Share Like
Simpan

Ibu hamil memerlukan asupan makanan yang sarat dengan gizi atau nutrisi. Makanan bergizi tersebut diperlukan untuk kesehatan Ibu dan kesehatan bayi yang tengah tumbuh di dalam rahim Ibu. Namun ada beberapa makanan yang perlu Ibu hindari. Dengan memahami makanan apa yang perlu dihindari selama kehamilan, Ibu dapat membuat pilihan sehat bagi Ibu sendiri maupun bayi.

Kehamilan juga dapat mempengaruhi sistem daya tahan tubuh Ibu dan bayi, jadi Ibu menjadi lebih rentan terhadap bakteri, virus dan parasit yang dapat menimbulkan penyakit yang diakibatkan oleh makanan. Walau kadang Ibu tidak merasakan gejalanya, misalnya adanya bakteri Listeria dan parasit toksoplasma, namun dapat menginfeksi bayi dan menyebabkan gangguan kesehatan dan perkembangannya. Bayi pun peka terhadap makanan yang Ibu makan, misalnya saja terhadap kadar merkuri yang terkandung dalam beberapa jenis ikan.

Tak dipungkiri seafood merupakan salah satu sumber protein yang baik, begitu pula dengan kandungan asam lemak omega-3 yang ada pada banyak ikan dapat membantu meningkatkan perkembangan bayi Ibu. Namun ada beberapa ikan yang mengandung merkuri dalam kadar tertentu. Merkuri yang berlebihan dapat mengganggu proses perkembangan sistem saraf bayi.

Ikan yang perlu dihindari oleh ibu hamil sesuai anjuran badan pengawas makanan dan obat Amerika (The food and Drug Administration /FDA) dan agen proteksi lingkungan (Environtmental Protecion Agency/EPA), antara lain: ikan hiu, ikan todak/cucut (swordfish), makarel raja, dan tilefish yang kurang terkenal di Indonesia.

Ada beberapa ikan yang dikemas dalam kaleng, menurut FDA dan EPA, ibu hamil dapat mengonsumsi 340 gram ikan per minggunya. Hal ini sama dengan rekomendasi Dietary Guidelines for Americans (2010), 8-12 ounces seafood per minggu. Ukuran tersebut dapat diperkirakan menjadi dua porsi makan dari pilihan udang, kepiting, salmon, kod, catfish, dan ikan tuna (steak ikan tuna sebaiknya tidak melebihi 170 gram per minggu).

Hindari konsumsi ikan yang tidak dimasak atau dalam keadaan mentah (sushi), karena makanan ini kemungkinan mengandung parasit atau bakteri tertenu. Sebaiknya konsumsi ikan yang dimasak hingga suhu sekira 650 C.

Kadang saat Ibu membuat kue kering/kukis dan mencoba adonan mentahnya, perlu waspada karena adonan mentah ini mungkin mengandung bakteri salmonella yang dapat mengganggu saluran cerna.

Selain itu, keju mentah atau keju yang terbuat dari susu tidak dipasteurisasi kemungkinan juga mengandung bakteri E. coli dan Listeria. Sebelum mencoba keju-keju ini, sebaiknya ibu membaca label pada kemasan dan pastikan keju terbuat dari susu yang sudah dipasteurisasi.

Ibu ingin minum susu? Untuk itu, Ibu harus memilih susu yang sudah dipasteurisasi. Karena bila tidak dipasteurisasi, susu tersebut kemungkinan mengandung bakteri Campylobacter, E. coli, Listeria dan Salmonella yang dapat menyebabkan gangguan pada saluran cerna Ibu dan kesehatan si Kecil.

Daging seperti sapi, ayam, dan kambing, yang tidak dimasak dengan baik, dapat mengandung bakteri E. coli. Jadi, pastikan sebelum dimakan, daging-daging lezat ini harus dimasak hingga matang benar.

Pate atau olesan yang mengandung daging yang biasanya menjadi olesan untuk roti atau sandwich bila tidak disimpan dalam lemari es, dapat mengandung bakteri listeria. Wanita hamil yang terkena infeksi bakteri listeria dapat menyebabkan kelahiran prematur, keguguran dan infeksi berat saat si Kecil lahir.

Begitu pula dengan telur. Telur yang tidak dimasak dengan baik atau matang, dapat mengandung Salmonella. Ingin makan telur? Sebaiknya ibu memasaknya dengan matang hingga kuning telurnya cukup matang.

Sayuran mentah atau kecambah/taoge yang tidak dimasak dapat mengandung bakteri E. coli dan Salmonella. Masak dengan benar sayuran bila ibu ingin mengonsumsinya.

Produk susu dan olahannya seperti susu skim, keju mozzarella dan keju cottage, bisa menjadi salah satu makanan bergizi. Namun ingat, bila semua produk ini tidak dibuat dari susu yang dipasteurisasi, sebaiknya Ibu tidak mengonsumsinya karena dapat menyebabkan gangguan kesehatan.

Dengan demikian, maka Ibu tentu sebaiknya memperhatikan makanan yang Ibu konsumsi demi kesehatan Ibu dan si Kecil dalam kandungan.