Whatsapp Share Like Simpan

Hai, Bu, bagaimana kabar buah hati Ibu,apakah sudah memastikan mendapat sumber vitamin D yang cukup untuk si Kecil? Semoga selalu sehat, ya. Baru-baru ini saya membaca sebuah artikel mengenai pentingnya sumber vitamin D bagi tumbuh kembang bayi. Vitamin D merupakan salah satu vitamin yang penting untuk bayi di masa tumbuh kembangnya. Ada beberapa manfaat yang ada di dalamnya sehingga perlu untuk diberikan setiap hari. Apakah sumber vitamin D yang baik untuk bayi?

Sumber Vitamin D

Bayi dengan usia 0 hingga 6 bulan membutuhkan setidaknya 400 IU vitamin D setiap hari, baik yang menerima ASI eksklusif maupun yang diberi susu bubuk tambahan. (sumber: http://www.idai.or.id). Dikarenakan bayi di usia tersebut belum mengonsumsi makanan, maka bisa mendapatkan sumber alami dari manfaat vitamin D yang terdapat pada sinar matahari

Itulah sebabnya bayi-bayi yang baru lahir sering dijemur di bawah sinar matahari pagi agar ia cukup mendapatkan asupan vitamin D secara alami. Waktu yang direkomendasikan untuk menjemur bayi adalah pada pukul 07.00 hingga 08.00 pagi di mana sinar matahari belum terlalu panas.

Selain itu, sumber vitamin D juga bisa diperoleh ASI dan beberapa makanan, antara lain:

  • Sumber Vitamin D: Produk susu (keju dan yogurt)

    Susu bisa menjadi sumber vitamin D, oleh karena itu. Selain dari susu, sumber vitamin D juga dapat ditemukan pada olahan susu seperti yoghurt. Namun, penting untuk dicatat bahwa es krim dan keju, yang keduanya diperoleh dari susu, tidak memiliki kandungan vitamin D. Selain mengandung manfaat vitamin D, yoghurt juga mengandung kalsium yang baik untuk kesehatan tulang dan gigi si Kecil.

    Artikel Sejenis

  • Sumber Vitamin D: Kuning telur

    Makanan hewani yang mudah didapat ini merupakan makanan yang mengandung vitamin D yang baik. Dalam satu butir telur ukuran sedang (50g) mengandung 87 IU vitamin D atau setara dengan 17 persen kebutuhan harian. Jangan hanya mengonsumsi putih telurnya saja, konsumsi pula kuning telurnya karena kuning telur didominasi oleh vitamin D.

  • Sumber Vitamin D: Ikan laut (salmon, tuna, makerel)

    Ikan menjadi sumber vitamin D yang baik untuk si Kecil. Ikan laut yang berlemak seperti salmon, ikan tuna atau tuna kalengan, adalah sumber vitamin D karena memiliki kandungan vitamin D yang sangat besar. Jika mengonsumsi minimal 100 gram per hari, maka kebutuhan harian vitamin D si Kecil sudah bisa terpenuhi. Para pakar percaya bahwa peningkatan kadar vitamin D mampu mengatasi penyakit dan sangat penting untuk kesehatan.

  • Sumber Vitamin D: Sereal

    Makanan vitamin D lain yang menjadi sumber vitamin D untuk anak adalah sereal. Selain bermanfaat, sereal juga lezat dan menarik untuk diberikan pada bayi. Agar lebih sehat, pilihlah sereal dengan kalori rendah dan multi-grain. Meski begitu, tidak semua sereal benar-benar sehat dan menjadi sumber vitamin D yang sehat, beberapa sereal sudah ditambah gula yang berlebih. Sebaiknya Ibu lebih teliti saat memilih sereal untuk si Kecil.

  • Sumber Vitamin D: Produk Kedelai

    Produk kedelai juga menjadi sumber vitamin D seperti tahu dan tempe. Produk olahan kedelai ini merupakan sumber makanan yang menjadi sumber vitamin D yang cukup populer. Diketahui, dalam 100 mg tahu atau makanan yang mengandung vitamin D ini mengandung sekitar 157 IU vitamin D atau setara dengan 26 persen kebutuhan harian.

Makanan-makanan sumber vitamin D tersebut belum bisa dikonsumsi oleh bayi. Untuk itu Ibu lah yang harus sering mengonsumsinya supaya kandungan ASI Ibu kaya akan vitamin D. Tak hanya bayi saja yang mendapatkan manfaatnya, Ibu pun akan ikut merasakan khasiatnya. Jadi, apa saja fungsi dari vitamin D tersebut?

Fungsi Vitamin D

Setelah mengetahui sumber vitamin D, Ibu juga perlu memahami bahwa vitamin D harian dikenal sebagai nutrisi yang baik untuk tulang dan gigi. Ternyata, masih ada beberapa fungsi vitamin D lainnya lho, Bu. Inilah fungsinya:

Mengoptimalkan pertumbuhan tulang

Bayi memiliki pertumbuhan tulang yang cepat. Agar dapat tumbuh tinggi, maka ia sangat memerlukan cukup asupan vitamin D secara alami. Ibu perlu selalu memantau pertumbuhan panjang badan bayi setiap bulan dan melihat dari grafik tumbuh kembang bayi yang ada di KMS. Jika ia memiliki panjang badan yang normal sesuai usianya, artinya ia sudah cukup mendapatkan manfaat vitamin D. Namun jika belum, Ibu perlu untuk meningkatkan asupan vitamin D harian pada buah hati.

