Whatsapp Share Like Simpan

Bu, pernahkah Ibu mendengar tentang kehamilan ektopik? Kehamilan ektopik merupakan suatu komplikasi di mana kehamilan berada di luar kandungan yang terjadi akibat sel telur yang dibuahi tidak bergerak ke rahim, melainkan malah menempel dan tumbuh di tuba falopi. Komplikasi ini bisa terbilang serius dan mungkin saja berisiko tinggi bagi Ibu. Untuk itu sangat penting untuk tahu tanda-tandanya sejak dini agar bisa cepat ditangani. Apa sajakah tanda-tanda kehamilan ektopik tersebut?

Tanda-tanda Kehamilan Ektopik

Kehamilan ektopik memiliki tanda awal berupa nyeri pada panggul. Selain itu, ada beberapa tanda lainnya, yaitu:

  • Pendarahan pada vagina
  • Nyeri pada perut bagian bawah
  • Merasa ingin buang air besar terus-menerus
  • Mual dan muntah
  • Kepala pusing
  • Nyeri pada satu sisi tubuh
  • Badan lemah
  • Nyeri pada leher, pundak, atau rektum
  • Pingsan (pada kasus yang serius)

Jika Ibu merasakan tanda-tanda di atas, segera periksakan diri ke dokter ya, Bu. Semakin cepat ditangani, maka semakin kecil pula risiko pecahnya tuba falopi yang dapat membahayakan kesehatan Ibu.

Apa Penyebabnya?

Sayangnya penyebab kehamilan ektopik belum dapat diketahui secara pasti. Namun komplikasi ini bisa terjadi akibat adanya kerusakan pada tuba falopi yang berfungsi sebagai saluran yang mengantar sel telur yang telah dibuahi dan seharusnya bergerak dan berkembang di dalam rahim. Kerusakan pada tuba falopi sendiri bisa disebabkan oleh:

  • Bawaan lahir
  • Faktor genetik
  • Hormon tidak seimbang
  • Organ reproduksi tidak berkembang dengan normal
  • Prosedur medis
  • Infeksi yang menyebabkan peradangan

Faktor Penyebab Kehamilan Ektopik

Selain itu, terdapat beberapa hal yang diduga menjadi faktor penyebab kehamilan ektopik. Berikut faktor-faktor tersebut:

Artikel Sejenis

  • Memiliki endometriosis. Ini merupakan sebuah kondisi yang mengakibatkan munculnya jaringan parut pada tuba falopi. Akibatnya, risiko kehamilan di luar kandungan pun akan meningkat.
  • Pernah mengalami kondisi yang serupa. Bila Ibu sebelumnya pernah hamil di luar kandungan, Ibu masih memiliki risiko untuk mengalaminya lagi.
  • Keguguran berulang. Mengalami keguguran secara berulang sebelumnya juga dapat mengakibatkan kehamilan di luar kandungan.
  • Mengonsumsi obat penyubur kandungan. Bagi Ibu yang sebelumnya mengikuti program hamil dari dokter, biasanya akan mendapatkan obat penyubur kandungan. Nah, beberapa obat tersebut berisiko menyebabkan kehamilan di luar kandungan, Bu. Jadi ada baiknya jika Ibu mencari tahu jenis obat penyubur yang aman bagi rahim.
  • Memiliki klamidia atau gonore. Klamidia dan gonore merupakan penyakit menular seksual yang berisiko menyebabkan kehamilan di luar kandungan.
  • Organ reproduksi mengalami kerusakan. Tuba falopi yang rusak akibat pernah mendapatkan operasi di area tersebut dapat menjadi faktor penyebab kehamilan ektopik.
  • Mengalami peradangan. Adanya peradangan pada tuba falopi, rahim, atau indung telur bisa menyebabkan kehamilan ektopik.
  • Pernah mendapatkan operasi. Operasi yang dilakukan pada bagian perut, seperti operasi caesar atau usus buntu, bisa membuat tuba falopi mengalami kerusakan. Jika tuba falopi rusak, maka dapat berisiko mengakibatkan kehamilan ektopik.
  • Sedang menggunakan alat kontrasepsi. Pemakaian alat kontrasepsi seperti pil KB atau IUD akan membuat kehamilan menjadi jarang terjadi. Namun jika Ibu merasakan gejala kehamilan padahal sedang menggunakan alat kontrasepsi, maka besar kemungkinan itu merupakan kehamilan ektopik.
  • Kebiasaan merokok sebelum hamil. Zat-zat beracun di dalam rokok dapat berdampak pada organ reproduksi, sehingga berisiko mengakibatkan komplikasi kehamilan.

Pengobatan pada Kehamilan Ektopik

Pengobatan kehamilan ektopik tergantung pada kondisi kesehatan dan seberapa cepat kondisi tersebut terdeteksi. Berikut beberapa pilihan pengobatan yang dianjurkan oleh dokter:

  1. Menggunakan obat. Bila tanda-tanda kehamilan ektopik sudah terdiagnosis, maka dokter akan mengecek tingkat hormon kehamilan. Kemudian dilakukan pemeriksaan detak jantung janin dalam rahim dan gejala kehamilan lainnya. Bila pembuahan di dalam rahim tidak terdeteksi, Ibu akan disuntik obat metotreksat yang akan menghentikan kehamilan pada saat itu. Selain tingkat keberhasilannya tinggi, efek samping dari obat ini juga cenderung kecil.
  2. Operasi laparoskopi. Ini adalah prosedur untuk mengangkat embrio sekaligus memperbaiki jika terdapat kerusakan yang disebabkan oleh pendarahan saat mengalami kondisi tersebut.
  3. Operasi darurat. Pada kondisi pendarahan hebat, kemungkinan akan dilakukan operasi darurat dengan menyayat perut (laparotomi). Umumnya, kerusakan tuba falopi masih bisa diperbaiki. Namun jika tuba falopi dan ovarium rusak parah, maka kemungkinan besar akan diambil tindakan operasi pengangkatan (salpingektomi).

Upaya Pencegahan

Kehamilan ektopik tidak bisa sepenuhnya dicegah, tapi Ibu bisa mengurangi risikonya dengan melakukan berbagai upaya berikut ini:

  • Tidak merokok sebelum menjalani program hamil.
  • Memakai pengaman saat berhubungan intim guna mengurangi risiko infeksi pelvis dan mencegah penyakit menular seksual.
  • Berhubungan seksual yang aman dengan cara membatasi jumlah pasangan.
  • Memeriksakan kandungan sesuai jadwal yang sudah dokter berikan.
  • Selama hamil hanya menggunakan obat yang telah dikonsultasikan dengan dokter.

Jadi, sudah tahu kan, Bu, apa saja tanda-tanda kehamilan ektopik? Dengan begitu, Ibu bisa jadi lebih waspada lagi saat mendapati ada yang tidak normal pada kehamilan Ibu. Semakin cepat Ibu berkonsultasi dengan dokter, maka semakin cepat pula penanganan yang akan Ibu dapatkan. Jalani hidup sehat dan selalu mengonsumsi makanan bernutrisi ya, Bu. Semoga kehamilan Ibu berjalan dengan lancar hingga masa persalinan nanti.

Jika masih memiliki pertanyaan dan ingin berkonsultasi seputar kehamilan, bisa berkunjung ke laman Tanya Pakar ya, Bu. Di sana ada para ahli yang akan membantu Ibu. Untuk bisa menggunakan fitur tersebut, pastikan Ibu sudah registrasi terlebih dahulu.

Sumber:

Hellosehat, Alodokter