Whatsapp Share Like
Simpan

Bu, kehadiran momongan yang dinanti-nantikan tak kunjung tiba setelah beberapa tahun? Mungkin Ibu bisa mencoba prosedur bayi tabung. Prosedur ini bisa dijadikan alternatif bagi Ibu yang sulit memperoleh keturunan. Sudah banyak pasangan dari seluruh dunia mencobanya. Apakah Ibu tertarik untuk menjadi salah satunya? Sebaiknya ketahui lebih dalam dulu tentang bayi tabung, ya. Berikut saya bagikan informasinya untuk Ibu:

Apa Itu Bayi Tabung?

Bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF)  merupakan sebuah prosedur pembuahan antara sperma dan sel telur yang dilakukan di luar tubuh. Sel telur yang telah dibuahi dan berstatus siap tersebut kemudian dipindahkan ke rahim calon ibu. Terdengar mudah ya, Bu, tapi ternyata prosedur ini memiliki proses yang cukup panjang.

Tahapan Bayi Tabung

Saat sudah setuju menjalani prosedur ini, dokter akan melakukan berbagai tahapan berikut ini, Bu:

  1. Memeriksa siklus menstruasi. Pertama-tama, dokter akan memeriksa siklus menstruasi Ibu terlebih dulu. Ibu pun diminta untuk mengetahui seperti apakah siklus menstruasi yang Ibu miliki.
  2. Mengonsumsi pil kontrasepsi. Dokter mungkin juga akan menyarankan Ibu untuk minum pil kontrasepsi. Meski tidak semua dokter merekomendasikannya, tapi kesuksesan program ini telah terbukti meningkat saat sang ibu mengonsumsi pil kontrasepsi. Selain itu, langkah ini juga mampu menurunkan risiko kista ovarium dan sindrom hiperstimulasi ovarium.
  3. Pemberian obat. Langkah selanjutnya, dokter akan memberikan obat suntik agonis GnRH (seperti Lupron) atau antagonis GnRH (seperti Ganirelix) pada siklus ovulasi Ibu. Obat ini memudahkan dokter agar bisa mengontrol siklus ovulasi Ibu secara penuh saat program ini dimulai.
    Namun bila Ibu belum memasuki masa ovulasi, dokter akan memberikan obat progesteron berupa Provera. Setelah 6 hari atau lebih mengonsumsi obat tersebut, Ibu baru akan mendapatkan agonis atau antagonis GnRH.
  4. Perangsangan indung telur (ovarium). Pada kondisi normal, ovarium hanya akan menghasilkan satu sel telur setiap siklus ovulasi bulanan. Namun, berkat pemberian obat yang disuntikkan ke tubuh selama 8-14 hari saat menjalani program bayi tabung, folikel di dalam ovarium akan dirangsang untuk menghasilkan lebih banyak sel telur. Dengan banyaknya sel telur yang dapat diambil dan dibuahi, maka akan memperbesar peluang Ibu untuk hamil.
    Dokter akan menyuntikkan obat kesuburan ini kepada Ibu, lalu setelah itu Ibu akan diajari cara menyuntikkannya sendiri di rumah. Setelahnya, Ibu akan sering menyuntikkan obat tersebut sendiri. Untuk banyaknya suntikan dan lamanya penggunaan obat ini sendiri tergantung dari aturan pengobatan Ibu. Namun biasanya penyuntikannya adalah sebanyak 1-4 obat setiap hari selama tujuh hingga sepuluh hari.
  5. Pemantauan ovarium. Selama masa perangsangan ovarium, dokter akan terus memantau pertumbuhan dan perkembangan folikel melalui USG dan tes darah setiap beberapa hari. Saat melakukan tes darah ini, dokter akan mengecek kadar estrogen Ibu, khususnya E2 atau estradiol. Tujuannya adalah untuk memastikan kalau ovarium Ibu terkena efek dari suntikan antagonis GnRH.
    Dokter juga akan melakukan pemeriksaan ukuran ovarium melalui USG transvaginal. Metode ini juga dapat mendeteksi apakah Ibu memiliki kista ovarium atau tidak. Jika ya, maka kista tersebut akan ditangani terlebih dulu sebelum program bayi tabung dilanjutkan.
    Proses pemantauan ini sangat penting karena akan menentukan banyaknya dosis obat yang harus Ibu konsumsi. Bila ukuran folikel sudah membesar kira-kira 16-18 mm, maka Ibu mungkin akan dipantau setiap hari.
  6. Pematangan telur dalam ovarium (oosit). Sebelum bisa diambil, pertumbuhan dan perkembangan oosit harus selesai terlebih dulu. Dokter akan merangsang pematangan oosit dengan menyuntikkan hormon human chorionic gonadotropin (hCG) yang diberikan saat kadar estradiol lebih dari 2000 pg/ml dan ada empat atau lebih folikel sudah berukuran 18-20 mm.
    Pemberian suntikan hormon hanya dilakukan sekali, oleh karena itu harus diberikan pada waktu yang tepat, yaitu dengan melakukan ultrasound. Bila penyuntikan diberikan terlalu cepat, telur mungkin akan kurang matang. Sedangkan jika terlalu lama, telur akan terlalu matang sehingga kurang bisa berbuah dengan baik.
  7. Pengambilan telur. Proses ini dilakukan sekitar 34-36 jam setelah penyuntikan hCG. Sebelumnya, Ibu akan diberi anestesi untuk menghilangkan rasa sakit. Ada beberapa metode yang digunakan pada proses pengambilan telur, tapi metode yang paling sering dipakai adalah USG transvaginal.
    Metode ini dapat memandu dokter untuk mengambil telur dengan cara memasukkan alat pemeriksa ke dalam vagina. Setelah itu, pengambilan telur dilakukan menggunakan jarum suntik berukuran tipis dan kecil yang dimasukkan ke vagina menuju folikel. Telur yang telah diambil tersebut dibawa ke laboratorium embriologi untuk dibuahi.
  8. Pengambilan sperma. Selanjutnya, pengambilan sperma akan dilakukan untuk membuahi sel telur yang telah diambil tadi. Metode yang digunakan bisa dengan cara masturbasi atau operasi untuk mengambil sperma langsung dari testis.
  9. Pembuahan telur. Untuk proses pembuahan telur, akan dipilih telur dan bibit sperma yang berkualitas baik. Keduanya akan ditempatkan pada wadah khusus yang diinkubasi di laboratorium. Diharapkan dalam kurun waktu 12-24 jam sudah terjadi pembuahan.
  10. Pemindahan embrio ke rahim. Embrio (telur yang telah dibuahi) akan disimpan di wadah khusus selama 3-5 hari sebelum dipindahkan ke rahim. Pada hari ke-5, embrio ada pada fase blastosit dan sudah dapat menempel pada rahim dengan baik. Namun sebelum dilakukan pemindahan, dinding rahim harus disiapkan terlebih dulu agar dapat menerima embrio. Untuk itu Ibu akan menerima obat hormon progesteron yang diberikan dengan cara pil, gel, atau suntikan.

