Share Like
Simpan

Sama halnya dengan tahapan perkembangan fisik dan emosional, seperti belajar jalan atau mengenali Ibu, si Kecil juga mengalami tahapan penting lainnya yaitu mengenali, mengalami dan merasakan tubuhnya sendiri dan bagaimana mereka membentuk kedekatan terhadap orang lain di sekitarnya. Kedekatan ini akan membantu pembentukan tahapan keterikatan dan keintiman di kemudian hari.

Kedekatan emosional bayi yang paling awal terbentuk melalui kontak fisik dengan orang tuanya yang mengekspresikan rasa sayang. Dengan digendong, dibelai, dicium, dipeluk, dan berbaring bersebelahan, maka dapat membuat si Kecil merasakan atau mendapatkan pengalaman rasa nyaman, atau mendapatkan sensasi positif secara fisik yang terkait dengan rasa sayang.

Jenis keintiman dan kedekatan secara fisik yang unik antara orang tua dan si Kecil dapat membentuk fondasi awal bentuk kedekatan fisik yang lebih matang dan cinta yang terbentuk di kemudian hari manjadi bagian dari kematangan seksualitasnya.

Mungkin Ibu merasa khawatir sehingga berkonsultasi dengan dokter setelah melihat si Kecil sering menyentuh bagian genitalnya saat mandi atau buang air kecil. Bila hal ini terjadi, dengan tetap tenang Ibu dapat menjelaskan pada si Kecil untuk memenuhi rasa penasaran terhadap tubuh sendiri yang merupakan salah satu bagian normal dalam tumbuh kembangnya.

Kisaran usia 2-3 tahun, si Kecil mulai merasa sadar apakah ia anak laki-laki atau perempuan. Kesadaran ini disebut dengan identitas jender. Di usia ini, si Kecil mulai memahami perbedaan antara anak perempuan dan anak laki-laki, dan dapat mengidentifikasi dirinya sebagai laki-laki atau perempuan. Identitas jender ini ditentukan secara biologis dan juga bisa dari lingkungan, namun biasanya terbentuk dari keduanya. Di usia ini pula, si Kecil mulai mengaitkannya dengan perilaku tertentu atau yang disebut dengan peran jender, menjadi anak laki-laki atau perempuan. Usia 4 tahun, identitas jender ini sudah stabil dan mereka tahu akan tumbuh dewasa menjadi laki-laki atau perempuan.

Mereka pun sudah dapat memilih jenis mainannya; mana yang untuk anak laki-laki, misalnya mobil-mobilan, dan mana yang untuk anak perempuan, misalnya boneka. Aktivitas dan minat juga sudah mereka sadari. Misalnya Ibu melihat anak perempuan memilih boneka, bermain rumah-rumahan, masak-masakan. Sedangkan anak laki-laki akan bermain yang lebih aktif dengan mobil-mobilannya atau mainan pasukan tentaranya.

Kadangkala, Ibu sudah memperlakukan anak laki-laki dan perempuan berbeda. Sebelum si Kecil dapat memilih, Ibu sudah berkreasi membuat ‘lingkungan’ yang berbeda tergantung jenis kelamin si Kecil. Misalnya baju atau kamar bernuansa biru untuk anak laki-laki, dan warna merah muda untuk anak perempuan. Dengan demikian, si Kecil akan memahami perbedaan ini kelak.

Memahami jenis kelamin menjadi salah satu bagian terpenting dalam kehidupan sosialnya kelak. Dan hal ini dipengaruhi oleh keluarga, lingkungan, media, dan masyarakat. Pemahaman si Kecil tentang jenis kelamin ini dapat memengaruhi bagaimana ia bersosialisasi dengan teman-temannya dan saat menjalin hubungan di kemudian hari.