Whatsapp Share Like
Simpan

Siapa yang tidak mau memiliki anak aktif bergerak, cepat tangkap dan pandai berkomunikasi? Setiap Ibu pasti mendambakan ketiga hal ini untuk si Kecil yang disayanginya. Si Kecil yang percaya diri akan lebih mudah bergaul dan berinteraksi ketika tiba di lingkungan baru. Kepandaiannya dalam berbicara bisa jadi modal utama dalam mendapatkan banyak teman baru.

Selain pandai berbicara, si Kecil juga wajarnya memiliki kepekaan emosional terhadap orang di sekitarnya. Satu dan lain kesempatan, ketika si Kecil menghadapi masalah, ia akan pandai menemukan penyelesaian yang bisa menyenangkan banyak pihak. Kecerdasan emosional seperti ini bisa diasah dengan berbagai stimulus sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Namun bagaimana jadinya jika kepandaian berbicaranya justru mengarah pada kebohongan? Si Kecil biasanya akan mulai mengenali ‘kebohongan’, bagaimanapun konsepnya, pada usia sekitar tiga tahun. Si Kecil mulai menyadari bahwa orang tuanya bukanlah pembaca pikiran yang bisa mengetahui apapun yang dipikirkannya sehingga terkadang si Kecil melakukan kebohongan kecil.

Ketahui Penyebabnya

Ketika Ibu mengetahui bahwa si Kecil mulai berbohong, sebenarnya langkah awal untuk menghadapinya adalah mengetahui apa alasannya berbohong. Jika dilihat secara mendasar, paling tidak ada lima alasan utama yang jadi latar belakang mengapa si Kecil mengungkapkan kebohongan ketika ia berkomunikasi.

Yang pertama adalah si Kecil ingin menutupi sesuatu yang mungkin memberikan masalah untuknya. Hal ini wajar, karena si Kecil juga mulai mengenal konsep hadian dan hukuman sebagai konsekuensi perbuatannya. Kedua, si Kecil berbohong hanya untuk melihat bagaimana respon Ibu pada hal tidak benar yang diungkapkannya.

Artikel Sejenis

Ketiga, si Kecil akan berbohong untuk membuat cerita yang lebih menarik dan menampilkan dirinya sebagai sosok lebih baik dari sebenarnya. Biasanya hal ini terjadi karena si Kecil kurang mendapat apresiasi atas prestasi dan karya yang dibuat. Keempat, untuk mendapatkan perhatian. Dan terakhir untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, baik itu makanan, mainan atau hal lain.

Menghadapi Kebohongan si Kecil

Untuk menghadapi kebohongan yang dibuat si Kecil, berdasarkan lima alasan tadi, Ibu bisa melakukan hal di bawah ini. Terdengar sederhana, namun efek yang diberikan akan diingat si Kecil dan tertanam pada alam bawah sadarnya. Cara paling ampuh adalah dengan membiasakan berkata jujur atas apa yang terjadi.

  1. Tanggapan positif

    Ketika Ibu mengetahui bahwa si Kecil sedang menceritakan sebuah kisah yang tidak benar, upayakan tidak langsung menghukumnya. Berikan respon positif, seperti ‘Kita bisa menjadikannya sebuah buku cerita yang menarik’. Respon ini menyiratkan bahwa Ibu mengetahui bahwa si Kecil berbohong.

    Si Kecil sendiri akan mendapatkan efek pengingat ini. Di sisi lain, si Kecil juga akan memiliki ide untuk menjadikannya satu cerita imajinatif, sehingga ia tidak perlu lagi berbohong dan mengarang cerita dengan motivasi yang kurang baik. Siapa tahu si Kecil memang memiliki imajinasi yang luar biasa dan ide brilian bukan?

  2. Bantu lepas dari situasi mendorong kebohongan

    Cara ini bisa dilakukan dengan pengkondisian tertentu. Artinya misal Ibu mengetahui ada kesalahan yang dilakukan si Kecil, Ibu bisa langsung memberikan respon untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Pertanyaan awal boleh saja dilakukan, namun seketika si Kecil mulai mengarang cerita bohong, segera tanggapi dengan solutif.

    Perilaku ini bisa membuat si Kecil ‘terbebas dari dorongan’ untuk berbohong untuk menutupi sesuatu. Ketika si Kecil melihat respon Ibu yang lebih positif, maka si Kecil akan terbiasa untuk berkata jujur dan tidak mengarang cerita.

  3. Membesar-besarkan cerita

    Membuat cerita sesungguhnya nampak lebih hebat atau lebih dahsyat juga merupakan bentuk kebohongan yang biasanya diceritakan si Kecil. Hal ini didasari pada keinginan si Kecil untuk mendapat pujian, atau apresiasi, atau kekaguman dari Ibu atau lingkungan sekitarnya.

    Untuk menghadapinya, Ibu bisa memberikan lebih banyak apresiasi pada setiap hal yang dilakukan si Kecil. Apresiasi pada hal sederhana akan membantu si Kecil mengembangkan kepercayaan diri, sehingga tidak perlu mengarang cerita atau melebih-lebihkan keadaan sebenarnya.

  4. Berikan aturan jelas mengenai kebohongan

    Pemberian aturan jelas ini sangat membantu untuk mengurangi kebohongan yang dilakukan si Kecil. Jika berupa kebohongan kecil mungkin masih dapat ditoleransi. Namun untuk kebohongan lebih besar, harus ada konsekuensi yang diberikan. Selain memberikan pelajaran bahwa bohong adalah hal yang salah, konsekuensi ini juga membantu memotivasi si Kecil untuk menjadi pribadi yang jujur.

Memberikan pelajaran dan penanaman nilai kejujuran pada si Kecil memang tidak mudah. Selain harus sabar, Ibu juga harus memiliki kegigihan yang besar untuk menanamkan nilai ini. Si Kecil yang Pintar pada usia dini, tiga hingga enam tahun, akan mudah menyerap pelajaran jika disertai dengan contoh nyata. Jangan ragu berikan contoh, dan selalu dorong si Kecil untuk berkata jujur.