Whatsapp Share Like
Simpan

Di usia prasekolah, proses tumbuh kembang si Kecil merupakan suatu hal yang harus selalu dipantau oleh setiap orang tua. Di usia golden age ini anak-anak sedang berada di masa terbaiknya yang akan berdampak pada masa depannya kelak. Namun, di samping tumbuh kembang, ada satu hal lagi yang harus Ibu perhatikan, yaitu psikologi perkembangan anak.

Seorang ahli pendidikan anak, Maria Montessori, mengungkapkan bahwa masa sensitif untuk tumbuh kembang anak adalah pada usia 3-6 tahun. Pada periode ini, si Kecil perlu diberikan arahan dan rangsangan yang tepat supaya perkembangannya dapat berjalan dengan baik. Jika ada salah satu perkembangan yang terhambat, maka si Kecil akan kesulitan dalam melanjutkan fase perkembangan berikutnya. Ini juga termasuk psikologi perkembangan anak.

Ahli psikoanalisis dari Jerman bernama Erik Erikson membagi perkembangan psikologi manusia ke dalam delapan tahapan. Tiga tahapan pertama berlangsung pada masa kanak-kanak, yaitu usia 0-6 tahun. Tentunya peran orang tua untuk membantu perkembangan buah hatinya sangatlah besar karena anak-anak masih belum bisa melakukan semuanya sendiri sehingga membutuhkan dukungan dan bimbingan dari orang tuanya. Untuk itu, Ibu perlu mengetahui apa saja tahap psikologi perkembangan anak dari tahun ke tahun yang dijabarkan oleh Erikson berikut ini:

Trust vs Mistrust (Usia 0-1 Tahun)

Pada usia ini psikologi perkembangan anak lebih berfokus pada rasa percaya diri. Di awal kehidupannya, bayi masih sangat bergantung pada orang yang paling sering mengasuhnya, seperti orang tua, babysitter, nenek, dsb. Dari orang-orang tersebut, bayi akan belajar mempercayai lingkungannya dari pengalamannya terhadap sesuatu yang berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan dasarnya.

Rasa percaya (trust) bayi akan muncul perlahan setelah kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi, baik soal kasih sayang maupun biologis. Bentuk perhatian seperti sentuhan dan pelukan yang diberikan oleh pengasuh utama secara rutin akan membentuk rasa aman dan nyaman pada bayi. Berkebalikan dengan bayi yang jarang dipeluk dan disentuh. Ia akan merasa kurang diperhatikan dan dipenuhi kebutuhan dasarnya sehingga akan membangun rasa tidak percaya (mistrust) terhadap orang-orang yang paling dekat dengannya. Ia juga akan menganggap bahwa dunia merupakan tempat yang kejam untuknya tumbuh dan berkembang.

Artikel Sejenis

Baca juga: Pahami Psikologi Anak Saat Ia Marah

Autonomy vs Shame and Doubt (Usia 2-3 Tahun)

Menginjak usia 1 tahun, rasa percaya dan tidak percaya si Kecil terhadap pengasuh utamanya sudah mulai berkembang. Perasaan tersebut akan turut berpengaruh pada psikologi perkembangan anak, begitu juga dengan kognitif dan motoriknya selama masa balita.

Pada usia ini, keinginan belajar dan berpetualang si Kecil sedang tinggi-tingginya, Bu. Si Kecil yang memiliki rasa percaya pada pengasuhnya akan lebih percaya diri dalam mengembangkan kemampuannya maupun mempelajari hal-hal di sekitarnya. Ibu dan Ayah sebagai pengasuh utama sebaiknya memberikan kesempatan bagi buah hatinya untuk melewati proses tersebut sesuai keinginan dan caranya sendiri, tidak perlu memaksakan kehendak yang dapat membuat si Kecil enggan untuk belajar.

Ketika orang tua berhasil mendukung buah hatinya untuk bereksplorasi sambil tetap memberikan pengawasan yang bijaksana dan secukupnya, maka si Kecil akan mampu membangun sifat mandiri (autonomy). Namun jika si Kecil terlalu banyak dilarang dan dikekang, maka rasa percaya dirinya tidak akan tumbuh dengan baik sehingga ia akan mudah merasa ragu terhadap kemampuannya sendiri (shame and doubt). Hal ini juga akan berdampak pada ketidak percayaannya terhadap lingkungan dan kemampuannya dalam bertahan hidup.

Initiative vs Guilt (Usia 4-5 Tahun)

Pada kategori usia ini, si Kecil sudah mulai bersekolah di playgroup atau Taman Kanak-kanak sehingga akan mengenal dunia luar yang lebih luas dari rumah dan keluarga. Psikologi perkembangan anak pun akan melibatkan aktivitas sosialisasi dengan teman-teman, guru, maupun orang lain di sekitarnya. Ia juga akan senang sekali bertanya tentang segala hal yang kadang bisa membuat Ibu kewalahan dalam menjawabnya.

Si Kecil yang banyak bertanya menandakan kalau ia tertarik bereksplorasi dan ingin belajar tentang berbagai macam hal baru. Hadapi fase ini dengan bersikap secara bijaksana ya, Bu. Luangkan waktu untuk menjawab semua pertanyaannya serta mendukung ketertarikannya untuk bereksperimen.

Dengan cara ini, Ibu dapat membantu si Kecil untuk mengembangkan kemampuannya dalam mengambil inisiatif (initiative), baik dalam bertindak ataupun menghadapi masalah di sekelilingnya. Hindari terlalu sering memarahi si Kecil karena banyak bertanya atau melarang si Kecil bermain. Hal ini akan menimbulkan rasa bersalah (guilt) dan mudah merasa gelisah.

Dukung psikologi perkembangan anak agar berjalan secara optimal dengan cara memahami dunia dan karakteristik si Kecil karena masing-masing karakteristik akan membutuhkan pendekatan yang berbeda. Ibu juga perlu menjadi sahabat terdekat, sering meluangkan waktu, dan memberikan banyak perhatian pada si Kecil. Dengan begitu, ia akan tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang positif dan diterima dengan baik oleh lingkungannya.

Laman Tanya Pakar dapat menjadi tempat untuk Ibu berkonsultasi langsung dengan pakar, termasuk soal tumbuh kembang anak. Untuk bisa menggunakan fitur tersebut, jangan lupa untuk registrasi dulu ya, Bu.