Whatsapp Share Like
Simpan

Bu, pernahkah Ibu melihat ada anak yang cenderung suka bertindak seenaknya atau tidak mau mendengarkan arahan dari orang lain? Anak seperti ini disebut juga anak impulsif, Bu. Apakah itu? Setelah melakukan pencarian, saya mendapatkan beberapa informasi seputar anak dengan perilaku impulsif. Langsung disimak ya, Bu.

Definisi Impulsif

Menurut Campbell dan Werry (1986) definisi impulsif adalah perilaku yang cenderung merusak dan tidak terkontrol akibat tindakan yang dilakukan tanpa memikirkan konsekuensinya terlebih dulu. Biasanya perilaku tersebut adalah bentuk respons emosional pelaku terhadap kejadian yang ia alami di masa lalu. Meski ia menyadari tindakan yang dilakukannya, tapi ia cenderung tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri sehingga terus melakukan hal tersebut.

Perilaku impulsif pada anak usia sekolah, menurut persepsi guru, merujuk pada anak yang bertindak spontan tanpa berpikir terlebih dahulu. Salah satu contoh perilaku impulsif adalah anak mengerjakan tugas tanpa mempelajari petunjuk terlebih dahulu. Sudah pasti hasilnya pun akan salah.

Apakah Perilaku Impulsif Normal?

Sebenarnya, menurut Kauffman (1989), perilaku impulsif pada masa anak-anak adalah hal yang normal. Namun, saat mereka mulai bertambah besar, maka seharusnya mereka mulai belajar tentang respon. Tindakan yang meledak-ledak pada anak impulsif akan bermasalah saat anak berbaur dalam lingkungan sosial.

Contoh tindakan impulsif dalam lingkungan misalnya, anak tidak mau menunggu giliran tetapi langsung bertindak sebelum diminta. Atau, memukul teman yang sebenarnya hanya berniat menggoda/bercanda. Menurut penelitian, anak-anak yang pada masa kecil dibiarkan berperilaku impulsif akan lebih mudah melakukan hal tidak baik saat dewasa, seperti merokok, menggunakan obat terlarang (narkoba), atau timbul masalah lain seperti gangguan makan, bahkan bunuh diri.

Artikel Sejenis

Tanda-tanda dalam Perilaku Impulsif

Ada empat tanda anak impulsif, yakni sebagai berikut:

  • Urgensi: anak cenderung selalu terburu-buru dalam mengerjakan sesuatu.
  • Kurang berpikir: anak bertindak tanpa dipikir atau direncanakan terlebih dahulu.
  • Kurang usaha: anak mudah menyerah jika diberi tugas.
  • Sensasi mencari: anak hanya mencari kesenangan tanpa memikirkan konsekuensinya.

Penyebab Perilaku Impulsif

Apa penyebab anak berperilaku impulsif? Karena merupakan kasus yang berkaitan dengan perhatian dan perilaku aktif, maka tidak ada penyebab yang pasti terhadap masalah ini. Namun menurut para ahli, ada banyak faktor yang mendorong anak berperilaku impulsif. Inilah beberapa faktornya:

  1. sifat yang cenderung hiperaktif
  2. temperamental
  3. pengaruh lingkungan keluarga
  4. gender
  5. karakteristik orang tua

Menghadapi Anak Impulsif

Beberapa hal yang dapat Ibu lakukan untuk menghadapi anak impulsif adalah:

  1. Mengajarkan keterampilan mengendalikan diri dan menunggu. Misalnya sebelum memulai mengerjakan PR, anak diharuskan duduk manis, tangan di atas meja dan lakukan kontak mata. Mintalah ia mendengarkan baik-baik petunjuk dari Ibu. Jika anak bisa menjalankan semua tahapan ini, berikan ia pujian. Dengan begitu, ia akan merasa senang.
  2. Berikan tugas-tugas lebih sederhana dan singkat dalam satu waktu. Karena anak impulsif cenderung terburu-buru, maka tugas yang panjang dan bermacam-macam bisa dipastikan tidak akan berhasil dilakukannya. Lebih baik latih anak mengerjakan tugas satu per satu, mulai dari tugas yang paling sederhana. Misalnya, meletakkan mainan di tempatnya setelah selesai bermain. Setelah satu tugas selesai, Ibu baru bisa memberikan ia tugas yang lain. Jangan memberikan beberapa tugas sekaligus, karena hanya akan membuatnya frustasi.
  3. Mengatakan bahwa perilakunya tidaklah benar. Anak perlu untuk diberi tahu bahwa perilaku impulsif tersebut bukan merupakan perilaku yang baik. Katakan padanya bahwa orang lain tidak suka dan merasa terganggu dengan perilakunya. Jika ia terus melakukannya, maka tidak akan ada orang yang mau mendekatinya. Ibu dan Ayah pun merasa sedih dengan yang ia lakukan. Proses memberitahu ini mungkin akan memakan waktu, Bu, karena anak belum dapat memahami sepenuhnya tentang tindakan yang ia lakukan. Namun jika Ibu terus memberitahunya dengan nada lembut dan penuh kasih sayang, maka perlahan ia pun akan memahaminya.
  4. Memberikan contoh perilaku yang benar. Anak merupakan fotokopi dari orang tuanya. Tindakan dan ucapan yang orang tua lakukan akan terekam dalam ingatannya dan membuat anak ingin meniru dari orang tuanya. Untuk itu, sangat penting bagi Ibu dan Ayah untuk memberikan contoh tindakan dan ucapan yang baik di depan anak.
  5. Selalu hadir untuk mendukung anak. Salah satu faktor yang dapat mengendalikan perilaku anak yang impulsif adalah ketika ia merasa dekat dengan orangtuanya. Meskipun anak melakukan tindakan yang salah, tapi Ibu harus selalu mendampingi dan mendukungnya. Kehadiran dan dukungan dari Ibu akan membuat anak merasa dihargai, sehingga ia mau untuk berubah jadi lebih baik.

Nah, itulah informasi seputar anak impulsif yang bisa saya bagikan kepada Ibu. Jika perilaku impulsif pada anak mulai meresahkan, Ibu dapat membawanya berkonsultasi ke psikolog, khususnya psikolog anak, ataupun ke ahli perkembangan anak lainnya. Semakin cepat anak mendapatkan penanganan, semakin cepat pula perilaku impulsifnya dapat disembuhkan. Jangan sampai perilaku negatif ini berdampak buruk pada masa depan anak ya, Bu.

Ibu punya pertanyaan lainnya seputar tumbuh kembang dan kesehatan anak? Konsultasikan saja di laman Tanya Pakar, nantinya para ahli yang akan menjawab semua pertanyaan Ibu. Untuk bisa menggunakan fitur tersebut, pastikan Ibu sudah registrasi terlebih dulu, ya.