Share Like
Simpan

Si Kecil tiba-tiba sekujur tubuhnya bentol-bentol. Ketika Ibu memeriksakannya ke dokter, dokter menyatakan bahwa si Kecil mengalami alergi. Mengapa si Kecil bisa terkena alergi? Apakah setiap anak bisa mengalami alergi?

Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap zat tertentu di lingkungan, yang dalam keadaan normal tidak berbahaya. Zat ini disebut alergen atau bahan penyebab terjadinya alergi.

Alergen bisa berupa makanan, sengatan atau gigitan serangga, debu, tungau, binatang, serbuk bunga, dan lain-lain. Ketika alergen masuk ke dalam tubuh si Kecil, maka tubuh akan bereaksi, melepaskan zat yang disebut histamin. Nah, histamin inilah yang menyebabkan munculnya gejala-gejala alergi seperti bentol-bentol atau kaligata, bercak / ruam kemerahan pada kulit, gatal, bengkak di wajah/mata/bibir, mulut terasa kesemutan, muntah atau nyeri perut.

Reaksi alergi yang berat, disebut anafilaksis, ditandai dengan kesulitan bernapas, lidah/tenggorokan bengkak, pusing/pingsan, dan hal ini bisa berakibat fatal.

Apakah setiap anak akan mengalami alergi? Tentu tidak, ada yang disebut dengan faktor risiko. Faktor risiko merupakan hal-hal yang menjadikan seseorang rentan untuk menderita suatu penyakit, dalam hal ini alergi. Faktor risiko alergi di antaranya adalah adanya riwayat alergi dalam keluarga. Jika di keluarga ada riwayat alergi, maka peluang seorang anak untuk menderita alergi sekira 10-20%. Jika Ibu atau Ayah memiliki gejala alergi yang sama, maka risiko si Kecil mengalami alergi semakin besar, sampai 72%.

Jadi alergi merupakan gabungan antara faktor keturunan dan lingkungan (alergen). Gejalanya bisa berupa rinitis alergika (bersin dan/atau pilek), asma, gejala saluran cerna (diare, muntah), eksim (dermatitis alergika) atau anafilaksis. Untuk meminimalkan ‘penderitaan’ si Kecil karena alerginya, yang terpenting adalah meminimalkan atau menghindarkan kontak dengan alergen. Ajaklah si Kecil berkunjung ke dokter keluarga Anda untuk mengetahui alergen apa saja yang menjadi ‘musuh’ si Kecil agar tumbuh kembangnya tetap optimal meskipun si Kecil ‘berbakat’ alergi.