Share Like
Simpan

Melihat si Kecil bermain dengan teman-temannya, tentu terasa sangat menggemaskan ya, Bu. Namun, yang namanya anak-anak, saat bercanda dengan orang lain biasanya ia masih belum tahu batasan mana yang sekiranya dapat mengganggu temannya tersebut.

Nah, ketika ia mulai mengganggu temannya hingga menangis, sebaiknya jangan langsung melabelinya sebagai anak yang nakal ya, Bu. Ucapan seperti “Kamu kok nakal, sih?” tentu akan menanamkan dampak negatif bagi si Kecil.

Saya pun pernah melakukan kesalahan yang sama waktu si Kecil berusia 3 tahun dulu. Hasilnya, saya sempat diingatkan oleh teman yang juga punya anak seumuran dan diberikan beberapa tips menarik untuk menangani sikap si Kecil tersebut. Mau tahu apa saja, Bu? Berikut pembahasan lengkapnya.

 

Dampak melabeli si Kecil.

Ketika si Kecil mulai melakukan tindakan di luar batas, tentu agak repot mencegahnya, ya. Terkadang lidah ini refleks mengatakan dia anak yang nakal. Padahal, pelabelan seperti itu justru akan memiliki dampak melekatnya label tersebut dalam benaknya. 

Anak yang terlalu aktif, terkadang menyalurkan kelebihan energinya itu dengan “mengganggu” temannya. Hal tersebut bisa membuatnya sering dilabeli “nakal” oleh teman atau gurunya.

Jika di rumah pun ia diberi label serupa, lambat laun ia akan mempercayai bahwa dirinya memang nakal dan membentuk konsep kenakalan itu sendiri. Tentu Ibu tidak ingin hal itu terjadi pada si Kecil kan? Oleh karena itu, Ibu bisa mengikuti beberapa tips di bawah ini.

 

Cari tahu penyebabnya.

Hal yang bisa Ibu lakukan pertama-tama adalah mencari tahu mengapa ia berbuat demikian. Bisa jadi dia merasa tidak nyaman, merasa terancam, atau bahkan disebabkan oleh ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Selain itu, bisa jadi perilakunya tersebut merupakan hasil dari meniru orang lain.

 

Gunakan kalimat yang positif.

Melabeli si Kecil dengan sebutan “anak nakal” dikhawatirkan dapat membuatnya semakin menunjukkan kenakalannya tersebut. Ketika ia mengganggu temannya, Ibu dapat menjadi penengah dan mengajak si Kecil untuk memahami perasaan teman yang diganggunya itu.

Berikan pengertian bahwa jika ingin bermain bersama-sama sebaiknya saling mengasihi dan berbagi. Ibu juga dapat mengajaknya memposisikan diri sebagai si teman. Misalnya dengan mengatakan “Waktu kamu dicubit sama si A, rasanya sakit kan? Nah, temanmu juga merasakan yang sama kalau kamu cubit”.

Hal yang terpenting ketika memberi penjelasan pada si Kecil adalah memberinya pengertian bahwa yang buruk adalah tindakannya bukan dirinya. Dengan demikian, ia akan terhindar dari pemikiran bahwa dirinya tidak berharga.

Namun Bu, jika sekiranya si Kecil menunjukkan tanda-tanda di luar batas wajar, segera ajak ia untuk konsultasi ke dokter, ya. Informasi tepat yang lebih dini tentunya akan memberikan kita waktu untuk mengubah perilakunya agar lebih matang.

Satu lagi tips terakhir dari saya, walaupun perilaku si Kecil terkadang di luar harapan kita, tapi terus berikan ia dukungan moral dalam proses tumbuh kembangnya ini ya, Bu. Jangan lupa juga untuk tetap mendampinginya dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Selamat mendampingi proses tumbuh kembang si Kecil, Bu!