Share Like
Simpan

Dengan kecewa, sepulang sekolah si Kecil berkata, “Bu, teman Adik di sekolah nggak mau gantian saat naik ayunan.” Di lain kesempatan, saat belajar bersama kakaknya, ia melapor, “Bu, kakak pelit. Adik nggak boleh pinjam pensil warna.” Akhir-akhir ini, kok, si Kecil jadi suka sekali mengadu, ya?

Sebagai orang tua, Ibu mungkin pernah mengalami situasi di atas. Ibu heran karena si Kecil jadi sering mengadu. Saya juga demikian, Bu. Awalnya, saya pikir, ini bagian dari cara si Kecil mengasah kemampuan berkomunikasinya sekaligus mencari perhatian saya. Namun, lama-kelamaan, saya khawatir kebiasaan ini berdampak negatif pada pembentukan karakter anak bila dibiarkan terus-menerus. Oleh karenanya, secara khusus, saya mengonsultasikan hal ini pada psikolog di forum tumbuh kembang anak online yang saya ikuti. Nah, berikut beberapa info yang saya dapatkan. Yuk, simak, Bu!

Mengapa Balita Suka Mengadu?

Menurut penjelasan psikolog anak tempat saya berkonsultasi, wajar bila balita suka mengadu, Bu. Mengadu sebetulnya menunjukkan bahwa kemampuan berpikir dan kesadaran moral si Kecil mulai berkembang. Balita kesayangan Ibu diam-diam mulai membandingkan dua hal, yaitu nilai atau norma yang selama ini Ibu ajarkan padanya, dan situasi yang ia temukan langsung dalam kesehariannya.

Karena di usia balita kemampuan analisa si Kecil masih amat terbatas, ia menilai segala sesuatu dengan konsep hitam-putih, Bu. Misalnya, bila Ibu pernah mengatakan bahwa berbagi adalah kebiasaan baik, maka ia akan secara otomatis menganggap kebiasaan tidak mau berbagi atau pelit adalah hal yang buruk. Saat menemukan teman atau saudaranya yang berlaku pelit, si Kecil akan mengadu pada Ibu. Di tahap ini, curhat si Kecil sebetulnya untuk memastikan bahwa apa yang ia pahami (pelit adalah sifat buruk) sudah benar. Namun, kadang sebagian orang tua menanggapi info dari si Kecil secara berlebihan. Bila hal ini terjadi dan terulang cukup sering, pelan-pelan anak akan belajar bahwa, “Ibu pasti membelaku. Berarti, kalau aku kesal pada kakak, teman, atau guruku, aku cukup mengadukan mereka pada Ibu.” Ibu tentu tak ingin hal ini terjadi dan memengaruhi pembentukan karakter anak ke arah negatif, bukan? Untuk itu, hindari menanggapi secara berlebihan setiap hal yang diadukan si Kecil, ya.

Tips Menghadapi si Kecil yang Suka Mengadu

Selain memahami alasan balita mengadu, Ibu juga perlu tahu cara mendidik anak pengadu serta bagaimana respon yang sebaiknya diberikan saat si Kecil mengadu. Seperti yang telah dijelaskan di atas, menanggapi curhatan si Kecil secara berlebihan bisa memberikan pesan yang salah untuknya, sehingga ia tumbuh menjadi anak pengadu. Berikut tips menghadapi anak pengadu menurut psikolog tempat saya berkonsultasi.

  • Tenangkan Diri Ibu dan Dengarkan dengan Saksama

Curhatan si Kecil bisa beragam, Bu. Tak melulu soal sepele seperti masalahnya dengan teman sebaya atau sang kakak, ia juga bisa mengadukan hal yang lebih besar, seperti cara guru memperlakukannya di sekolah. Oleh sebab itu, penting bagi Ibu untuk menenangkan diri terlebih dulu setiap hendak mendengarkan curhatan si Kecil. Dengan perasaan yang tenang, Ibu tidak akan mudah terpancing emosi, termasuk bila curhatan si Kecil adalah tentang perlakuan tak menyenangkan yang ia terima dari gurunya di sekolah.

Ingat, Bu, saat ini si Kecil masih terlalu dini untuk memahami sesuatu dengan baik dan benar. Jadi, bisa saja kan, hal yang ia ceritakan soal perlakuan gurunya sebenarnya hanya salah paham?

  • Beri Tahu si Kecil Cara Menyelesaikan Masalah

Berikutnya, menurut psikolog, Ibu perlu memberi tahu si Kecil cara menyelesaikan masalah sesuai curhatannya. Misalnya, bila balita kesayangan Ibu mengadu bahwa kakaknya tidak mau meminjamkan pensil warna, Ibu bisa berkata pada si Kecil, “Jadi, Adik ingin kakak meminjamkan pensil warna? Jika iya, mintalah baik-baik pada kakak sambil berjanji bahwa kamu akan menjaga pensil warnanya dengan baik dan tidak akan menghilangkannya.”

Bila Ibu terbiasa memberi tahu si Kecil cara menyelesaikan masalahnya, pelan-pelan si Kecil akan paham bahwa setiap masalah ada solusinya. Dengan begitu, ke depannya, ia tak akan terlalu sering mengadu dan mulai mencari solusi untuk masalahnya sendiri.

  • Jalin Komunikasi yang Baik dengan Orang-orang di Sekitar si Kecil

Terakhir, Ibu juga perlu menjalin komunikasi yang baik dengan orang-orang yang sering berinteraksi bersama si Kecil. Misalnya, guru, teman sekolah, ibu dari teman si Kecil, dan sebagainya.  Dengan komunikasi yang baik, aduan negatif akan berkurang Bu, karena Ibu tahu bagaimana mereka memperlakukan si Kecil.

Mengingat kebiasaan mengadu ternyata merupakan hal wajar bagi balita dan menjadi bagian tersendiri dalam proses pembentukan karakter anak, hindari mengacuhkan si Kecil atau justru memarahinya saat mengadukan sesuatu ya, Bu. Jadi, si Kecil tetap terbuka dan terbiasa menceritakan masalah atau pendapatnya kepada Ibu. Semangat terus mendidik si Kecil, Bu!