menghindari pertanyaan justru akan memberikan sinyal yang salah kepada si Kecil, bahwa ia tidak boleh membicarakan tentang perbedaan. 

Di usianya saat ini, si Kecil cenderung suka mengikuti perilaku orang dewasa yang dekat dengannya, termasuk Ibu. Oleh sebab itu, Ibu bisa memberikan contoh toleransi melalui ucapan, sikap, serta tindakan kepada orang yang beragama lain di sekitarnya. Misalnya dengan tidak memaksakan seseorang untuk ikut berpuasa sepertinya, atau mengajak si Kecil untuk menghargai teman atau saudaranya yang sedang berpuasa dengan tidak makan dan minum di depan mereka. 

Sesekali ajak si Kecil untuk mengamati berbagai macam tempat ibadah sambil menjelaskan kepadanya tentang ciri khasnya masing-masing. Sebagai permulaan, Ibu bisa menggunakan buku cerita atau video untuk memudahkan proses belajarnya.  

Agar si Kecil semakin terbiasa, proses belajar ini bisa Ibu terapkan ke dalam lingkungan keluarga terlebih dahulu. Sebagai contoh, jika Ibu memiliki saudara yang berbeda agama, buatlah suatu tradisi untuk berkunjung ke rumah mereka setiap tahunnya saat sedang merayakan hari besarnya. Dengan membangun suatu kebiasaan untuk toleransi di dalam keluarga, ia pun akan terbiasa menerima perbedaan yang ada di sekitarnya.

Menanamkan sikap toleransi sejak dini tentu memiliki banyak manfaat bagi tumbuh kembang balita. Ia menjadi lebih mudah beradaptasi serta memiliki lingkungan sosial yang lebih luas. Proses belajar si Kecil ini tidak harus dilakukan dengan serius, lho. Ibu dapat mengajarkannya saat aktivitas menonton TV, membaca dan bermain bersama sehingga proses ini menjadi tidak begitu rumit. 

Selamat membimbing si Kecil, Bu!