Share Like
Simpan

Membuat si Kecil tidak takut ke dokter gigi merupakan tantangan tersendiri bagi saya. Maklum, saya punya pengalaman tak menyenangkan ketika ke dokter gigi waktu kecil. Namun, saya tak ingin ia merasakan pengalaman yang sama. Meski rasa takut itu normal, saya berusaha agar kunjungannya ke dokter gigi tidak terasa mengerikan. Ini dia beberapa cara yang dapat dilakukan agar kondisi psikologi anak siap untuk diajak ke dokter gigi.

  • Tak perlu memaksa

Ketika mengajak si Kecil ke dokter gigi, jangan biarkan rasa gemas dan kesal membuat Ibu memaksanya, ya. Dengungan bor dan aroma klinik gigi yang khas akan membuat si Kecil semakin enggan dan takut. Kalau pemaksaan dilakukan, dikhawatirkan hal ini justru bisa membuat mental si Kecil semakin tidak siap, Bu. Bukan tidak mungkin pada rencana kunjungan selanjutnya ia akan menggeleng keras dan terus menghindar.

  • Mulai sejak dini

Berapa usia si Kecil saat ini, Bu? Idealnya, memperkenalkan si Kecil dengan dokter gigi dapat dilakukan sejak dini, yaitu saat umurnya menginjak satu tahun atau ketika gigi pertamanya mulai tumbuh. Kira-kira fase ini bersamaan dengan saat si Kecil belajar jalan atau belajar bicara. Mulai memperkenalkan dokter gigi sejak umur ini ampuh untuk mengurangi rasa cemasnya.

Di samping membuat suasana klinik dokter gigi lebih familier, hal tersebut juga memperkecil risiko perawatan gigi yang lebih kompleks, seperti gigi berlubang.  Jadi, ibu bisa lebih dini menjaga kesehatan gigi si Kecil. Ibu juga dapat mengenalkan sehingga ia tak ketakutan ketika ada orang lain yang melihat isi mulutnya.

  • Jangan menunjukkan ketakutan kita didepan si Kecil

Apakah Ibu pernah mengalami hal tak menyenangkan saat ke dokter gigi seperti saya? Sebaiknya, kita tidak menunjukkan atau menceritakannya pada si Kecil ya, Bu. Jika dilihat dari sisi psikologi anak, ini dapat menimbulkan bayangan menyeramkan. Apalagi, ketika kita merasa takut, ia dapat merasakannya. Sebaliknya, saat Ibu atau Ayahnya terlihat tenang, si Kecil juga dapat lebih kalem dan kooperatif.

  • Berikan contoh yang baik

Sering kali si Kecil tak percaya dengan kata-kata kita ya, Bu. Oleh karena itu, tunjukkan padanya bahwa kita juga bisa tenang dan nyaman saat perawatan. Jika Ibu memiliki kunjungan rutin ke dokter gigi setiap beberapa bulan sekali, ajak ia ikut serta. Terutama saat kunjungan tersebut merupakan perawatan standar dan tak terlihat menyakitkan, seperti scaling (pembersihan karang gigi). Biarkan ia melihat sendiri pengalaman orang lain. Ibu juga dapat menceritakan rasa segar dan bersih setelah selesai perawatan supaya ia juga tertarik melakukannya.

  • Cari suasana yang menyenangkan

Jika dulu ruang praktik dokter gigi identik dengan warna putih polos yang terlihat kaku dan menyeramkan, kini sudah banyak klinik gigi yang memiliki interior lebih berwarna. Carilah dokter gigi yang memiliki ruang praktik berdinding ceria dan dilengkapi Biasanya ini ada di dokter gigi khusus anak-anak.

  • Jangan menakut-nakuti

Apabila Ibu ingin si Kecil pergi ke dokter gigi dengan senang hati, tak perlu menggunakan kata-kata negatif yang terkesan mengancam atau menakut-nakuti ya, Bu. Kita dapat menghindari kata disuntik, dibor, berdarahMenakut-nakuti si Kecil juga tak membuat kunjungan menjadi lebih mudah, bukan? Lebih baik berikan pengertian bahwa dokter gigi dapat membantu menjaga kesehatan si Kecil.

  • Beri penghargaan

Bila si Kecil bersedia melakukan perawatan ke dokter gigi tanpa rasa takut, jangan lupa memberikannya penghargaan atau pujian ya, Bu. Lakukan hal sederhana seperti memeluknya atau memuji giginya yang terlihat bersih. Umumnya, dokter gigi menyiapkan hadiah-hadiah kecil, seperti sikat gigi warna-warni yang diberikan kepada anak usai perawatan.

Bagaimana, Bu? Sudah siap mengajak si Kecil ke dokter gigi? Hal utama yang perlu kita perhatikan sejak awal adalah tak membiarkan kunjungan pertamanya berakhir buruk. Oleh karena itu, jangan menunggu timbul penyakit terlebih dulu seperti gigi susu berlubang ya, Bu. Hal ini bisa mengurangi rasa takut dari segi psikologi anak sehingga menghindari terjadinya trauma. Yuk, buat gigi si Kecil tetap sehat dan kuat dengan rutin ke dokter gigi!