Efek Samping Menjalani Bayi Tabung

Setelah semua tahapan selesai dijalani, Ibu dapat menjalani kegiatan seperti biasanya. Meski begitu, Ibu sebaiknya menghindari kegiatan yang berlebihan, karena bisa saja ukuran ovarium Ibu masih membesar. Ibu juga harus bersiap untuk menerima efek samping berupa:

  • Mengeluarkan darah tepat setelah menjalani prosedur bayi tabung.
  • Sembelit.
  • Kram pada perut.
  • Sakit pada payudara akibat kadar hormon estrogen yang tinggi.
  • Perut terasa agak kembung.

Bila setelah pemindahan embrio Ibu merasa kesakitan, segeralah berkonsultasi pada dokter. Bisa jadi Ibu mengalami komplikasi seperti ovarian hyperstimulation syndrome atau infeksi. Untuk itu diperlukan penanganan dari dokter agar tidak menimbulkan dampak lainnya.

Artikel Sejenis

Kemungkinan Berhasil

Untuk mengetahui berhasil tidaknya program bayi tabung yang Ibu jalani, Ibu harus menunggu selama dua minggu. Selama menunggu, Ibu disarankan untuk beraktivitas seperti biasa, menjalani hidup sehat, dan hindari berpikir berlebihan untuk menghindari stres.

Pada minggu ke-2, Ibu bisa mulai melakukan tes kehamilan selama beberapa hari. Jika hasilnya positif, artinya Ibu hamil. Agar lebih akurat, periksakan diri ke dokter untuk dilakukan pemantauan melalui USG. Namun Ibu juga harus mempersiapkan diri atas kemungkinan jika hasilnya negatif, sebab prosedur ini tidak selalu berhasil.

Cukup panjang ya, Bu, tahapan yang harus dilalui saat menjalani bayi tabung. Namun tak ada salahnya untuk mencoba jika memang sangat menginginkan buah hati hadir di tengah keluarga Ibu. Tetap semangat ya, Bu. Semoga Ibu segera dikaruniai momongan yang menggemaskan.

Bagi Ibu yang masih memiliki pertanyaan dan ingin berkonsultasi seputar kehamilan, bisa berkunjung ke laman Tanya Pakar, ya. Di sana ada para ahli yang akan membantu Ibu. Untuk bisa menggunakan fitur tersebut, pastikan Ibu sudah registrasi terlebih dahulu.

Sumber:

Hellosehat