Share Like
Simpan

Bu, selama ini mungkin Ibu beranggapan peer pressure atau tekanan dari teman sebaya identik dengan pergaulan di dunia remaja, ya. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah, kok. Namun, tahukah, Ibu? Ternyata, seperti halnya remaja, balita pun rentan mengalami hal ini, lho! Peer pressure bahkan memengaruhi kondisi psikologi balita dan berpotensi memicu stres pada anak. Mau tahu info selengkapnya? Yuk, simak fakta-fakta seputar peer-pressure yang saya dapat dari artikel di forum diskusi tumbuh kembang anak online berikut ini!

Memahami Peer Pressure

Peer pressure atau tekanan dari teman sebaya adalah kondisi yang menyebabkan seseorang merasa perlu berperilaku sama atau sesuai dengan orang-orang seusianya. Meski banyak yang mengira peer pressure hanya dialami remaja di masa pencarian jati diri, nyatanya kondisi ini dialami oleh setiap orang dari berbagai tingkat usia, termasuk balita. Mengapa begitu?

Menurut artikel yang saya baca, peer pressure adalah efek dari sosialisasi, Bu. Begitu seseorang mulai aktif bersosialisasi di lingkungan yang lebih luas, secara alami timbul dorongan dari dalam dirinya untuk tampil atau berperilaku seperti orang-orang seusianya. Jika tidak, ia akan merasa ada yang kurang dari dirinya dan teman sebayanya pun cenderung mengucilkannya.

Bentuk Peer Pressure pada Balita

Mengingat usianya masih cukup dini, bentuk peer pressure yang dialami si Kecil biasanya terbilang sederhana, Bu. Misalnya, si Kecil tiba-tiba bilang pada Ibu bahwa ia perlu uang jajan ke sekolah karena tak cukup bila sekadar membawa bekal, meminta dibelikan mainan atau pakaian bergambar karakter kartun tertentu, pergi ke tempat wisata tertentu yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, dan sebagainya. Biasanya, ini terjadi setelah si Kecil melihat atau mendengar cerita dari teman-teman sebayanya. Karena khawatir teman-teman akan menjauhinya bila ia ketahuan berbeda, balita kesayangan Ibu lantas meminta hal-hal tadi agar ia terlihat sama seperti teman-temannya dan tetap bisa bermain bersama mereka.

Lakukan Ini Bila si Kecil Mengalami Peer-Pressure

Mengingat di usia balita seperti saat ini si Kecil baru belajar bersosialisasi di lingkungan yang lebih luas, Ibu perlu mendampinginya saat mengalami peer pressure agar tidak menimbulkan kekhawatiran berlebih pada anak. Hal ini penting sebab bisa mencegah gangguann pada kondisi psikologi balita.  Nah, menurut artikel yang saya baca, berikut beberapa hal yang bisa Ibu lakukan:

  1. Bekali Anak dengan Konsep Diri yang Baik

Artikel yang saya baca menyebutkan, efek peer pressure bisa berbeda-beda pada setiap anak. Balita yang sejak awal memiliki konsep dan citra diri positif akan cenderung lebih terlindungi, Bu. Oleh karenanya, penting bagi Ibu untuk membekali si Kecil dengan konsep dan citra diri yang baik sejak awal. Misalnya, berikan apresiasi untuk setiap Momen Wow yang dilakukan si Kecil. Selain itu, hindari langsung memarahi dan melabeli anak dengan label buruk saat ia melakukan kesalahan. Dengan begini, anak akan tumbuh percaya diri, sehingga tak akan ketakutan berlebihan bila ia tak terlihat sama seperti teman-temannya. 

 

  1. Berusahalah Mengenal Kelompok Bermain si Kecil Lebih Dekat

Selanjutnya, Ibu juga perlu mengenal lebih dekat kelompok bermain si Kecil. Caranya, Ibu bisa meminta balita kesayangan untuk sesekali mengajak teman-temannya ke rumah. Ibu juga bisa mengantar si Kecil saat hendak bermain ke rumah teman dekatnya. Dengan begini, Ibu tak hanya mengenal teman si Kecil, tetapi juga keluarganya. Melalui cara ini, jalinan hubungan kekeluargaan antara Ibu dan keluarga dari teman si Kecil menjadi lebih baik. Pertemanan yang dibangun pun lebih positif, sehingga si Kecil terhindar dari peer pressure yang membuat anak merasa tertekan.

  1. Sediakan Waktu untuk Mendengar Keluh Kesah si Kecil

Supaya peer pressure tidak mengganggu perkembangan pada anak, orang tua perlu mengetahui hal yang dialami si Kecil setiap hari, dari waktu ke waktu. Oleh sebab itu, usahakan selalu menyediakan waktu bagi si Kecil untuk menceritakan kesehariannya ya, Bu.

Sebisa mungkin, pancing si Kecil untuk bercerita seputar apa saja yang ia lakukan bersama teman-temannya dan bagaimana ia melihat dirinya di tengah kelompoknya itu. Dengan begini, Ibu bisa mengetahui apakah si Kecil merasa terintimidasi, tertekan, atau justru sebaliknya.  

Peer Pressure Tak Selalu Buruk

Meski memicu rasa khawatir, ternyata peer pressure tak selalu buruk lho, Bu. Dalam artikel yang saya baca, Wakil Direktur Peer Research Laboratory The City University of New York, Amerika Serikat, Frank Riessman mengungkapkan, peer pressure bisa memicu anak untuk mengevaluasi diri sekaligus menyesuaikan tingkah lakunya dengan lingkungan. Dengan kata lain, keberadaan peer pressure sebenarnya membantu Ibu mengasah kemampuan sosialisasi si Kecil.

Supaya efek peer pressure yang didapat si Kecil positif dan tidak memicu stres pada anak, arahkan balita kesayangan Ibu untuk berteman dengan anak-anak yang memiliki citra diri positif. Misalnya, anak-anak yang gemar membaca buku, suka berolahraga, dan sebagainya.  

Saya telah menerapkan tips di atas kepada si Kecil agar ia bisa menghadapi peer pressure dengan baik. Bagaimana dengan Ibu? Semoga info ini bermanfaat dan bisa membantu Ibu mendampingi si Kecil menghadapi peer-pressure, ya!