Share Like
Simpan

“Aduh, giginya Adhienta kok belum tumbuh juga ya Ma?” keluh Ditha kepada ibunya. Dhita mulai khawatir karena sampai berusia hampir setahun, Adhienta tidak menampakkan tanda-tanda akan segera memiliki gigi pertamanya. Kekhawatiran Dhita makin meningkat ketika ia melihat teman-teman sebaya anaknya itu sudah memiliki gigi susu, bukan hanya satu melainkan sampai beberapa buah.

Menurut Drg. Yulia S.B.Widyastuti, kekhawatiran yang dialami Dhita memang sering terjadi pada orang tua lainnya. Namun setelah gigi tumbuh, gigi susu ini diabaikan karena dianggap hanya gigi sementara dan akan diganti dengan gigi tetap. Padahal gigi susu memegang peranan penting dalam perkembangan anak sehingga harus dijaga serta dirawat kesehatannya sampai gigi tanggal.
?

Kapan Gigi Mulai Tumbuh?

Setiap bayi memiliki proses pertumbuhan gigi yang berbeda-beda. Ada bayi yang giginya tumbuh ketika dilahirkan sementara ada anak yang belum tumbuh gigi sampai usia satu tahun. Namun perlu diingat bahwa hal ini sama sekali tak ada hubungannya dengan perkembangan mentalnya atau rendahnya intelegensi.

Pada umumnya pertumbuhan gigi dimulai dengan munculnya dua gigi seri di bagian tengah sebelah bawah, disusul oleh gigi seri bagian tengah sebelah atas. Selanjutnya diikuti oleh gigi-gigi yang lain. Gigi susu anak akan lengkap berjumlah 20 buah biasanya sebelum anak berusia tiga tahun. Semua gigi susu ini pasti akan tanggal dan akan digantikan oleh gigi tetap.

Dilihat dari bentuknya, gigi susu memiliki bentuk yang lebih kecil, berstruktur lebih tipis, lebih rentan terhadap karies gigi, dan berwarna lebih putih. Sedangkan dari fungsinya, gigi susu memiliki fungsi yang sama dengan gigi tetap, yaitu: untuk mengunyah makanan, berbicara, dan fungsi estetika (membentuk wajah). Selain fungsi-fungsi tersebut, ada fungsi lain yang dimiliki oleh gigi susu yaitu sebagai penuntun tumbuhnya gigi tetap.


Penyakit Gigi Susu

Penyakit gigi yang sering terjadi pada anak-anak adalah penyakit gigi berlubang (karies). Penyakit ini disebabkan oleh plak, suatu lapisan tipis, lengket, transparan dan mengandung bakteri. bakteri inilah yang akan mengubah zat gula yang terdapat dalam makanan menjadi asam. Faktor lain yang bisa menimbulkan karies adalah makanan yang mengandung gula. Gigi yang rentan, tipis, rapuh, dan permukaannya tidak rata sehingga mudah dilekati plak juga mudah mengakibatkan terjadinya karies. Karies juga dapat terjadi jika asam yang dihasilkan oleh bakteri bersentuhan dengan permukaan gigi dalam waktu yang lama.
Namun karies dapat dicegah dengan beberapa cara, di antaranya adalah dengan menggosok gigi dengan teratur 2 kali sehari, sesudah sarapan dan sebelum tidur. Selain itu, menyantap makanan yang bergizi dan mengurangi konsumsi gula yang berlebihan, hindari makan jajanan manis di luar waktu makan, dan gantilah cemilan manis dengan buah atau sayuran. Pencegahan lainnya adalah dengan menguatkan gigi dengan memberi tambahan fluor. Penggunaan pasta gigi yang mengandung fluorida sangat penting untuk menguatkan gigi.

Akibat Kehilangan Gigi Susu Dini

Kehilangan dini gigi susu pada anak akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan wajah, tulang rahang dan oklusi gigi geligi, yang berarti kehilangan keseimbangan struktur, efisiensi pengunyahan dan keharmonisan wajah. Pada umumnya kehilangan gigi pada anak terjadi karena karies yang tidak dirawat atau dapat juga karena trauma dan pada beberapa kasus benihnya memang tidak ada.

