Share Like
Simpan

Saat akhir pekan tiba, Ibu pasti ingin langsung merencanakan kegiatan seru yang bisa dilakukan bersama si Bayi sehat dan anggota keluarga yang lain. Melihat cuaca di luar sedang cerah, tampaknya cocok sekali digunakan untuk berenang. Namun, apa yang harus dilakukan jika ternyata si Kecil mengalami salah satu gangguan psikologi anak, yaitu trauma berenang? Atasi dengan cara ini!

  • Hargai ketakutannya

Mungkin, si Kecil pernah mengalami sesuatu yang buruk dengan air di masa lalu, sehingga menimbulkan trauma. Sebagai contoh, ia pernah kehabisan nafas ketika sedang berada di dalam air dan tidak bisa melupakan kepanikan saat itu. Agar rasa trauma ini tidak mengganggu proses tumbuh kembang balita Ibu ke depannya, hargai ketakutannya dan mulailah membangun kembali kepercayaan diri si Kecil. Ya, ketika ia trauma berenang, Ibu harus mendampingi dan menciptakan rasa aman agar ia tertarik kembali untuk berenang.

  • Mulai dengan perlahan

Tidak mudah bagi si Kecil untuk melawan trauma berenang yang mengganggu psikologi si Kecil. Maka dari itu, mulailah dengan perlahan. Sebagai langkah awal bermain air, Ibu bisa memulai dengan mengajak si Kecil duduk di pinggir kolam dan merendam hanya bagian kaki saja ke dalam air. Ajak ia bercanda sampai ia merasa nyaman dan siap untuk dibawa masuk ke dalam kolam renang. Ketika saat itu tiba, janganlah terburu-buru ya, Bu. Biarkan si Kecil merendam dirinya dalam kolam secara perlahan, sampai ia percaya diri dan berani untuk menyelamkan kepalanya di kolam. Buat permainan yang menyenangkan, seperti menantang si Kecil berlomba siapa paling lama bisa menahan napas di dalam kolam.

  • Daftarkan si Kecil Les Berenang

Tidak hanya asal les berenang, tapi sesuaikan kelas dengan kebutuhan si Kecil dan pilih guru les yang bisa mengajarinya dengan sabar. Ini penting bagi perkembangan psikologi anak supaya tetap sehat. Jika ia memang sangat gugup berada di dalam air, pilih kelas les berenang privat, agar si Kecil merasa aman saat harus melawan rasa takutnya dengan air. Jika diizinkan, Ibu juga bisa ikut mendampinginya di dalam air, ketika ia sedang belajar bersama guru lesnya. Kehadiran Ibu dapat membantu si Kecil mengatasi rasa takut dan membuat ia lebih percaya diri melawan trauma berenang.

  • Fokus pada bagian menyenangkan

Demi kebaikan tumbuh kembang balita Ibu, tidak perlu mengkhawatirkan apa hasil yang si Kecil dapat dalam pelajaran berenangnya. Tetaplah menghargai dan memuji keberaniannya yang mencoba melawan trauma berenang. Selalu semangati si Kecil jika hasilnya memang belum maksimal dan ajari ia untuk pantang menyerah. Buat proses melawan trauma berenangnya ini menjadi menyenangkan, seperti menyediakan mainan-mainan air yang seru, pelampung berbentuk lucu, bola-bola plastik berwarna-warni, pistol air dan sebagainya.

Si Kecil yang mengalami gangguan psikologi anak, yaitu trauma berenang memang memerlukan kesabaran ketika menghadapinya. Ia tidak boleh dipaksa untuk menyentuh air kolam renang, jika memang bukan itu keinginannya. Selain itu, jika Ibu merasa ketakutan si Kecil terhadap air sudah tak wajar, sebaiknya segera berkonsultasilah dengan ahlinya agar masalah ini cepat ditangani. Tetap semangat dan selamat mengikuti perkembangan si Kecil ya, Bu!