Whatsapp Share Like Simpan

Kalau Ibu mengalami diare, pasti akan langsung menyadari penyebab kondisi tersebut. Berbeda dengan si Kecil yang masih bayi, karena ia belum bisa berkomunikasi dengan jelas, pasti akan sulit mengetahui penyebab mencret yang ia alami.

Hal itulah yang terkadang membuat sebagian Ibu khawatir dan bingung harus bagaimana mengatasinya. Apalagi penyebab mencret yang dipicu oleh diare merupakan salah satu penyakit yang sering kali dialami oleh bayi di Indonesia. 

Secara alami, seorang bayi memang punya kecenderungan untuk buang air besar lebih sering daripada anak-anak maupun orang dewasa. Kadang-kadang bayi bisa buang air besar (BAB) setiap kali selesai minum ASI. 

Dalam sehari, bayi baru lahir yang minum ASI bisa buang air besar sebanyak 3 kali, bahkan hingga 5-10 kali. Bayi juga bisa langsung buang air besar setelah disusui dan ini adalah normal. Sedangkan bayi yang minum susu formula umumnya BAB dengan frekuensi 1-4 kali dalam sehari. 

Hal tersebut karena susu formula dicerna lebih lama dibandingkan ASI. Sementara ketika usia si Kecil melewati satu bulan, frekuensi BAB bayi akan berkurang yaitu sebanyak 1-2 kali per hari, dan bahkan hanya 2-3 kali dalam seminggu.

Artikel Sejenis

Nah, jika frekuensi BAB si Kecil terlalu sering dan tekstur fesesnya lebih encer, berbau, dan lebih banyak, itulah tanda bahwa si Kecil mengalami diare. Oleh karena itu, Ibu perlu mengetahui berbagai penyebab mencret sekaligus cara mengatasinya yang tepat.

Penyebab Mencret Pada Bayi yang Tergolong Ringan

Ketahui beberapa penyebab mencret pada si Kecil yang tergolong ringan berikut ini. Jika penyebab mencret yang terjadi hanya berlangsung beberapa hari saja, maa kondisi ini bisa sembuh dengan sendirinya tanpa perlu memberikan obat-obatan. Inilah beberapa kemungkinannya:

  1. Intoleransi laktosa

    Salah satu penyebab mencret pada bayi adalah intoleransi laktosa. Laktosa sendiri adalah sumber karbohidrat terpenting dalam ASI dan susu formula. Namun, tidak semua bayi bisa mencerna laktosa ini dengan baik. Bila bayi menunjukkan reaksi tidak wajar setelah mengonsumsi protein susu, baik itu susu hewani segar maupun susu formula, itu tandanya ia memiliki intoleransi laktosa. 

    Kondisi itu bisa terjadi karena bayi belum mampu menghasilkan enzim laktase yang cukup untuk mencerna laktosa secara optimal. Bila Si Kecil memiliki intoleransi laktosa, ibu disarankan untuk mengganti susu yang bisa memicu kondisi tersebut dengan susu formula khusus.

  2. Alergi makanan

    Bayi berusia 0-6 bulan memiliki sistem pencernaan yang masih belum sempurna. Dalam usia ini, si Kecil cukup rentan mengalami alergi. Meskipun ibu memberikan ASI eksklusif, si Kecil masih berpotensi mengalami alergi dari jenis makanan yang dikonsumsi oleh ibu. 

    Beberapa jenis makanan yang dapat memicu alergi pada bayi adalah makanan berprotein, makanan pedas, makanan asam, hingga susu dan makanan olahan susu. Ibu disarankan untuk menghindari makanan yang diduga kuat menjadi penyebab mencret si Kecil selama masa menyusui.

  3. Tidak cocok dengan susu formula

    Penyebab mencret pada bayi juga mungkin saja disebabkan karena si Kecil tidak cocok dengan susu formula yang Ibu berikan. Ketidakcocokan ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, Bu, bisa jadi karena suhu air yang digunakan untuk melarutkan susu yang kurang tepat, bisa juga karena kebersihan airnya, ataupun dari cara penyimpanan susu formula yang tidak sesuai dengan petunjuk penyimpanan. Saat ingin memberikan susu formula khusus bayi, sebaiknya Ibu konsultasikan dulu dengan dokter agar mendapat anjuran yang tepat. 

  4. Infeksi virus

    Sebagian besar kasus diare pada bayi disebabkan karena adanya infeksi virus. Salah satu jenis virus yang paling sering menjadi biang keladinya adalah rotavirus. Untungnya, beberapa tahun belakangan ini sudah digalakkan pemberian vaksin rotavirus, sehingga risiko bayi diare karena virus tersebut bisa berkurang.