Gigi susu yang tanggal terlalu dini dapat terjadi pada satu gigi atau lebih, gigi depan maupun belakang, dan akan menyebabkan terjadinya beberapa hal, seperti

  1. Penutupan ruangan yang tidak terkontrol akibat pergeseran gigi-gigi tetangga dari gigi yang hilang tersebut yang akan menyebabkan malposisi gigi tetap pengganti, baik di lengkung gigi depan maupun gigi belakang.
  2. Gangguan waktu bicara. Gangguan fungsi bicara ini terjadi terutama pada saat pengucapan huruf-huruf mati S, Z, V, dan F.
  3. Kebiasaan buruk. Kebiasaan buruk yang akan timbul biasanya adalah menjulurkan lidah pada tempat yang kosong tersebut. Kebiasaan buruk yang terus berlanjut setelah tumbuhnya gigi tetap pengganti akan menyebabkan berubahnya posisi gigi tetap akibat tekanan yang terus menerus dari lidah.
  4. Trauma psikis. Kehilangan dini gigi susu, terutama gigi depan, akan menyebabkan rasa rendah diri terutama pada anak wanita. Trauma psikis dapat mempengaruhi hubungan sosial dengan teman-temannya.
  5. Gangguan fungsi pengunyahan. Bila kehilangan dini gigi susu terjadi pada gigi belakang dapat mengurangi fungsi pengunyahan.

?

Perawatan Kesehatan Gigi Anak
Walaupun gigi susu hanya bersifat sementara, namun kebersihan dan kesehatannya tetap harus diperhatikan, terutama oleh para orang tua.

1. Membersihkan gigi.

  • Orang tua sudah harus membersihkan gigi anak sedini mungkin, bahkan ketika masih berusia beberapa bulan saat gigi belum mulai muncul. Anda bisa menggunakan spons halus basah, yang berfungsi sebagai sarung tangan, untuk mengelap dan memijat gusi bayi dua kali sehari. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga kebersihan mulut dan membiasakan anak dengan perawatan mulut. Setelah gigi susu pertama muncul, gunakan sikat gigi halus dan air biasa untuk menyikat gigi. Saat mandi merupakan saat yang tepat untuk memperkenalkan kegiatan membersihkan gigi dan peralatannya pada anak. Anak kecil cenderung suka memasukkan segala sesuatu yang dipegangnya. Cobalah beri dia sikat gigi bersikat lembut dan berkepala kecil agar dia mulai mengenal sikat gigi dan membiasakan mulutnya merasakan sikat gigi.
  • Selain cara menyikat gigi yang benar, posisi orang tua dalam membantu anak menggosok gigi juga penting untuk diperhatikan. Jika anak masih terlalu kecil, ia dapat dibaringkan di meja bayi atau di sofa dan kepalanya dipangkuan orang tua bila anak lebih besar. Pada dasarnya jadikan kegiatan menyikat gigi sebagai hal yang menyenangkan bagi si anak.
  • Jangan gunakan pasta gigi sampai anak bisa belajar untuk meludahkan busanya (kira-kira 18 bulan), setelah itu gunakan sedikit saja (kira-kira sebesar kacang) namun tetap awasi penggunaannya. Bila memakan terlalu banyak pasta gigi maka akan membahayakan kesehatannya.
  • Sikat gigi (baik yang biasa maupun yang elektrik) sebaiknya diganti setiap bulan, atau segera setelah bulu sikatnya tampak mekar dan rusak. Periksalah sikat gigi ini jika anak Anda menderita sakit, karena bakteri dapat tinggal pada gigi selama berminggu-minggu.
  • Mulailah menyikat gigi dari bagian geraham bagian luar kemudian bagian dalam, dengan gerakan ke depan dan belakang. Setelah itu sikat bagian atas gigi, bagian dalam kemudian gigi. Ulangi gerakan seperti itu secara perlahan (suruh anak sambil menghitung sampai sepuluh dalam hati). Setelah itu bersihkan bagian depan gigi dengan gerakan memutar secara perlahan.
  • Awasi aktivitas menyikat gigi sampai anak berusia tujuh atau delapan tahun karena biasanya anak tidak mengetahui cara menyikat gigi yang benar dan konsekuensinya bila tidak menyikat gigi dengan benar.
  • Banyak orang tua yang mengira perawatan gigi anak baru dilakukan setelah gigi pertamanya tumbuh. Perawatan gigi yang benar dan sehat sebenarnya dimulai saat anak belum lahir. Bila sang ibu memiliki mulut yang penuh bakteri, maka sang ibu akan menulari bayinya yang belum lahir. Karena itu, ibu yang sedang mengandung sebaiknya juga menjaga kesehatan mulut dan giginya sendiri.