Menjaga kesehatan tulang dan gigi

Tulang bayi masih rentan rapuh. Untuk itu vitamin D diperlukan untuk menunjang kesehatan tulang agar tidak mudah rapuh dan membuat bayi berisiko terkena osteoporosis di masa depan. Selain itu, vitamin D juga dibutuhkan agar pertumbuhan gigi bayi lebih cepat, lebih kuat, dan tidak mudah keropos.

Mengontrol jumlah kalsium dalam darah

Kalsium diperlukan untuk banyak hal, diantaranya adalah membangun dan memperbaiki tulang dan gigi, membantu kinerja otot, pembekuan darah, membantu kinerja jantung, dan membantu kinerja saraf.

Tugas vitamin D adalah untuk mengontrol jumlah kalsium dalam darah supaya tidak menjadi rendah (hipokalsemia) maupun tinggi (hiperkalsemia). Saat terjadi hipokalsemia, maka tulang akan mengeluarkan kalsium untuk membuat kadar kalsium dalam darah normal kembali. Sedangkan saat terjadi hiperkalsemia, kalsium berlebih di dalam tulang akan dikeluarkan tubuh melalui air kencing dan feses.

Meningkatkan sistem imun tubuh

Saat bayi Ibu sedang terkena penyakit, maka vitamin D akan mempercepat masa pemulihan. Ini karena fungsinya yang dapat meningkatkan sistem imun tubuh. Jika bayi memiliki daya tahan tubuh yang kuat, ia pun tidak akan rentan terserang penyakit. Jika bayi sudah menandakan gejala-gejala sakit, segera jemur ia di bawah sinar matahari pagi ya, Bu.

Mengurangi risiko alergi

Sumber vitamin D sinar matahari juga sangat baik untuk mengurangi risiko alergi, Bu. Bila bayi berisiko tinggi memiliki alergi, maka Ibu perlu untuk mencukupi asupan vitamin D nya setiap hari. Dengan begitu, risiko ia untuk terkena alergi akan lebih kecil.

Perlukah Suplemen Vitamin D

Menurut Ikatan Dokter Indonesia (IDAI), kekurangan vitamin D yang berat, terutama pada anak, dapat menyebabkan penyakit riketsia nutrisional. Riketsia umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan – 2,5 tahun, dengan gejala seperti kelemahan otot, keterlambatan perkembangan gerak motorik, pembesaran area pergelangan tangan dan lutut, tungkai berbentuk O, gangguan bentuk kepala, keterlambatan pertumbuhan gigi, penurunan kepadatan tulang, dan infeksi.

Menurut survei di Indonesia, 43% anak perkotaan dan 44% anak pedesaan mengalami defisiensi vitamin D (kadar vitamin D darah < 30 nmol/L). Faktor risiko yang berperan dalam terjadinya defisiensi vitamin D antara lain (1) kurangnya paparan sinar matahari, (2) asupan makanan yang sedikit mengandung vitamin D, dan (3) dan pemberian ASI berkepanjangan tanpa suplementasi vitamin D. Skrining kadar vitamin D pada darah tidak disarankan untuk anak sehat yang tidak bergejala, namun dapat dipertimbangkan pada anak yang berisiko tinggi atau bergejala.

Kurangnya paparan sinar matahari dapat berupa gaya hidup anak yang sebagian besar berada dalam gedung, kebiasaan menjemur bayi atau anak di pagi hari, dan penggunaan tabir surya. Waktu yang dianjurkan untuk mendapatkan paparan sinar matahari langsung adalah pukul 10.00 sampai 15.00. Sinar matahari yang mengandung ultraviolet A berfungsi mengubah provitamin D di kulit menjadi vitamin D. Orang berkulit gelap memerlukan paparan sinar matahari yang lebih tinggi dibanding orang berkulit putih.

Menurut penelitian, anak Indonesia hanya mengonsumsi sedikit makanan yang kaya sumber vitamin D. Telur yang kerap dikonsumsi ternyata hanya mengandung sedikit sumber vitamin D. Makanan-makanan yang tinggi sumber vitamin D seperti ikan tuna segar maupun tuna kalengan, sarden, mackerel, dan keju jarang dikonsumsi oleh anak Indonesia. Di sisi lain, adanya anjuran pantang susu sapi pada alergi susu sapi, rendahnya ketersediaan makanan yang difortifikasi vitamin D, dan kurangnya asupan makanan yang mengandung lemak turut berperan dalam rendahnya kadar vitamin D di darah. Selain itu, ASI ternyata mengandung sumber vitamin D dalam kadar yang rendah, sehingga pemberian ASI saja belum dapat mencukupi kebutuhan sumber vitamin D harian pada anak.

