Share Like
Simpan

Menjalani masa kehamilan, bisa dikatakan cukup menantang, baik bagi istri yang sedang mengandung dan juga suami. Maka dari itu, saya sadar betul bahwa kehadiran suami sebagai support system atau orang yang mendukung Ibu selama hamil sangatlah penting. Nah, kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman salah satu teman saya, seorang suami yang setia menemani setiap Momen Wow istrinya saat hamil dulu.

Dari pengalaman teman saya sewaktu istrinya hamil dulu, ia cerita bahwa sang istri sempat mengalami beberapa kondisi yang membuatnya merasa kurang nyaman. Namun, ia cukup salut dan bangga pada istrinya, karena dengan berbagai kondisi kehamilan yang dialami, sang istri tetap aktif berkegiatan, seperti syuting, kuliah, dan bahkan mengisi acara-acara off air baik di dalam maupun luar kota.

Sebagai seorang suami, ia tentu akan mendukung sang istri dan berusaha untuk selalu hadir di setiap momen kehamilan yang dihadapinya. Ini dikarenakan kehadiran suami maupun orang-orang terdekat selama hamil dapat membuat calon ibu lebih relaks dalam menjalani kehamilan. Dengan berkurangnya stres, kondisi ibu dan janin dapat terjaga dengan baik hingga saatnya persalinan nanti.

Berikut adalah cerita teman saya ketika menemani sang istri dalam melalui berbagai Momen Wow kehamilan. Semoga pengalaman ini bisa menjadi inspirasi untuk suami lainnya tentang pentingnya suami dan orang terdekat sebagai support system yang baik untuk istri selama menjalani kehamilan, ya.

Mual dan muntah

Waktu hamil anak pertama, istri teman saya ini sempat mengalami mual dan muntah selama trimester satu. Hal ini memang sudah ia prediksi sebelumnya karena memang biasanya ibu hamil muda akan mengalami kondisi ini. Ia masih ingat betul bagaimana sang istri capek dan lemas akibat kondisinya saat itu sampai menangis. Namun, ia selalu mengatakan kepada sang istri, kondisi mual dan muntah di trimester pertama sudah menjadi kodrat perempuan saat hamil. Apa pun kondisi yang dialami, entah itu yang enak atau tidak, merupakan Momen Wow tersendiri yang patut dinikmati. Jadi, hindari mengeluh, dan syukuri saja salah satu momen wow menjadi ibu ini.

Teman saya menyadari bahwa memberikan dukungan berupa kata-kata saja mungkin tak cukup saat itu. Ia merasa bahwa sebetulnya sang istri pasti mengharapkan ada tindakan lain yang bisa ia lakukan. Itu sebabnya, teman saya selalu bilang kepada sang istri, kalau ada apa-apa, cerita saja. Dengan begitu, orang lain jadi tahu apa keinginan sang istri dan ia pun bisa bertindak sesuai harapannya saat itu. Saya yakin, di luar sana ada Ayah yang juga berpikiran sama dengan teman saya ini, bukan? Sebagian istri sering berharap suami langsung mengerti apa yang ada di pikiran mereka. Padahal, ternyata para suami sebetulnya lebih memilih untuk diberitahu saja dengan jelas keinginan sang istri. Ini supaya mereka tidak salah langkah dan kena marah atau menyebabkan istri ngambek.

Biar bagaimanapun, agar sang istri nyaman saat hamil, teman saya berusaha untuk tetap memberikan dukungan terbaik yang bisa diberikan, yaitu dengan selalu mengingatkannya untuk istirahat, mendampinginya saat beraktivitas, dan menjaga betul jadwal pekerjaan yang ia terima dalam sehari.

Sementara itu, saat sang istri kembali mengandung anak kedua, kondisinya betul-betul berbeda dengan kehamilan sebelumnya. Mual dan muntah yang dialami justru jarang terjadi dan bahkan bisa dihitung dengan jari. Itulah sebabnya, di kehamilannya yang kedua, sang istri justru lebih aktif beraktivitas, dan bahkan menurut saya, ia terlihat seperti lupa kalau sedang hamil.

Kelelahan

Mudah lelah saat hamil, menurut saya adalah hal yang sangat wajar. Namun, satu hal yang sangat unik dari istri teman saya ini adalah ia justru merasa lebih lelah saat bengong di rumah. Itulah sebabnya, di kehamilan kedua pun ia masih menjalankan aktivitas seperti biasanya, yaitu syuting dari jam lima pagi hingga siang, lalu pergi ke kampus untuk bimbingan, baru kemudian pulang dan istirahat.

Teman saya sering bertanya, “Kamu kok nggak ada capeknya ya? Seperti nggak sedang hamil. Sudah tidurlah kamu, istirahat.” Jujur, teman saya begitu khawatir kalau sang istri terlalu lelah, kondisi Simfisis Pubis Disfungsi atau dikenal dengan nama Pain Girdle Pelvis (PGP) yang sempat dialaminya saat hamil anak pertama akan menyerang lagi. Saat kehamilan pertama, kondisi ini pernah menyebabkan tulang panggul sang istri terasa nyeri bahkan saat hanya digunakan untuk berjalan atau mengangkat kaki. Saat itu, untuk pakai pakaian saja, sang istri harus dibantu oleh teman saya.