2. Menghilangkan kebiasaan buruk.

Kebiasaan buruk yang sering terjadi pada anak adalah sindroma susu botol. Sindroma ini adalah karies pada gigi susu anak yang biasanya menyerang gigi-gigi depan rahang atas, yang disebabkan oleh kebiasaan minum susu botol atau larutan gula pada waktu tidur. Faktor lain yang menentukan adalah lamanya gigi terekspos oleh zat gula. Gula tersebut akan diubah oleh bakteri plak menjadi asam. Asam yang diproduksi oleh bakteri inilah yang akan melarutkan email gigi anak sehingga gigi menjadi berlubang. Kondisi ini dapat dicegah dengan:

  • Gendonglah bayi selama bayi menyusui, sehingga jika ia tertidur, menyusui dapat dihentikan dan bayi ditidurkan di tempat tidur.
  • Biarkan bayi tidur tapa susu botol atau isilah botol dengan air tawar.
  • Jangan merendam botol dalam air gula.
  • Bersihkan plak pada gigi bayi dengan handuk halus basah.
  • Hentikan penggunaan botol begitu anak sudah dapat minum dari gelas.
  • Tanyakan kepada dokter gigi atau dokter anak untuk penambahan fluor.

3. Konsumsi makanan bermanfaat bagi gigi dan hindari yang merugikan gigi.

Sayuran yang mempunyai banyak serat sangat bermanfaat bagi gigi, selain bergizi juga membantu pembersihan gigi. Keju, kacang-kacangan juga bermanfaat bagi gigi. Makanan dan minuman yang banyak mengandung mineral terutama kalsium, sangat bermanfaat bagi pertumbuhan gigi.
Coklat dan makanan manis lainnya dapat merugikan gigi, tapi hampir mustahil untuk melarang anak-anak untuk tidak mengkonsumsi makanan tersebut. Namun, ada beberapa cara untuk mengatasinya:

  • Jangan jadikan makanan manis tersebut sebagai hadiah kepada anak.
  • Gantilah cemilan manis tersebut dengan buah, sayur, dan kacang-kacangan.
  • Berikan cemilan manis pada saat yang bersamaan dengan waktu makan.
  • Biasakan anak untuk berkumur setiap habis makan makanan yang manis.

4. Pemeriksaan rutin ke dokter gigi.

Selain hal-hal di atas, pemeriksaan rutin setiap 6 bulan sekali ke dokter gigi tetap diperlukan. Hal ini berguna untuk memonitor pertumbuhan dan perkembangan gigi anak serta mendeteksi kelainan gigi sejak dini. Orang tua diharapkan untuk berperan serta dalam memonitor pertumbuhan dan perkembangan gigi anak-anak di rumah. Keluhan-keluhan ataupun kelainan yang ditunjukan anak perlu mendapat perhatian. Sering kali anak belum dapat menjelaskan rasa sakit, tetapi ia menolak makan makanan yang keras atau mengunyah makanan pada satu sisi atau nafsu makannya hilang sama sekali. Hal ini perlu diperhatikan karena mungkin saja anak mengalami sakit gigi atau kelainan pada fungsi pengunyahannya.
Kunjungan pertama ke dokter gigi sebaiknya mulai dilakukan pada saat anak berusia dua tahun dan dalam keadaan sehat, sehingga anak hanya diperiksa tanpa ada tindakan yang menyakitkan. Hal ini untuk menghindari kesan buruk dari anak terhadap dokter gigi. Karena itu, sebelum membawa anak ke dokter gigi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Persiapan anak. Persiapkan mental anak sebelum datang ke dokter gigi dengan cara menceritakan tugas dokter gigi, perlihatkan foto-foto dokter gigi, jangan menakut-nakuti anak, jangan jadikan dokter gigi sebagai hukuman (“Awas kalau nakal nanti dibawa ke dokter gigi”), usahakan anak sudah makan sebelum pergi ke dokter gigi, dan bawakanlah mainan atau bacaan yang disenangi anak.
  • Bila anak Anda adalah pemberani namun tiba-tiba takut ke dokter gigi, tanyakan pada diri Anda karena mungkin saja Anda menurunkan perasaan takut ke dokter gigi secara tidak sadar kepada anak Anda.
  • Buatlah perjanjian dengan dokter gigi supaya anak tidak menunggu terlalu lama.
  • Catatlah semua keluhan anak dan hal-hal yang ingin Anda utarakan atau tanyakan pada dokter gigi.
  • Pada kunjungan pertama perkenalkan anak pada dokter giginya, ceritakan tentang si anak, bila perlu ceritakan pula aktifitas anak di sekolah agar anak merasa akrab.
  • Biasanya dokter akan menanyakan dan mencatat data serta keluhan anak, jawablah pertanyaan tersebut dengan jelas dan apa adanya. Ingat, anak tidak dapat menjelaskan keluhannya.
  • Mintalah pada dokter gigi untuk memeriksa gigi anak sambil memberi kesempatan pada anak untuk mengenal peralatan dokter gigi. Jangan melakukan perawatan yang memberikan rasa sakit pada anak pada kunjungan pertamanya.
  • Jangan jadikan acara ke dokter gigi sebagai acara istimewa, karena itu sebaiknya jadikan kegiatan ini sebagai bagian dari rutinitas kesehatan keluarga Anda.
    ?