Masalah defisiensi vitamin D merupakan masalah yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, namun kesadaran masyarakat masih tergolong rendah. Beberapa hal yang dianjurkan untuk mengurangi angka defisiensi vitamin D antara lain:

  • Meningkatkan konsumsi makanan yang kaya vitamin D, yaitu ikan salmon, tuna, mackerel, keju, minyak ikan, jamur shiitake, dan sereal.
  • Mendorong anak untuk lebih banyak bermain di luar serta menjemur bayi pada jam 10.00- 15.00.
  • Suplementasi vitamin D untuk bayi 0-12 bulan sebanyak 400 IU per hari, tanpa memandang jenis makanannya (ASI eksklusif atau tidak).
  • Suplementasi vitamin D untuk anak >12 bulan, sebanyak 600 IU per hari, tanpa memandang jenis makanannya.
  • Anak dengan riwayat defisiensi vitamin D yang disertai gejala harus diberikan suplementasi.
  • Wanita hamil dan menyusui perlu mengkonsumsi vitamin D 600 IU per hari.

Saat Tubuh Kekurangan Vitamin D

Memang, cukup sulit untuk menentukan apakah bayi sedang mengalami defisiensi vitamin D atau tidak. Bukan tanpa alasan, nyeri otot dan kelelahan pada tubuh menjadi gejala khas dari kondisi kekurangan sumber vitamin D, sedangkan bayi belum bisa mengartikan apa yang sedang dialami oleh tubuhnya. 

Dilansir dari Medpagetoday.org, sebuah penelitian yang dilakukan oleh James A. Taylor, M.D., dari University of Washington di Seattle, Amerika Serikat, menemukan bahwa tidak ada bukti yang cukup kuat mengenai adanya kaitan antara defisiensi vitamin D dengan kelainan tulang pada bayi dan anak-anak.

Meskipun ada kemungkinan bahwa beberapa bayi yang kekurangan sumber vitamin D akan mengembangkan rakitis dalam waktu dekat atau memiliki penyakit tulang di masa depan.

Dr. Taylor juga menuliskan bahwa sebagian besar dampak asimptomatik yang terlihat pada hasil radiografi bayi dengan defisiensi besi dapat bersifat sementara dan akan hilang ketika paparan sinar matahari dan asupan vitamin D sang bayi meningkat.

Sementara menurut Ahli Gizi UGM, Dian Caturini Sulistyoningrum, B.Sc., M.Sc., defisiensi atau kekurangan sumber vitamin D memang menjadi persoalan yang mengancam anak Indonesia. Selain menghambat pertumbuhan dan memicu penyakit tulang, defisiensi vitamin D juga mendorong timbulnya penyakit lain, seperti penyakit kardiovaskular, dislipidemia, diabetes, dan hipertensi.

Permasalahan defisiensi vitamin D kebanyakan muncul di negara 4 musim dengan paparan sinar matahari terbatas, seperti di kawasan Eropa, Amerika Utara, dan beberapa bagian di Australia. Namun, saat ini defisiensi vitamin D juga terjadi di negara-negara tropis.

Sementara itu, tanda lain dari defisiensi vitamin D bisa saja muncul selama beberapa bulan atau bahkan tahun setelahnya. Jadi, guna mengantisipasi kondisi tersebut, orang tua perlu melakukan pemeriksaan pada sang buah hati apabila terjadi tanda atau gejala seperti:

  • Mengalami kejang-kejang
  • Mengalami kardiomiopati (gangguan otot jantung)
  • Rakitis
  • Osteoporosis
  • Gigi mudah keropos
  • Pertumbuhan yang terhambat
  • Lemah otot
  • Mudah terserang penyakit

Apakah Ibu sudah memahami apa saja sumber vitamin D dan fungsinya untuk tumbuh kembang bayi? Jadi, mulai sekarang cukupi asupan sumber vitamin D buah hati ya, Bu. Mulailah sejak dini sebelum terlambat. Perlu Ibu ketahui bahwa nutrisi-nutrisi penting seperti sumber Vitamin D untuk Ibu khususnya saat masih menyusui bisa didapatkan dalam kandungan susu Frisian Flag PRIMAMUM.

susu Frisian Flag PRIMAMUM mengandung 9 asam amino esensial (9AAE) lengkap dan 9 nutrisi penting lainnya untuk kebaikan Ibu dan si Kecil. Susu ini juga mengandung asam folat, omega 3 (ALA), omega 6 (LA) untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan si Kecil serta kesehatan Ibu.

susu Frisian Flag PRIMAMUM mengandung tinggi zat besi, tinggi zinc, dan sumber serat pangan inulin untuk mendukung daya tahan tubuh Ibu dan si Kecil. Diperkaya juga dengan kalsium dan vitamin C untuk mendukung pertumbuhan sel si Kecil. Frisian Flag PRIMAMUM tersedia dalam rasa cokelat yang lezat dan tidak membuat Ibu merasa enek atau mual, serta praktis karena dapat dikonsumsi oleh ibu hamil dan ibu menyusui.

Ditinjau oleh: Yeni Novianti, S.Gz