Share Like
Simpan

 Tak terasa si Kecil sudah tumbuh dan berusia 6 bulan, yang berarti saatnya Ibu mulai memberikan makanan pendamping ASI. Namun Ibu perlu ingat, pemberian makanan ini harus diberikan secara bertahap, yaitu dengan memberikan hanya satu jenis makanan dahulu dan tunggu selama 3 hari untuk melihat kemungkinan timbulnya alergi pada bayi. Jika tidak alergi, Ibu bisa memberikan satu jenis makanan lain, kemudian tunggu reaksinya selama 3 hari, begitu seterusnya.

Dengan langkah tadi, Ibu bisa memberikan waktu pada bayi untuk mengenal makanan barunya dan Ibu bisa mengenali dengan mudah bila ada reaksi yang timbul atau sulit mencerna makanan barunya.

Reaksi simpang terhadap makanan, meliputi:

A. Reaksi hipersensitivitas (alergi)
• kira-kira timbul 2-8% pada bayi atau anak usia < 3 tahun
• melibatkan reaksi imun yang bisa timbul segera atau beberapa saat setelah makan
• dapat menimbulkan gejala-gejala: sistemik (syok anafilaktik, gagal tumbuh), saluran cerna (diare, muntah, sakit perut), saluran napas (batuk, mengi, infeksi telinga), dan kulit (bintik-bintik kemerahan seperti eksim)
• dikaitkan dengan protein pada jenis makanan tertentu, seperti telur (atau putih telur), gandum, kacang, udang, kepiting), susu hewan, dan lainnya.

B. Intoleransi makanan yang bisa menimbulkan gejala-gejala yang hampir sama dengan reaksi hipersensitivitas. Contohnya adalah intoleransi laktosa (karbohidrat alami pada susu) yang disebabkan kekurangan laktase, yaitu enzim yang dihasilkan saluran cerna yang mencerna laktosa.

Bayi yang memiliki risiko tinggi mengalami alergi ditandai dengan adanya riwayat keluarga yang mengalami alergi. Bagi bayi dengan orang tua atau saudara kandung yang menderita alergi – dianjurkan untuk :
• memperkenalkan makanan pendamping ASI setelah mencapai usia sekurangnya 6 bulan
• menunda pemberian produk olahan hingga bayi berusia 1 tahun
• memperhatikan dengan seksama setelah si Kecil diperkenalkan dengan telur, kacang, dan ikan.


Cegah dengan hidup sehat
Untuk mencegah terjadinya alergi pada anak, Ibu bisa memulainya dari lingkungan di rumah, diantaranya:
* Mengurangi kontak dengan penyebab alergi di usia dini dapat menunda atau mencegah timbulnya alergi. Cuci alas tempat tidur dengan air hangat setiap minggu, jaga kelembaban dalam ruang di bawah 50% dan jika memungkinkan karpet/permadani dan furnitur dipindahkan dari kamar tidur bayi.

* Hindari paparan asap rokok. Merokok selama kehamilan dapat meningkatkan risiko mengi pada anak. Paparan asap rokok juga meningkatkan risiko anak mengalami asma atau penyakit saluran napas kronik lainnya.

* Infeksi yang terjadi di paru menjadi pemicu timbulnya asma. Menyusui atau pemberian ASI eksklusif hingga usia 6 bulan dapat memperkuat sistem imun bayi yang nantinya dapat mencegah terjadinya infeksi ini dan asma di kemudian hari. Setelah usia 6 bulan, ASI dapat dilanjutkan disertai dengan makanan pendamping ASI hingga usia 2 tahun.

* Cukup beristirahat, disiplin dalam mengonsumsi makanan, olahraga teratur, membentuk lingkungan dengan zat penyebab alergi minimal
* Obat-obatan tertentu yang mungkin akan diresepkan oleh dokter

Siapa yang berisiko?
• Memiliki riwayat penyakit alergi pada orang tua dan saudara kandung
• Mendapatkan makanan padat sebelum berusia 3-4 bulan (meningkatkan risiko eksim dan alergi makanan)
• Mendapatkan susu hewan atau susu nabati sebelum bayi berusia 3-4 bulan (meningkatkan risiko eksim dan alergi makanan)
• Terpapar asap rokok secara pasif (meningkatkan risiko gejala di saluran napas)