Share Like
Simpan

Saat sedang berkumpul bersama sanak saudara,Om yang baru tiba dari luar kota datang menghampiri si Kecil untuk mengajaknya bermain bersama.  Tak disangka, si Kecil malah menangis keras dan memeluk Ibu dengan erat. Aduh, ini kenapa ya?

Menurut Heidi Murkoff, penulis dari buku What to Expect When You're Expecting, kondisi psikologi anak seperti ini bisa ditemukan ketika ia memasuki usia 12-24 bulan.  . Rasa takut ini sebenarnya wajar, Bu. Setelah dari awal kelahirannya, ia selalu berada dalam pelukan dan bimbingan Ibu, wajah asing yang dilihat si Kecil mungkin terasa menyeramkan baginya. Apalagi, tampilan fisik orang dewasa mungkin masih terlihat "aneh" bagi si Kecil, misalnya ada saudara Ibu yang memiliki janggut tebal atau rambut keriting yang panjang.  

Sifatnya ini pun berhubungan erat dengan proses tumbuh kembang otak si Kecil. Otak memiliki bagian yang disebut sebagai amigdala. Bagian tersebut berperan penting dalam perasaan dan emosi manusia. Saat dewasa, hubungan antar amigdala dengan lobus frontal (bagian otak yang bertugas melakukan proses pikiran) sudah terjalin erat sehingga kita bisa mengontrol emosi dengan baik. Namun, si Kecil tentunya masih membutuhkan waktu lebih untuk mengembangkan hal tersebut. 

Dalam mengatasi rasa takutnya yang berlebihan, ada beberapa langkah yang bisa Ibu lakukan yaitu:

Berikan si Kecil Dukungan Emosional

Walaupun reaksinya berlebihan, tapi jangan memaksakan si Kecil untuk lepas dari pelukan Ibu dan segera menghampiri sosok yang ditakutinya tersebut. Sebaliknya, biarkan ia menenangkan diri bersama Ibu untuk membiasakan diri bersama mereka.

Biasakan si Kecil Berada di Antara Orang Banyak

Ketakutannya ini bisa saja terjadi karena ia belum terbiasa melihat orang yang tidak dikenalinya, untuk itu, cobalah untuk membiasakan si Kecil bermain dan berwisata di tempat publik seperti museum, kebun binatang, atau taman bermain. 

Selalu Berada Dekat Dengannya

Bu, ingatlah kalau kehadiran Ibu, sebagai sosok terdekatnya, merupakan kunci utama dari rasa nyaman dan aman si Kecil saat ini. Maka dari itu, tetaplah berada di dalam jangkauannya sementara ia beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang yang belum dikenalnya. Hal ini juga bisa Ibu lakukan saat hendak menitipkan si Kecil ke rumah Nenek atau anggota keluarga lain. Sebelum meninggalkannya, Ibu sebaiknya meluangkan waktu untuk menemani si Kecil bermain bersama mereka terlebih dahulu.

Cari Tahu Penyebabnya

Jika si Kecil selalu takut saat berada bersama anggota keluarga lain atau pengasuhnya, coba cari tahu penyebabnya, Bu. Mungkin saja si Kecil pernah mengalami kejadian yang tidak mengenakkan bersama mereka dan trauma akan hal itu. Hindari memaksa si Kecil untuk bersama mereka karena ini tidak baik bagi psikologi anak seusianya.

Walaupun terkadang meresahkan, dalam artikelnya di Everydayfamily.com, penulis dan praktisi medis dari California, Dr. Anna Kaplan menjelaskan bahwa perasaan takut si Kecil terhadap orang asing merupakan tanda perkembangan psikologi anak yang positif, ia sudah belajar membedakan mana orang yang dekat dengannya dan yang tidak.  Perasaaan was-was si Kecil terhadap orang asing juga tentu diperlukan agar ia terhindar dari ancaman orang asing yang berniat jahat kepadanya. Oleh sebab itu, cobalah untuk membekali si Kecil untuk menjaga dirinya dengan cara: 

  • Memberitahukan kepadanya, walaupun ia harus menghormati orang dewasa, tapi jika merasa terancam, si Kecil berhak untuk  mengatakan “Tidak!”.
  • Memberikan jaminan pada si Kecil bahwa Ibu akan selalu mencintainya dan ia bisa menceritakan apa saja kepada Ibu dan Ayah.
  • Memberikan pengetahuan pada si Kecil tentang batas-batas yang boleh dilakukan orang dewasa kepadanya dan memastikan kalau area pribadinya merupakan daerah terlarang yang tidak boleh disentuh orang lain.

Semoga tips kami bisa bermanfaat ya, Bu!