Share Like
Simpan

Saat si Kecil mulai bersekolah, orangtua tentu berharap ia bisa memiliki banyak teman. Namun, pada sebagian anak, terlihat lebih suka bermain sendiri daripada bergabung dengan teman-temannya. Orangtua menjadi khawatir si Kecil akan kesepian dan tidak bahagia. Memahami si Kecil dan apa yang tengah ia alami merupakan langkah bijaksana sebelum menghakiminya tidak bisa bergaul.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membantu si Kecil bisa berbaur dan menikmati kehidupan di sekolah dengan teman-temannya.

Cobalah membuat suatu playdates, atau pertemuan khusus di rumah dengan mengundang salah satu teman sekelas yang kira-kira paling dekat dengan si Kecil. Misalnya, teman satu bangkunya. Tujuannya bukan untuk mengakrabkan jalinan pertemanan di antara mereka berdua, namun sekadar mencari tahu apakah si Kecil memang tertarik memiliki teman.

Bila si Kecil pemalu, waktu bermain khusus seperti ini menjadi semacam latihan untuk memasuki kehidupan sosial. Jika si Kecil senang, ia biasanya akan meminta untuk dilakukan cara itu lagi. Dalam pertemuan bermain berikutnya, tidak hanya satu teman yang diundang tetapi bisa dua hingga tiga temannya yang sebaya. Waktu yang disediakan untuk mereka bermain jangan terlalu lama, cukup 1-2 jam.

Ibu tentu sudah sangat paham permainan apa yang menarik dan paling disukai si Kecil dan teman-temannya, atau aktivitas apa yang mereka inginkan. Sebagai fasilitator, Ibu bisa membuat si Kecil bisa menikmati kebersamaan dengan teman-temannya dan merasa nyaman. Maksimalkan interaksi positif di antara mereka dengan menyediakan sarana yang memadai, sehingga tidak terjadi pertengkaran karena berebut mainan.

Hal penting lain, jangan hanya menyediakan fasilitas kemudian anak-anak ditinggal begitu saja. Usahakan Ibu terlibat dalam permainan, meskipun porsinya hanya memberikan arahan dan membantu si Kecil lebih dekat dengan temannya. Ingat, mereka masih teman baru. Dengan Ibu selalu di samping mereka, setiap terjadi konflik bisa segera diselesaikan, atau jika mereka bosan bisa beralih ke permainan lain.

Ibu juga harus membatasi diri dengan tidak mendominasi. Biarkan anak-anak berkreasi dengan permainan dan ide-ide mereka sendiri. Pilihlah permainan yang membutuhkan kerjasama, bukan permainan individu seperti main game dengan tablet. Cobalah atur permainan cari dan sembunyi, atau bermain air di kolam kecil. Permainan dengan menggunakan alat elektronik dapat digunakan sepanjang dilakukan secara kerjasama.

Saat waktu bermain habis, usahakan menyediakan waktu Ibu untuk bermain hanya bersama si Kecil. Ini tentu juga akan menstimulasi anak dan mengetahui cara bermain seperti apa yang disukainya. Jika langkah-langkah ini sudah dilakukan, dan si Kecil masih pemalu dan sulit berteman, jangan paksa ia. Lebih baik bicarakan dengan guru di sekolah, siapa tahu si Kecil tidak nyaman dengan lingkungan sekolah dan teman-teman barunya. Atau, bisa saja ia memiliki hubungan tidak baik dengan orangtua di rumah. Ibu bisa berkonsultasi lebih lanjut mengenai hal ini dengan ahli perkembangan anak.