Share Like
Simpan

Bagi para Ibu, tiap tahap tumbuh kembang balita adalah Momen Wow yang membanggakan. Begitu pun halnya bagi saya, Bu. Ini sebabnya, di samping memastikan gizi yang dibutuhkan si Kecil senantiasa terpenuhi, saya pun rutin memantau perkembangan sesuai tahapan usianya.

Terkait hal ini, saya ada sedikit cerita, Bu. Sewaktu si Kecil berusia 13 bulan, saya dan suami dilanda kekhawatiran. Pasalnya, di usianya saat itu, balita kesayangan kami belum mulai belajar berjalan. Padahal, dilihat dari kondisi fisiknya, si Kecil tampak sehat dan baik-baik saja. Namun, sadar bahwa tiap anak memulai langkah pertamanya di usia beragam, saya dan suami memutuskan untuk bersabar menunggu beberapa bulan lagi.

Dua bulan berselang, belum terlihat juga tanda-tanda si Kecil mulai belajar berjalan. Karena makin khawatir, kami pun mengonsultasikan hal ini secara langsung pada dokter anak. Saat konsultasi, dokter memberi tahu saya seputar cara kerja otot, tulang, dan persendian di kaki yang berlangsung saat anak belajar berjalan serta mitos-mitos yang berkembang di masyarakat. Untuk Ibu, berikut saya rangkum infonya.

Cara Kerja Tubuh Saat Bayi Belajar Berjalan

 

Saat belajar berdiri dan berjalan, sebenarnya bayi tak sekadar mempelajari cara menyeimbangkan tubuh, Bu. Menurut info dari dokter, hal lain yang juga dipelajari ialah mengenali telapak kaki dan cara menapakkannya dengan tepat. Oleh karena itu, sebenarnya, bayi harus bisa melihat telapak kakinya secara langsung. Saat melihat langsung, insting alami bayi untuk memosisikan telapak kaki dan melangkah dengan baik pun semakin kuat.

Nah, agar balita kesayangan bisa melihat telapak kakinya secara langsung, dokter menyarankan saya untuk menghindari penggunaan baby walker, terutama bila si Kecil belum mampu berdiri tegak secara mandiri. Alih-alih menggunakan baby walker, dokter menganjurkan saya memapah si Kecil.

Mitos-mitos Seputar Bayi Belajar Berjalan

Agar saya lebih kritis menerima informasi dari berbagai sumber, dokter meminta saya untuk tidak langsung memercayai segala mitos yang beredar dan mencari info lebih lanjut. Dokter pun memberi tahu saya beberapa mitos seputar bayi belajar berjalan yang dipercaya oleh masyarakat umum. Sayangnya, beberapa mitos tersebut kurang tepat. Berikut selengkapnya.

Mitos #1: Waspada Bila si Kecil Berjalan Jinjit

 

Selama ini, ada anggapan bahwa bayi berjalan jinjit menunjukkan kelainan pada proses tumbuh kembang balita. Namun, faktanya tak selalu demikian, Bu.

Faktanya:

Menurut penjelasan dokter, berjalan jinjit adalah hal wajar dalam proses perkembangan anak, terutama bila si Kecil masih belajar berjalan. Alasannya, di usia 0-3 tahun, tendon Achilles (otot besar di belakang pergelangan kaki yang menghubungkan otot betis ke tulang tumit) belum cukup relaks, sehingga secara alami, mayoritas anak akan berjalan secara berjinjit.

Hal yang perlu diwaspadai adalah bila si Kecil tetap berjalan jinjit meski usianya sudah empat tahun atau lebih, Bu. Kondisi ini bisa jadi indikasi bahwa si Kecil mengalami kekakuan otot. Kemungkinan lain, bisa jadi, ini merupakan pertanda anak mengalami autisme ataupun cerebral palsy. Sebaiknya Ibu segera konsultasi ke dokter jika si Kecil mengalami hal ini, ya.

  • Mitos #2: Setiap Bayi Akan Merangkak Sebelum Mulai Berjalan

Saat si Kecil mulai belajar merangkak, sebagian besar ibu di sekitar saya beranggapan bahwa ia akan mulai berjalan. Menurut anggapan yang beredar secara umum, bayi pasti merangkak sebelum belajar jalan, Bu.

Faktanya:

Menurut dokter, tidak semua anak seperti itu. Mayoritas anak memang mengalami tahap tumbuh kembang berurutan, mulai dari tengkurap, merangkak, belajar berdiri, berdiri sambil merambat, sampai belajar berjalan. Namun, tidak berarti tumbuh kembang motorik anak terhambat jika tidak melewati tahapan-tahapan ini secara berurutan. Pada dasarnya, tiap anak memiliki tahapan perkembangan yang berbeda-beda.

  • Mitos #3: Pakaikan Sepatu Agar Lebih Cepat Belajar Jalan

 

Untuk merangsang anak agar lebih bersemangat belajar berjalan, banyak orang tua memakaikan sepatu lucu ke kaki mungil balita kesayangannya. Apa Ibu pun demikian?

Faktanya:

Sebaiknya hindari hal ini mulai sekarang, Bu. Dokter tempat saya berkonsultasi menjelaskan, memakaikan sepatu pada si Kecil yang belum mampu berjalan sempurna justru menyulitkan ia mengoordinasikan gerak tubuh dan menjaga keseimbangan.Alih-alih memakaikan sepatu untuk si Kecil, dokter justru menyarankan untuk membiarkan telapak kaki anak bersentuhan langsung dengan lantai. Faktanya, bayi menggunakan telapak kaki mereka untuk “mencengkram” lantai agar tidak terjatuh selama belajar berjalan.

  • Mitos #4: Buat Kondisi Rumah Aman Saat Anak Belajar Berjalan

Mitos terakhir yaitu terkait keamanan di sekitar ruang gerak si Kecil di rumah. Umumnya, para orang tua beranggapan, rumah perlu dibuat lebih aman saat anak mulai belajar berjalan.

Faktanya:

Ternyata, yang satu ini bukan mitos, Bu. Dokter justru menyarankan saya membuat kondisi rumah menjadi tempat yang aman sejak si Kecil bergerak aktif tanpa bantuan. Misalnya, saat ia mulai merangkak ataupun merambat-rambat. Bagaimanapun, bayi belum bisa mengontrol gerakannya sendiri. Jika rumah belum benar-benar aman, dikhawatirkan berisiko mengalami kecelakaan dan cedera.

Bagaimana, Bu? Apakah ada mitos yang selama ini Ibu percayai? Ternyata, tak semuanya benar, ya. Semoga info ini bermanfaat, khususnya untuk Ibu yang mengkhawatirkan proses tumbuh kembang balita karena si Kecil belum juga belajar berjalan.