Whatsapp Share Like
Simpan

Permasalahan yang terjadi di dalam rumah, baik dalam skala besar atau kecil, biasanya akan memunculkan perdebatan atau adu argumen. Selama adu argumen yang terjadi masih dalam batas wajar, tentu tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun bagaimana jika adu argumen yang terjadi berujung pada kontak fisik? Tentu, hal ini tidak boleh dibiarkan terjadi.

Ketika berada di dalam rumah, tentu si Kecil secara sadar maupun tidak akan melihat setiap perilaku setiap anggota keluarga yang ada di sekitarnya. Entah baik atau buruk, si Kecil secara alami akan meniru berbagai hal yang dilihatnya. Oleh karena itu, tindak kekerasan baik berupa verbal maupun fisik hendaknya tidak dilakukan di dalam rumah agar si Kecil tidak terbiasa dengan hal demikian.

Pada satu dan beberapa kejadian, ada saja anak-anak yang gemar melakukan kekerasan fisik pada teman atau orang lain disekitarnya untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Tak pelak, perilaku ini akan mengganggu orang disekitarnya. Jika Ibu mengetahui sifat si Kecil yang demikian, harus ada langkah yang dilakukan untuk menghentikannya. Karena bagaimanapun, kekerasan tidak boleh dibiarkan berkembang di dalam diri si Kecil.

Lalu apakah cara yang harus dilakukan? Apakah dengan memarahi si Kecil secara frontal? Apakah dengan memberi perlakuan fisik tertentu agar si Kecil merasakan yang dia lakukan pada orang lain? Tentu hal ini bisa dihindari, sebab segala bentuk kekerasan yang diterima si Kecil pada akhirnya akan berdampak buruk dan meninggalkan ingatan bawah sadar yang sama sekali tidak membangun.

Ibu bisa bekerja sama dengan pihak lain, misalnya sekolah atau orang lainnya, untuk membantu si Kecil menghilangkan kebiasaan kasarnya ini.

Artikel Sejenis

Kenali Penyebabnya

Kebiasaan perlakuan kasar secara fisik yang dilakukan si Kecil tentu memiliki sebab. Biasanya, si Kecil yang berlaku kasar belum mengetahui cara baik untuk menghadapi kekecewaan atau kemarahan yang dirasakannya. Penting untuk mengetahui penyebab utama mengapa si Kecil merasa kecewa, sedih, marah, atau emosi negatif lain yang mendorongnya berbuat demikian.

Upayakan untuk mengetahui penyebab utamanya, sehingga Ibu dapat membantu si Kecil menyelesaikan persoalan atau memberikan pengertian. Terkadang solusi utama dari menghilangkan kebiasaan buruk ini adalah mau mendengarkan apa yang dirasakan si Kecil. Lakukan pendekatan perlahan dari hati ke hati, kemudian selidiki apa yang menyebabkannya berlaku demikian.

Tetapkan Batas Tegas

Ketika berada di dalam rumah, berikan aturan tegas sejak dini untuk si Kecil, dan setiap anggota keluarga. Kekerasan dalam bentuk apapun tidak dapat ditoleransi dan tidak boleh dilakukan oleh siapapun. Ketika Ibu mendeteksi adanya tindak kekerasan, baik verbal maupun fisik, sesegera mungkin hampiri si Kecil dan langsung alihkan atau peringatkan si Kecil.

Penetapan batas tegas ini bisa jadi upaya preventif sebelum munculnya kebiasaan memukul atau bermain fisik pada si Kecil. Berikan pemahaman, bahwa tidak ada yang akan dapat diselesaikan dengan kekerasan dalam bentuk apapun. Latih si Kecil untuk bisa menghadapi rasa kecewa atau kemarahannya dengan respon yang lebih baik, seperti lebih mengerti keadaan yang ada.

Menjadi Role Model Utama

Ibu merupakan orang yang paling dekat dengan si Kecil, baik secara fisik maupun emosional. Tak pelak, setiap hal yang dilakukan Ibu akan menjadi contoh yang ditiru oleh si Kecil. Ini mengapa, sangat penting untuk senantiasa menjaga tingkat emosi Ibu sehingga si Kecil tidak melihat sosok yang menjadi contohnya marah-marah atau berbicara dengan nada kasar kepada siapapun.

Jika memang sudah terlanjur, Ibu masih bisa memberikan contoh yang baik untuk menghadapi kemarahan. Ungkapkan ketika Ibu merasa marah atau kecewa, namun tunjukkan bahwa perasaan tersebut bisa disalurkan untuk hal lain yang tidak berkaitan dengan kekerasan verbal maupun fisik. Proses ini tidak akan berjalan cepat, dan sangat membutuhkan kesabaran dari seorang Ibu untuk memberikan contoh baik pada si Kecil.

Konsumsi Media di Dalam Rumah

Penting untuk memperhatikan konsumsi konten media yang terjadi di dalam rumah. Paparan berita kriminal atau kekerasan bisa jadi penyebab kenapa si Kecil memiliki perilaku kurang baik. Pendampingan yang ketat harus dilakukan dalam mengkonsumsi konten media, agar si Kecil tidak salah paham pada apapun yang disampaikan di media.

Selain itu, Ibu bisa memastikan bahwa media yang dikonsumsi si Kecil sesuai dengan umurnya. Berikan pengertian jika terjadi sesuatu yang kurang terpuji dan harus dilihatnya, sehingga si Kecil memiliki pemahaman dasar pada apa yang dilihatnya dan tidak serta merta meniru hal buruk yang dilihatnya.

Kebiasaan si Kecil yang suka memukul atau berkata kasar memang tidak bisa dihilangkan pada tempo yang singkat. Perlu pendampingan yang berlanjut serta arahan yang terus menerus. Meski keadaan lingkungan kadang berperan besar dalam hal ini, namun pastikan si Kecil memiliki interaksi yang sehat di dalam rumah, sebagai bekalnya menghadapi pergaulan di luar rumah.

Kemampuan si Kecil menyerap pelajaran baru sangat hebat pada masa awal kehidupannya, ini mengapa penting memberikan contoh baik, pada cara berbicara dan berperilaku ketika si Kecil masih belajar di lingkungan rumah. Si Kecil akan semakin pintar untuk membedakan, mana yang baik dan kurang baik. Sehingga pada akhirnya, si Kecil memiliki kemampuan menyaring berbagai hal yang dihadapinya.