Dalam istilah kedokteran, mengompol juga dikenal sebagai enuresis, yaitu ketidakmampuan mengontrol keluarnya air seni—baik dalam keadaan tertidur maupun terjaga. Namun, ini bukan masalah yang bisa Bunda selesaikan dengan mengomeli ataupun menghukum si kecil. Tetap beri ia dukungan untuk mengatasi kebiasaan mengompol.

Menggunakan alas atau perlak pada kasur bisa membuat anak salah paham, mengira ia diperbolehkan mengompol di situ. Begitu pula penggunaan pampers tidak akan mempercepat proses mengatasi kebiasaan mengompol. Jika anak sudah memasuki usia 2 tahun, Bunda sebaiknya membantu dia melepaskan ketergantungan pada perlak ataupun pampers untuk tidur.

Caranya, batasi konsumsi minuman pada malam hari, terutama minuman yang mengandung kafein seperti teh, cokelat, maupun soda. Buat pula jadwal rutin ke kamar mandi, setidaknya setiap 30 menit sebelum waktunya tidur. Jangan lupa beri dia pujian tiap kali ia berhasil tidak mengompol karena ini akan memupuk efek psikologis bahwa mengatasi kebiasaan mengompol merupakan prestasi yang harus ia pertahankan.

Menghukum anak dengan tidak membolehkannya tidur di kasur juga bukan solusi yang bijak untuk mengatasi kebiasaan mengompol. Namun, bukan berarti Bunda membebaskannya begitu saja dari tanggung jawab. Libatkan dia dalam kegiatan membersihkan bekas mengompolnya, baik ketika mencuci seprai maupun menjemur kasur.

Buat suasana kerja sama jadi menyenangkan, seolah-olah itu adalah aktivitas bermain bersama. Mungkin ia memang belum cukup besar untuk benar-benar membantu, tapi melihat Bunda kerepotan karena ulahnya akan membuat dia berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. Akan tetapi, jangan sesekali sengaja membuat si kecil merasa bersalah karena itu hanya akan menekan rasa percaya dirinya.

Di samping itu, ada pula kasus mengompol yang disebabkan oleh faktor biologis. Misalnya kapasitas kandung kemih yang lebih kecil dari anak-anak lain sehingga sensasi ingin buang air kecil lebih sering muncul. Atau, mungkin produksi hormon antidiuretik (pencegah pembentukan air seni) dalam diri si kecil tidak memadai. Jika demikian, mungkin Bunda perlu membawanya untuk terapi hipnosis. Yang jelas, si kecil butuh dukungan dan ketelatenan Bunda untuk membantunya mengatasi kebiasaan mengompol.