Whatsapp Share Like Simpan

Anak kecanduan gadget sebaiknya jangan dibiarkan, Bu. Gadget memang kini menjadi alat yang tak bisa lepas dari genggaman semua kalangan, termasuk anak-anak. Nah, gadget yang dimaksud di sini bukan sekedar handphone saja lho, tapi barang elektronik yang memiliki layar seperti halnya televisi. Lantas jika anak kecanduan gadget, bagaimana menghentikannya?

Seiring berkembangnya teknologi, keberadaan gadget sebenarnya juga ada untuk si Kecil. Dengan gadget kemampuan motorik mereka akan terstimulasi karena ada koordinasi jari dan mata saat mereka menggunakannya. Selain itu dengan teknologi yang ada di dalamnya, gadget juga membantu si Kecil untuk melatih cara mereka berpikir dan kreativitas mereka. Ada beberapa aplikasi yang bisa menyeimbangkan otak kanan dan kiri sehingga memberi stimulasi untuk kemampuan kognitif mereka.

Tapi, membiarkan anak bermain gadget tanpa aturan, bisa membuat anak kecanduan gadget. Anak-anak seharusnya aktif bergerak, menjelajahi lingkungan, berinteraksi dengan teman seumurannya. Gadget sering kali juga dijadikan ‘senjata’ ampuh para orang tua untuk membuat anak lebih tenang, utamanya dalam kondisi tantrum. Cara ini akhirnya menjadi kebiasaan sehingga anak pun ketergantungan terhadap gadget.

Dampak Buruk Gadget Membuat Anak Seperti Ini

Refleksikan pada diri sendiri; jika Ibu banyak bermain gadget di malam hari, biasanya kemudian akan menjadi sulit untuk tidur. Nah, hal ini sama tentunya jika terjadi pada si Kecil jika bermain gadget tanpa batasan dan aturan yang tepat waktu tidur mereka akan berkurang atau tidak cukup. Dampak buruk anak kecanduan gadget ini tentu mempengaruhi banyak hal, salah satunya menghambat pertumbuhannya.

Anak kecanduan gadget umumnya juga rentan mengalami mata minus, karena paparan sinar ponsel yang intens dan melalui jarak dekat. Saat dipaksakan untuk fokus dan menatap layar gadget terlalu lama, mata bisa mengalami stres dan berujung pada masalah penglihatan tersebut.

Artikel Sejenis

Dampak paling buruk yang mungkin terjadi dari kecanduan gadget pada anak adalah risiko terlambat bicara. Menurut Michael Robb, direktur riset Common Sense Media, gadget dapat memberi dampak buruk bila penggunaan perangkat tersebut menggantikan interaksi dua arah antara orangtua dengan anak. Contohnya seperti bermain, membaca, berbicara, bernyanyi, dan lain-lain. Dari situlah risiko terlambat bicara akibat kecanduan gadget pada anak terjadi. Waduh, jangan sampai si Kecil mengalaminya ya, Bu!

Cek Pedoman Memberi Gadget Pada Anak

Sebelum mengenal cara mencegah dan mengatasi kecanduan gadget pada anak, terlebih dahulu Ibu juga perlu mengetahui pedoman screen time menurut WHO sesuai dengan kategori usia setiap anak. Berikut di antaranya, Bu:

  • Bayi dengan usia kurang dari 18 bulan. Hindari penggunaan media layar selain obrolan video (dengan anggota keluarga). Penggunaan gadget hanya sebatas video call dengan keluarga atau kerabat yang lokasinya jauh.
  • Balita berusia 18 hingga 24 bulan. Pilih games atau tontonan yang sesuai dengan usia anak. Orang tua harus menontonnya bersama anak sehingga mereka bisa memahami apa yang mereka lihat dan cerita apa yang disampaikan. Dalam sehari lakukan screen time tidak lebih dari 1 jam atau semakin sedikit semakin baik.
  • Balita berusia 24 hingga 48 bulan. Anak boleh melakukan screen time maksimal 1 jam dalam sehari. Maksimalkan dan tambahkan aktivitas fisik pada anak untuk mengalihkan penggunaan gadget.

5 Pertolongan untuk Anak Kecanduan Gadget

Belum terlambat untuk mencegah kecanduan gadget pada anak. Jika sudah terlanjur pun, orangtua bisa mengalihkan anak dari kecanduan gadget yang sudah menjadi candunya setiap hari dengan cara berikut. Namun sebelum itu, pastikan sabar dan jangan menyerah sampai berhasil ya.

