Share Like
Simpan

Sejak dinyatakan positif hamil, Ibu mungkin sering mendapat saran atau berbagai masukan seputar kehamilan. Dulu, saya juga begitu, Bu. Ketika hamil anak pertama, saya sering mendapat nasihat soal pantangan Ibu hamilatau lebih dikenal dengan kata pamali. Beberapa nasihat itu ada yang masuk akal, ada pula yang tidak. Salah satu contohnya adalah pamali makan makanan pedas karena bisa membuat si Kecil lahir botak. Setelah saya konsultasikan dengan dokter, ternyata larangan itu hanya mitos, Bu.  Lalu, bagaimana cara tepat untuk menyikapi pamali? Yuk, simak tipsnya bersama!

1. Tanggapi dengan Positif

Ketika mendengar nasihat atau pamali yang tidak masuk akal, Ibu sebaiknya menanggapi dengan positif. Misalnya, mengungkapkan keheranan atau tersenyum simpul sambil mengucapkan terima kasih. Ibu bisa bilang, “Masa, sih? Ya sudah, nanti saya cari tahu lagi infonya, ya. Terima kasih sudah memberi tahu.” Dengan begini, pemberi nasihat merasa dihargai dan Ibu tetap bisa mencari tahu kebenaran info tersebut terlebih dulu sebelum menurutinya. Apalagi, mungkin saja nasihat ini ia sampaikan sebagai bentuk perhatiannya kepada Ibu.

2. Cari Tahu Kebenarannya

Setelah bersikap sopan kepada pemberi info seputar pamali, Ibu bisa mulai mencari tahu terlebih dulu soal fakta di balik pamali tersebut. Ibu bisa mencari di buku, jurnal dokter, berbagai penelitian, hingga artikel kesehatan online di portal seperti Ibu & Balita. Selain itu, Ibu juga bisa menanyakan pendapat dokter secara langsung ketika melakukan konsultasi rutin.

3. Berikan Alasan Logis ketika Menolak

Cara lainnya yang sering saya lakukan adalah memberi alasan logis soal pamali yang disampaikan. Sebagai contoh, ketika Ibu dilarang makan makanan pedas karena khawatir si Kecil lahir dengan kepala botak, Ibu bisa menyampaikan bahwa kedua hal tersebut tidak ada hubungannya. Ibu disarankan mengurangi makanan pedas agar tidak mengalami gangguan pencernaan saat hamil. Selain itu, Ibu juga bisa memperkuat alasan menolak pamali dengan memberikan bukti bahwa info tersebut didapatkan dari dokter kandungan. 

Nah, sekarang Ibu sudah tahu cara tepat dalam menyikapi mitos kehamilan yang sering disampaikan oleh orang terdekat. Meski begitu, perlu Ibu mengerti bahwa tidak semua pamali atau pantangan Ibu hamil sekedar isu, ya. Selama ada alasan ilmiah di baliknya, tak ada salahnya untuk menuruti nasihat yang Ibu dapatkan. Semoga informasi ini dapat menjadi inspirasi yang berguna, Bu!