Share Like
Simpan

Bu, pernah melihat si Kecil tiba-tiba hobi tantrum atau mendadak berteriak keras? Dulu, anak saya sempat begitu waktu dia memasuki tahap batita. Awalnya sih, sempat khawatir dan bingung, tapi setelah mencoba mencari tahu penyebab di balik tingkahnya itu, saya malah menemukan info yang menarik, lho.

Jadi, ternyata Bu, menurut penulis buku anak Brain Rules for Baby, John Medina, Ph.D., sikap moody si Kecil itu biasanya terjadi karena dia masih kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya di tahap batita ini. Salah satunya disebabkan oleh kemampuan berbahasanya yang masih terbatas.

Kondisi tersebut memang umum ditemui anak seusianya. Tapi, sebenarnya ada berbagai cara yang bisa kita lakukan untuk membantu si Kecil mengekspresikan perasaannya itu. Nah, kalau saya dulu, dengan mengajaknya untuk mengikuti kelas atau kursus tertentu. Mau tahu apa saja? Berikut beberapa contohnya.

Kelas Musik

Kita pasti punya lagu tertentu yang biasa dimainkan saat suasana hati sedang senang atau sedih, ya? Nah, sama seperti orang dewasa, musik pun bisa menjadi sarana positif untuk menyalurkan emosinya saat ini. Seperti yang dikatakan oleh Michael Jolkovski, Ph.D., psikolog asal Amerika Serikat, kursus musik dapat digunakan anak untuk membantu mengarahkan si Kecil untuk mengekspresikan perasaan hatinya yang belum bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sebagai contoh, menyanyikan lagu-lagu ceria saat di kelas dapat membuat si Kecil bisa mengeluarkan perasaan bahagianya. Sementara itu, ketika sedang kesal, dia mungkin bisa melampiaskannya dengan tarian dan nyanyiannya yang terasa agresif dan menghentak-hentak.

Kelas Menggambar

Teman saya dulu pernah bercerita. Suatu hari, anaknya membuat gambar dengan dominasi warna merah menyala saat berada di kelas menggambar. Ketika ditanya oleh gurunya, ternyata dia sedang ingin bercerita tentang insiden terjatuhnya dia hingga terluka beberapa waktu lalu. Yap,  berhubung saat ini daya komunikasinya masih terbatas, menggambar bisa menjadi “corong” baginya untuk menyuarakan isi hati atau hal yang mengganggu pikirannya itu, Bu.

Dalam artikelnya di situs Early Childhood News, penulis buku anak, Carolyn R. Tomlin juga menjelaskan kalau orang tua pun dapat memanfaatkan hasil gambarnya untuk mengenal lebih jauh tentang kondisi emosional anaknya. Sebagai contoh, anak yang fobia dengan kucing mungkin akan menggambarkan binatang itu dalam skala yang besar saat sesi menggambar binatang di kelasnya itu.  Sementara, anak yang tidak percaya diri bisa jadi menggambarkan dirinya lebih kecil ketimbang orang lain di lukisannya.

Kelas Drama

Pernah melihat si kecil asyik bermain sendiri menjadi superhero atau ratu kerajaan, Bu? Lucu sekali, ya? Nah, meskipun terlihat sederhana, tapi sebenarnya aktivitas ini merupakan cara bagi si Kecil untuk menggali dan menganalisa perasaannya.  Misalnya, ketika dia berpura-pura jadi dokter yang sedang menyuntik bonekanya, bisa saja sebenarnya dia berusaha untuk mengeksplorasi kembali pengalaman “mencekam”-nya tersebut.

Inilah salah satu alasan mengapa kelas drama dapat menjadi sarana yang positif untuk menyalurkan emosi si Kecil, Bu. Berperan sebagai orang lain merupakan kesempatan bagi anak untuk mengekspresikan ide dan buah pikirannya dengan lebih leluasa.

Beberapa kelas drama biasanya juga sering membuat sesi khusus, di mana si Kecil diminta untuk mengekspresikan rasa bahagia, takut, dan sedih dengan gerakan tubuh. Nah, Hal tersebut nantinya dapat melatih si Kecil untuk berani mengekspresikan perasaan hatinya dan melatih kepercayaan dirinya.

Bagaimana, sudah tahu mau memilih kelas apa untuk si Kecil, Bu? Satu lagi tips dari saya, selain mengajaknya mengikuti kursus, dukung juga pertumbuhan emosionalnya dengan menciptakan suasana yang nyaman di rumah agar si Kecil bisa bebas mengekspresikan perasaan hatinya, ya. Semoga info dari saya ini bisa membantu!