  1. Batasi penggunaan gadget

    Jika anak kecanduan gadget, pertama-tama cukup batasi penggunaan gadget dengan lebih disiplin. Selain mengikuti aturan screen time yang tepat menurut anjuran WHO, jika si Kecil punya gadget khusus untuk mereka berikan fitur kids mode. Dengan mode ini, akan muncul notifikasi pemberitahuan mengenai setiap aplikasi yang baru mereka download atau mereka akses di gadget milik Ibu. Mode ini juga memerlukan akses persetujuan dari orang tua sebelum anak dapat menggunakan aplikasinya. Sebisa mungkin, orang tua perlu mendampingi anak saat menggunakan gadget. Bantu mereka untuk memahami konten yang dilihat. Lalu untuk membatasinya lagi, hindari meletakkan gadget sembarangan karena anak bisa mengambil dan memainkannya kapan saja.

  2. Kurangi bermain gadget di depan anak

    Ibu ingin mengurangi screen time anak, agar tidak kecanduan gadget? Awali dengan memberinya contoh yang baik. Kebiasaan anak termasuk main gadget, amat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Bila sebagai orang tua kita sering terlihat memegang ponsel daripada berinteraksi dengan si Kecil, anak otomatis mengikuti kebiasaan ini. Atur waktu untuk diri sendiri dalam menggunakan gadget secara bijak. Ketika bersama anak, usahakan untuk tidak bermain gadget di depannya. Jangan sampai membatasi anak bermain gadget, tapi orangtuanya sendiri pun kecanduan gadget.

  3. Perbanyak aktivitas outdoor

    Cara mengatasi kecanduan gadget ini lumayan efektif bagi anak. Boleh jadi anak kecanduan gadget karena tidak ada aktivitas menyenangkan di luar rumah. Maka itu, isilah hari-harinya dengan berbagai kegiatan yang ia sukai. Semisal bermain sepeda atau ajak si Kecil jalan sore atau pagi hari ke sekitar rumah. Lama kelamaan, ia pun lupa dengan gadget karena waktunya terkikis habis dengan aktivitas tersebut.

    Sedangkan jika anak masih tergolong bayi di bawah satu tahun, hindari menjadikan gadget untuk mengalihkan rewelnya. Perbanyak aktivitas di lantai dengan mainan-mainan yang merangsang motorik bayi. Apabila ia belum bisa luwes bergerak, latih bayi untuk tengkurap dan terlentang sepanjang hari agar otot leher, dada, dan lengannya semakin kuat.

  4. Kurangi frekuensi main gadget secara bertahap 

    Sebisa mungkin, jangan memisahkan anak dari gadget secara konstan. Hal ini akan membuat emosinya meledak hingga tantrum. Cara yang tepat dalam menangani anak kecanduan gadget selanjutnya adalah dengan mengurangi frekuensi main gadget secara perlahan namun pasti. Misalnya dengan memberikan mereka waktu untuk main gadget hanya saat keperluan sekolah atau belajar, dan bermain atau menonton saat weekend dengan aturan screen time yang tepat.

  5. Bersikap lebih tegas dan disiplin

    Kecanduan gadget pada anak tak jarang membuatnya sampai tantrum. Tantrum adalah kondisi emosi anak yang meledak-ledak, ditandai dengan nangis dan teriak agar keinginannya itu dipenuhi. Orangtua jangan sampai menyerah karena amukan ini. Cobalah untuk bersikap lebih tegas, disiplin, serta konsisten agar kecanduan gadget pada anak bisa teratasi. Dengan sikap ini, anak pun akan mengerti kalau perbuatannya itu tidak baik. Jangan sampai iba dengan rengekan anak yang ingin terus bermain gadget, solusi lainnya alihkan juga pada beberapa pilihan aktivitas di luar rumah tadi.

Kecanduan gadget pada anak tidak bisa dibiarkan, karena sangat mempengaruhi perkembangannya. Nah, Ibu bisa melakukan tips di atas untuk mengatasi masalah kecanduan gadget ini. Semoga artikel ini membantu ya, Bu!

Selain memerhatikan perkembangan si Kecil, tentu setiap Ibu akan memperhatikan pula asupan nutrisinya setiap hari. Berikan sayuran dan makanan yang mengandung banyak vitamin terutama vitamin A. Dengan begitu kesehatan mata si Kecil akan tetap terjaga di tengah kebutuhan mereka untuk menggunakan gadget.

Frisian Flag PRIMAGRO 1+ bisa jadi salah satu asupan tambahan karena mengandung 14 vitamin dan 9 mineral beserta nutrisi lainnya yang dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan si Kecil. Tidak lupa ada kandungan vitamin A di dalam Frisian Flag PRIMAGRO 1+ lho Bu! Pastikan si Kecil minum 3 gelas per hari mendampingi makanan sehat lainnya agar kebutuhan vitamin A nya tercukupi.

Jangan lupa, Ibu bisa mengetahui progres pertumbuhan dan perkembangannya melalui fitur Rapor Tumbuh Kembang Prima yang juga terdapat dalam Akademi Keluarga Prima. Di fitur ini, tinggi badan anak, berat badan, lingkar kepala, dan indeks massanya akan diukur, serta disesuaikan dengan grafik pertumbuhan dari WHO.

Ditinjau oleh: Yeni Novianti, S.Gz