Share Like
Simpan

Tadi pagi sehabis mengantar anak-anak ke sekolah, saya menyempatkan diri mengobrol sebentar sama Ibu-Ibu di sekitar rumah. Nggak seperti hari-hari biasanya, obrolan kami hari ini terasa agak sedikit berbeda. Salah satu tetangga saya, tiba-tiba mengumumkan kabar kehamilan keduanya! Karena ikut senang, kami jadi ikutan heboh seperti lagi arisan!

Tapi, si Ibu ini tiba-tiba kelihatan salah tingkah. Katanya, ia agak bingung bagaimana cara memberi tahu anak sulungnya kalau ia akan menjadi seorang kakak. Saya juga sempat melihat sedikit kecemasan sih, pada wajahnya. Pas saya tanya, tetangga saya itu bilang kalau ia khawatir nantinya si Kecil akan cemburu dan tidak menyukai kehadiran adik kecilnya. Kasus ini hampir serupa dengan saya sewaktu hamil anak kedua dulu. Deg-degan dan juga was-was hampir setiap detik menghantui saya.

Melihat hal itu, rasanya saya jadi nggak tega, Bu. Seharusnya momen kehamilan ini bisa dirayakan dengan penuh suka cita, sebaliknya, ia justru malah gugup. Akhirnya saya cerita sedikit sama si Ibu ini cara mudah memberi tahu si Kecil bahwa ia akan memiliki adik menurut pengalaman saya. Sebetulnya, info ini juga saya dapat dari banyak membaca artikel di internet, sih. Tapi kalau bisa digunakan untuk membantu orang lain, kenapa nggak?

Jadi, menurut situs Babycenter.com, ada banyak cara mudah untuk mengatakan kepada si Kecil yang sudah berusia 2 tahun bahwa ia akan menjadi seorang kakak. Sebaiknya lakukan secara bertahap ya, Bu. Berikan waktu kepada si Kecil untuk membiasakan diri dan memproses informasi yang baru diterimanya ini. Nah, beberapa diantaranya adalah:

  • Sebagai langkah awal, coba tanyakan kepada si Kecil apakah ia menginginkan seorang adik atau tidak. Kalau saya dulu merasa momen paling pas untuk menanyakan kepadanya adalah sewaktu membacakan dongeng untuknya. Saya sengaja memilih dongeng yang bercerita tentang keluarga, kemudian di sela-sela cerita saya tanya deh, “Kamu mau punya adik juga nggak, Sayang?”. Atau coba pancing reaksinya dengan pertanyaan “Kalau Ibu kasih adik buat kamu, kamu mau nggak, Nak?”.
  • Setelah perut mulai membesar, Ibu bisa mulai menunjukkan gambar-gambar seputar kehamilan. Coba Ibu mulai dengan menggunakan gambar hewan. Menurut saya, salah satu jenis hewan yang mudah dijadikan contoh adalah kangguru. Jadi, saya bilang sama si Kecil “Lihat deh, Kak. Perut Ibu kanggurunya besar seperti punya Ibu. Di sini (sambil menunjuk perut) juga ada isinya, lho. Sebentar lagi kamu jadi kakak, Nak.”.
  •  Nah, cara yang satu ini merupakan salah satu aktivitas yang paling disukai sama si Kecil untuk mengenal calon adiknya. Jadi, sewaktu janin lagi aktif menendang di dalam, saya ajak ia untuk memegang perut saya dan merasakan tendangan adiknya. Setelah itu, saya tanya sama dia “Kira-kira adik menendang-nendang karena lagi apa ya, Nak?”. Salah satu jawaban lucu yang pernah ia katakan adalah “Lagi menari! Seperti ini (sambil melakukan gerakan tarian yang entah darimana asalnya).”. Lucu, ya?

Selain ketiga cara tadi, Ibu juga bisa mengajaknya berkunjung ke rumah saudara yang memiliki bayi. Atau, coba tunjukkan beberapa fotonya saat baru lahir dan juga foto saat Ibu hamil si Kecil. Dari artikel-artikel yang saya baca, saya jadi tahu kalau ternyata anak-anak seusianya senang mendengar cerita mengenai diri mereka. Sehingga, memberikan gambaran tentang kesamaan si Kecil dan calon adik bayinya nanti bisa membangun kedekatan secara batin antara kakak dan adik bayi.

Apabila Ibu mengalami kesulitan, Ibu bisa meminta bantuan anggota keluarga lain, kok. Terutama Ayah. Apalagi ketika kandungan Ibu membesar, Ibu tentu akan mudah merasa lelah dan pada beberapa kasus, jadi mudah marah. Oleh sebab itu, penting untuk memberikan penjelasan kepadanya bahwa mengandung dapat membuat Ibu merasa lelah dan hal yang sama juga terjadi sewaktu Ibu hamil si Kecil dulu. Dengan adanya bantuan dari anggota keluarga lain, Ibu jadi tidak perlu menanggung semua pertanyaannya seorang diri. Coba bayangkan kalau Ibu sedang moody, tapi terus dibombardir oleh pertanyaan si Kecil. Kalau kesabaran Ibu tidak cukup besar, bisa-bisa ia justru kena omelan dibandingkan menerima jawaban.

Semoga tips saya bermanfaat ya, Bu. Selamat menjalani masa kehamilan!