Share Like
Simpan

Menurut Ibu, bagaimana sifat si Kecil saat ini? Apakah ia cenderung supel dan mudah bergaul, atau malah pendiam dan lebih suka main sendiri? Nah, kalau anak saya dulu termasuk kategori terakhir, Bu. Oleh sebab itu, waktu itu saya sering sekali mengajaknya bermain bersama bayi lain untuk mengasah kemampuan bersosialisasinya. Bahasa kerennya, playdate!

Sebenarnya, sejak lahir, bayi sudah mengembangkan kemampuan bersosialisasi, yakni melalui Ibu. Saat si Kecil berada di pelukan Ibu untuk pertama kalinya, sentuhan dan kontak mata yang terjadi membuat ia belajar untuk merespons dan beradaptasi dengan orang di sekitarnya.

Perkembangan kemampuan bersosialisasi ini tentunya memiliki berbagai tahap. Ia mungkin tidak bisa secara langsung menerima kehadiran bayi lainnya, namun Ibu dan Ayah bisa membantunya belajar bersosialisasi dengan cara-cara berikut ini:

  • Biarkan si Kecil berinteraksi

Membiarkan ia berinteraksi dapat mendorongnya untuk terus belajar beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Saya biasanya membuat sebuah playdate kecil-kecilan bersama teman-teman terdekat. Tidak perlu terlalu ramai. Cukup satu atau dua bayi.

Playdate yang dihadiri oleh terlalu banyak orang dikhawatirkan membuat si Kecil justru takut dan merasa tidak nyaman. Sebagai permulaan, Ibu bisa membantu si Kecil mengajak bicara lawan mainnya, seperti “Halo, namaku Adit, namamu siapa?”

Semakin sering mengajak si Kecil ke acara perkumpulan dan bertemu dengan orang-orang, ia akan semakin terbiasa untuk beradaptasi dan merasa nyaman berada di tengah orang banyak.

  • Sering ajak si Kecil berbicara

Bayi memang belum mengerti sebagian besar apa yang Ibu katakan. Meskipun demikian, sering mengajaknya bicara akan membuatnya belajar dan mencontoh setiap hal yang Ibu katakan. Seperti misalnya, ketika si Kecil berbaring di kasur dan menatap sekitar. Ia tidak hanya melemparkan tatapan kosong, melainkan memperhatikan dan menyerap keadaan di sekitarnya.

Saat saya menunjukkan ekspresi lucu dan mengajaknya bicara, ia langsung tersenyum dan berusaha menjawab saya sambil berceloteh bebas. Ini membuktikan bahwa ia sedang menyerap keadaan sekitar dan tak lama lagi akan mampu meniru seiring dengan tumbuh kembangnya.

  • Hindari sikap overprotektif

Nah, ini dia yang perlu Ibu perhatikan. Anak merupakan sebuah anugerah berharga yang harus dijaga, tetapi proteksi berlebihan justru dapat memengaruhi kemampuan bersosialisasinya. Cobalah untuk mengajak si Kecil mengenal dan berinteraksi dengan orang lain sebanyak mungkin.

Misalnya, ketika sedang berada di kendaraan umum. Biasanya ada orang yang mengatakan “Wah, lucu sekali anak Ibu. Sudah berapa bulan?” Daripada Ibu menjawab langsung kepada orang tersebut, Ibu bisa mengajak si Kecil untuk menjawab “5 bulan, Tante.

  • Jadilah Ibu yang senang bersosialisasi dan mudah bergaul

Inilah poin terpenting dalam membantu si Kecil untuk bersosialisasi. Ibu adalah orang pertama yang akan dijadikan model olehnya saat belajar. Apabila Ibu kurang menunjukkan interaksi dengan orang sekitar, bagaimana si Kecil dapat belajar bersosialisasi?

Sebagai contoh bagi si Kecil, saya biasanya mengajak bicara teman mainnya saat playdate berlangsung. “Kamu lagi main apa? Ih, lucu deh bonekanya.” Saat saya bertanya seperti itu, ia langsung mengalihkan perhatian pada saya. Sedetik kemudian ia berusaha meniru meski hanya berupa celoteh seperti “Eh.. Uhh.”

Pada awal masa tumbuh kembangnya, orang yang dianggap teman oleh si Kecil sudah pasti adalah Ayah dan Ibu. Oleh karena itu, bantuan dan contoh yang Ibu berikan adalah hal yang paling dibutuhkannya saat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Jika si Kecil sudah belajar bersosialisasi sejak dini, beberapa tahun kemudian ia akan mudah mengajak teman seusianya untuk berinteraksi dan aktif dalam membangun sebuah lingkaran pertemanan.

Bagaimana Bu, tips di atas cukup mudah untuk diterapkan, kan? Selamat mencoba!