Penyebab Mencret Pada Bayi yang Tergolong Serius

Bayi juga dapat dikatakan mengalami diare yang kronis bila bayi terus menerus buang air besar selama berhari-hari dan tidak kunjung sembuh. Bahkan, bayi juga mengalami demam tinggi hingga muncul bercak darah pada feses si Kecil. Berikut ini adalah beberapa penyebab mencret pada bayi yang tergolong serius.

  • Infeksi bakteri

    Bakteri seperti Salmonella, Escherichia Coli atau Sighella bisa menjadi penyebab mencret atau diare yang cukup parah pada bayi. Biasanya, bayi akan mengalami gejala-gejala seperti kram perut, demam, maupun berdarah saat buang air besar bila terkena infeksi bakteri. Untuk mengatasinya, Ibu bisa segera membawa si Kecil ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

  • Infeksi parasit

    Selain bakteri, parasit seperti Giardasis juga bisa menjadi penyebab mencret pada bayi atau mengalami diare yang cukup kronis. Kondisi ini cukup berbahaya, bahkan penyakit ini bisa menular. Jadi, bila si Kecil terkena jenis diare ini, bawalah ke dokter untuk segera mendapatkan penanganan yang tepat.

Cara Mengobati dan Mencegah Penyebab Mencret pada Bayi

Penyebab mencret yang disebabkan oleh infeksi virus dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari. Namun, bayi tetap perlu mendapatkan asupan cairan dan nutrisi yang cukup selama penyebab mencret atau diare itu terjadi. Simak beberapa langkah penanganan penyebab mencret pada bayi berikut:

  1. Memberikan ASI dan cairan elektrolit

    Bayi berusia di bawah 6 bulan yang mengalami diare dapat diatasi dengan pemberian ASI lebih sering. Hal ini karena ASI mengandung nutrisi yang diperlukan untuk menggantikan cairan dan nutrisi yang hilang selama BAB. ASI juga mengandung antibodi yang dapat membantu bayi melawan bakteri atau virus penyebab diare. Pada bayi berusia di atas 6 bulan, pemberian ASI boleh dilanjutkan sambil diselingi pemberian cairan rehidrasi oral, seperti oralit setiap kali si Kecil BAB.

  2. Memberikan suplemen zinc

    Suplemen zinc dapat diberikan untuk mengatasi penyebab mencret pada si Kecil. Menurut WHO dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bayi yang mengalami diare akut dapat diberikan suplemen zinc selama 10–14 hari. Dosis pemberian suplemen zinc pada bayi berusia di bawah 6 bulan adalah sekitar 10 mg per hari, sedangkan pada balita 20 mg per hari. Konsultasikan ke dokter anak untuk pemberian suplemen yang tepat.

  3. Memberikan probiotik

    Beberapa riset menunjukkan bahwa pemberian probiotik bisa mendukung proses penyembuhan dan mempercepat pemulihan bayi yang mengalami diare. Oleh karena itu, Bunda dapat memberikan Si Kecil suplemen atau makanan yang mengandung probiotik saat ia terkena diare.

Selain cara-cara tersebut, Ibu juga perlu meningkatkan kualitas ASI dengan baik. Salah satu caranya adalah minum susu Frisian Flag PRIMAMUM secara rutin karena mengandung 9 asam amino esensial (9AAE) lengkap dan 9 nutrisi penting lainnya untuk kebaikan Ibu dan si Kecil. Susu ini juga diperkaya dengan tinggi asam folat, omega 3 (ALA), dan omega 6 (LA) untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan si Kecil serta kesehatan Ibu.

Selain itu, susu Frisian Flag PRIMAMUM mengandung tinggi zat besi, tinggi zinc, dan sumber serat pangan inulin untuk mendukung daya tahan tubuh Ibu dan si Kecil. Ditambah dengan tinggi kalsium dan tinggi vitamin C untuk mendukung pertumbuhan sel si Kecil.

Frisian Flag PRIMAMUM termasuk susu dengan harga ekonomis dengan nutrisi lengkap yang dapat dikonsumsi oleh ibu hamil dan menyusui. Tersedia dalam rasa cokelat yang lezat dan tidak membuat Ibu merasa enek atau mual.

Agar tumbuh kembang si Kecil dapat terpantau dengan baik, Ibu bisa juga memanfaatkan berbagai fitur menarik yang terdapat dalam Akademi Keluarga Prima. Akademi Keluarga Prima dapat menemani keluarga prima dari masa kehamilan hingga 6 tahun pertama kehidupan si Kecil. Ibu bisa menggunakan fitur Rapor Tumbuh Kembang Prima untuk memantau tumbuh kembang si Kecil berdasarkan grafik pertumbuhan dari WHO dan CDC. Langsung cobain fiturnya di sini ya, Bu.

Ditinjau oleh: Yeni Novianti, S.Gz