Share Like
Simpan

Hai, Bu! Apa kabar? Kehadiran anak pasti menjadi keinginan setiap pasangan yang sudah berumah tangga ya, Bu. Kali ini, saya ingin sharing tentang pengalaman saya waktu menanti kehadiran si Kecil ketika awal menikah dulu. Saya sempat mempertimbangkan untuk mengadopsi anak, supaya keluarga kecil saya lebih lengkap dengan kehadiran anak. Tidak masalah kok, Bu. Namun ada lima hal yang perlu menjadi pertimbangan Ibu dan suami sebelum memutuskan untuk mengadopsi anak.

1. Pelajari Semua Hal

Sebelum mengadopsi anak, bacalah buku, majalah, dan berbagai referensi lain yang membahas secara mendetail tentang cara adopsi anak, proses hukumnya, dan suka-dukanya. Akan sangat membantu juga jika Ibu bisa bertemu dengan pasangan lain yang sudah pernah mengadopsi anak dan mengobrol dengan mereka. Ibu dapat bergabung dengan grup para orang tua yang mengadopsi anak untuk mendapat dukungan dan info-info seputar hal tersebut.

2. Cari Profesional yang Tepercaya

Demi keamanan selama proses adopsi, carilah lembaga atau yayasan panti asuhan yang tepercaya. Cari referensi sebanyak mungkin tentang lembaga-lembaga tersebut sebelum memutuskan untuk mengadopsi seorang anak dari sebuah lembaga. Ibu juga akan membutuhkan bantuan seorang pengacara untuk membantu proses legalisasi adopsi.

3. Siap Menjadi Orang tua

Saat memutuskan untuk mengadopsi anak, maka Ibu pun sebaiknya sudah menyiapkan diri untuk menjadi orang tua. Ini mencakup banyak hal,mulai dari mempersiapkan finansial untuk kebutuhan anak, fisik dan stamina tubuh untuk merawat anak, serta mental untuk mendidik anak menjadi pribadi yang baik. Patut diperhatikan bahwa anak yang Ibu besarkan bukanlah anak kandung. Ibu harus mencari dan menemukan cara untuk membesarkan anak di bawah bayang-bayang kata ‘adopsi’, apalagi jika ada seseorang di sekitar Ibu yang bertanya dan membicarakan sang anak. Usahakan memberikan perhatian dan kasih sayang kepada sang anak seperti menyayangi anak kandung ya, Bu.

4. Kenali Latar Belakang Anak

Penting bagi Ibu untuk mengetahui bagaimana latar belakang anak yang akan Ibu dan suami adopsi, baik latar belakang sosial, emosional maupun kesehatan. Jika sang anak masih memiliki orang tua, keluarga kandung atau wali, jalin hubungan baik dengan mereka untuk mengetahui bagaimana kehidupan sang anak sebelum diadopsi. Ini akan membantu Ibu dan suami untuk lebih memahami cara menghadapi sang anak saat sudah sah menjadi bagian dari keluarga Ibu. Pastikan juga bahwa anak yang Ibu dan suami adopsi telah melalui proses persetujuan dari wali atau keluarga kandung sang anak.

5. Bukan Anak Sempurna

Ketika memutuskan untuk mengadopsi anak, Ibu dan suami memang punya pilihan untuk memilih anak seperti apa yang akan diadopsi. Namun, Ibu dan suami perlu ingat bahwa mengadopsi anak itu bukanlah cara untuk memuaskan keinginan orang tua saja. Seperti misalnya, mendambakan fisik anak yang sempurna dan kepandaian di atas rata-rata. Hal seperti ini tentu menjadi keinginan setiap orang tua. Akan tetapi, jangan sampai keinginan ini malah membuat Ibu dan suami menjadi lebih memikirkan kepentingan pribadi, bukan kepentingan sang anak yang akan menjadi bagian keluarga Ibu. Di sini, Ibu dan suami harus bisa menahan ego dan menjalani tugas sebagai orang tua angkat dengan ikhlas.

Selamat menantikan kehadiran si Kecil dalam keluarga Ibu, ya!