Share Like
Simpan

Halo, Bu! Apa kabar si Kecil yang sudah masuk usia batita? Tidak terasa ya, saat ini ia semakin aktif dan rasa ingin tahunya semakin besar. Giginya pun sudah banyak yang tumbuh. Menyenangkan ya Bu, melihat tumbuh kembang si Kecil yang begitu pesat! Saya kembali ingat masa-masa si Kecil dulu saat memasuki usia batita. Saking ingin tahu tentang banyak hal, sampai-sampai ia suka memasukkan benda apa saja ke mulutnya, termasuk yang bukan makanan. Jika hal itu juga Ibu lihat sering dilakukanoleh si Kecil, akan lebih baik jika Ibu mulai waspada, jangan sampai ia mengalami gangguan pica.

Apa itu pica?

Di usia batita, wajar jika ia sering mencoba memakan sesuatu yang bukan makanan, seperti pasir, kertas, atau kotoran debu. Si Kecil sedang belajar merasakan apa yang tidak enak untuk dimakan, lalu akan berhenti makan benda-benda yang bukan makanan tersebut. Namun, ada beberapa anak yang justru suka dan terus menyantap benda-benda bukan makanan itu. Nah, perilaku ini disebut pica, yang menandakan si Kecil bisa jadi mengalami masalah pada pertumbuhan, emosi, nutrisi, atau kesehatan pada dirinya.

Apa penyebabnya?

Hingga saat ini, penyebab gangguan pica sebenarnya masih belum dapat dipastikan, Bu. Namun, biasanya, anak yang rentan mengalami gangguan pica adalah anak-anak yang punya keterbelakangan intelektual, autis, tidak dirawat dengan baik, atau sering mengalami kekerasan. Selain itu, pada umumnya, anak-anak yang mengalami gangguan pica memiliki kekurangan zat besi dan seng dalam tubuhnya.

Zat besi berperan penting dalam pembentukan sel darah merah yang mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh. Maka, rendahnya kadar Zat Besi dalam tubuh bisa menyebabkan kekurangan sel darah merah (anemia) yang akan memengaruhi perkembangan otak dan bagian tubuh lainnya. Lalu, kekurangan Zat Seng pada si Kecil dapat memengaruhi kepekaannya terhadap rasa dan aroma. Sesuatu yang bukan makanan bisa jadi memiliki rasa yang lebih enak ketika kekurangan mineral ini.

Apa masalah kesehatan yang disebabkan pica?

Tentunya, makan sesuatu yang bukan makanan akan mengganggu kesehatan si Kecil. Ia bisa mengalami keracunan zat kimia yang terkandung di benda-benda tersebut, Bu. Keracunan ini dapat menyebabkan efek jangka panjang yang serius pada perkembangan otak si Kecil. Selain itu, jika ia memakan sesuatu yang terdapat parasit di dalamnya, lambung dan organ pencernaannya bisa terkena infeksi, Bu.

Apa yang harus dilakukan?

  • Jika si Kecil sudah menunjukkan gejala-gejala pica, sangat penting bagi Ibu untuk memeriksakan si Kecil ke dokter, agar Ibu tahu apa masalah kesehatan yang dialaminya. Apakah dia mengalami keracunan, anemia, infeksi karena parasit atau kekurangan zat besi dan seng di tubuhnya?
  • Anak yang mengalami gangguan pica membutuhkan makanan ekstra yang mengandung zat besi dan seng tinggi. Beberapa di antaranya adalah daging merah, hati, telur, makanan laut, kacang-kacangan, dan segala produk susu.
  • Jauhkan si Kecil dari berbagai benda yang bisa dimakan dan sekiranya mengandung zat kimia tinggi.
  • Berikan si Kecil segala bentuk perhatian dan kasih sayang yang ia butuhkan. Awasi gerak-geriknya, dan cegah saat ia sudah mulai memasukkan berbagai benda yang bukan makanan ke mulutnya.

Terkadang, kebiasaan si Kecil mengonsumsi sesuatu yang bukan makanan sulit diubah, meskipun Ibu dan Ayah sudah berusaha semaksimal mungkin. Jika itu terjadi, jangan panik dulu ya, Bu. Apabila selalu dibiasakan, hal ini akan berhenti saat ia sudah bertambah umurnya. Namun, akan lebih baik jika Ibu tetap memeriksakan kesehatannya secara berkala, jika perilaku ini terus berlangsung. Tetap semangat merawat si Kecil ya, Bu!