Share Like
Simpan

Bu, saya baru tahu. Ternyata, akting itu bukan hanya ada di panggung atau film saja lho dan bukan hanya aktor atau aktris saja yang melakukannya, tapi juga si Kecil! Lho, memangnya si Kecil bisa berakting?

Di tahap batita ini, biasanya kita sering menemukan sifat si Kecil yang suka berakting berlebihan. Contohnya nih Bu, waktu anak saya berumur 3 tahun, dia biasanya suka sekali mendadak berteriak dan menangis berlebihan secara dramatis bak aktor dan aktris layar kaca. Padahal alasan di balik emosinya itu mungkin sebenarnya sederhana.

Nah, setelah ngobrol-ngobrol dengan teman dan dokter si Kecil, saya jadi tahu kalau ternyata sikapnya ini memang wajar terjadi di tahap usia ini. Mau tahu apa solusinya, Bu? Berikut ini ada beberapa contoh sikap akting berlebihan si Kecil dan cara mengatasinya:

Berbohong

Sebenarnya, bohong bukan berarti dia sengaja berbuat salah, Bu. Anak di usia ini belum mengerti kalau mengatakan sesuatu yang tak benar itu salah, Bu. Biasanya, anak memiliki dua jenis kebohongan: bohong untuk melindungi diri sendiri, dan bohong berkhayal. Yang pertama, bisa dengan tak mengakui kalau dia tak mencoret dinding hanya karena takut dimarahi. Sedangkan yang kedua, bisa dengan berkhayal bahwa dia mendapatkan robot raksasa di hari ulang tahunnya. Hal ini normal, karena kenyataan dan fantasi di usianya masih samar.

Yang bisa kita dilakukan: Yuk, coba ubah sikap bohongnya itu, Bu. Jika dia berbohong dengan mengatakan kalau dia boleh nonton TV oleh ayahnya, maka katakan: “Ibu tahu kamu ingin Ayah membolehkan kamu nonton TV. Tapi Ibu juga tahu kalo Ayah nggak bilang gitu. Jadi kita harus nunggu besok buat nonton TV lagi.” Dengan cara ini, dia akan menyadari kalau kebohongan tak akan memberinya keuntungan apa-apa.

Merengek

Seringkali, si Kecil membutuhkan perhatian dari Ibu karena sedang bosan atau lapar. Nah, untuk mengekspresikannya, dia jadi suka berteriak melengking dan menangis. Ini karena dia menyadari kalau hal tersebut dapat membuat perhatian kita seketika tertuju kepadanya. Jadinya, langsung deh dia menaikkan nada suara saat sedang kesal atau ingin sesuatu dan langsung tenang saat Ibu sudah berada bersamanya.

Yang harus dilakukan: Walaupun suaranya membuat Ibu ingin memasang penutup telinga, tapi sangat penting bagi Ibu untuk tetap tenang. Katakan padanya kalau Ibu tak mengerti apa yang dia mau kalau ia merengek. Jadi, jika dia harus menggunakan suara yang lebih pelan.

Meniru Adegan TV

Dulu, waktu saya dan saudara sedang berkumpul bersama, kami semua sempat dikagetkan dengan sikap anak dari sepupu saya yang mendadak berteriak, “Bos Romlaaaah!” Lho kok, ada apa ini? Ternyata, dialog ini ditirunya dari serial TV yang sering ditontonnya, Bu. Yap, seringkali kita lupa kalau di usianya saat ini, si Kecil seperti spons yang bisa menyerap apa saja yang dilihatnya, termasuk tayangan TV yang kita tonton.

Yang harus dilakukan: Cara yang paling mudah tentunya dengan lebih ketat lagi menyeleksi acara TV yang ditontonnya, bahkan acara kartun sekalipun. Jika Ibu memiliki pengasuh, ingatkan juga kepadanya untuk tidak menonton tayangan TV yang tidak sesuai saat sedang bersama si Kecil. Kemudian, selalu dampingi si Kecil saat menonton, dan jelaskan kepadanya hal-hal yang tidak baik untuk ditirunya.

Menghadapi si Kecil yang suka berakting memang menantang ya, Bu. Tapi selalu ingat bahwa kita harus menghadapinya dengan ketenangan. Selain itu, coba gali terus potensi si Kecil, Bu. Siapa tahu, dia memang bakat berakting di depan layar?