Itu sebabnya, setiap teman saya lihat istrinya masih memegang buku atau membuat tesis di malam hari, ia selalu menyuruh sang istri untuk segera tidur. Lalu, setelah itu, biasanya diam-diam ia membantu merapikan buku-buku atau catatannya, supaya sang istri tak repot menyusunnya kembali sebelum berangkat syuting. Ya, inilah salah satu bentuk dukungan untuk menjaga istri supaya tidak kelelahan di tengah padatnya jadwal syuting dan studi S2-nya.

Ngidam

Tak hanya saya, teman saya ini pun tidak pernah percaya bahwa ngidam adalah hal yang bisa dijelaskan secara ilmiah. ”Aahh, itu hanya sugesti saat hamil,” itu pembelaannnya, apalagi sang istri tidak pernah kekeh minta apa pun yang aneh-aneh saat hamil pertama. Namun, ketika hamil anak kedua, tiba-tiba sang istri pengin banget makan bebek betutu yang dulu pernah mereka makan di kawasan Pondok Indah. Awalnya teman saya pikir ini hanya cara istrinya yang sedang ingin dimanja. Tapi, ketika melihat sang istri sama sekali tak mau menyentuh menu makanan yang ada di rumah dan terus meminta bebek betutu tersebut, muncul pertanyaan di pikirannya, “Oh, ini ternyata yang namanya ngidam?”

Melihat sang istri ingin sekali makan bebek betutu, akhirnya teman saya diam-diam minta tolong kepada pegawainya untuk membelikan makanan tersebut. Saat itu, karena ingin memberikan kejutan untuk sang istri, awalnya teman saya tidak bilang bahwa bebek betutunya sedang dipesan. Justru, teman saya berusaha menutupinya dengan meminta istrinya untuk makan makanan yang ada di rumah saja. Tetapi, ia langsung tidak tega sewaktu melihat sang istri yang tiba-tiba menangis, dan akhirnya mengaku bahwa bebek betutu itu sudah dibelikan dan sedang dalam perjalanan.

Setelah bebek betutu tiba, teman saya ini benar-benar kaget melihat istrinya begitu senang dan makan dengan lahap. Ia mengaku tak pernah melihat sang istri makan sampai sesenang itu. Biasanya, ia termasuk orang yang akan makan menu makanan apa pun dan tak pilih-pilih makanan. Saat itu pula ia baru menyadari, ternyata seperti ini senangnya bisa mewujudkan keinginan dan mendampingi istri melalui Momen Wow kehamilannya.

Lebih sensitif dan manja

Saat hamil, teman saya mengakui adanya perubahan sifat sang istri yang sebetulnya cuek jadi lebih manja. Setiap teman saya telat pulang kerja, istrinya pasti menelepon dan menanyakan keberadaannya. Tak hanya itu, istrinya juga lebih sering meminta teman saya untuk menemaninya, terutama ketika ada pekerjaan yang mengharuskan sang istri untuk pergi ke luar kota. Ia hanya mau ditemani oleh sang suami, dan bukan dengan manajernya. Untungnya, profesi teman saya sebagai seorang wiraswasta memungkinkan ia untuk menerapkan jam kerja yang cukup fleksibel. Jadi, saat tak ada jadwal meeting, ia selalu berusaha memberikan waktunya untuk sang istri. Mulai dari menyiapkan susu, menyuapinya saat makan, menyiapkan pakaian untuk syuting, menyediakan vitamin dari dokter, sampai menemaninya berkegiatan.

Pegal-pegal

Berat badan sang istri yang naik cukup drastis di kehamilan pertama, membuat tubuhnya jadi mudah pegal. Biasanya, pegal-pegal itu baru dirasakan istrinya ketika mau tidur. Oleh sebab itu, teman saya sering menawarkan diri untuk memijat kaki atau sekadar mengelus-elus bagian punggung sang istri. Sebetulnya, teman saya mengaku kalau sang istri sering menolak untuk dipijat karena takut sang suami kelelahan. Padahal, suaminya tidak keberatan sama sekali untuk membantu istrinya merasa lebih nyaman selama hamil, asalkan ia meminta secara langsung.

Khawatir berlebihan

Merasa khawatir akan kondisi ibu maupun janin di kehamilan pertama, merupakan hal yang normal terjadi. Teman saya dan istrinya pun mengalami momen itu. Di kehamilan pertama, ia dan sang istri memang memiliki banyak pertanyaan, karena ini adalah pengalaman pertama bagi mereka berdua. Namun, untuk mengatasi rasa khawatir itu, mereka justru mencoba mencari banyak informasi seputar kehamilan. Sang istri menjadi orang yang lebih teliti dalam mencari informasi dengan membaca buku. Sementara tema saya cenderung bertanya kepada teman-teman yang pernah mengalami kondisi serupa, termsuk kepada saya. Dengan bertambahnya informasi, mereka pun dapat lebih tenang dan nyaman dalam menghadapi masa kehamilan ini bersama-sama.

Teman saya menyadari, bahwa setiap ibu hamil membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya terutama dari suami. Itu sebabnya, waktu yang dicurahkan oleh suami untuk istri yang sedang hamil menjadi sesuatu yang sangat berharga. Untungnya, teman saya ini juga dibantu oleh sang ibu mertua. Selama istrinya hamil, ibu selalu mengingatkan sang istri untuk minum jus, susu, serta memerhatikan betul nutrisi dari makanan yang ia konsumsi agar ibu dan janin tetap sehat.

Kehadiran dan tindakan teman saya maupun ibu mertuanya ini adalah salah satu bentuk dukungan yang sangat berarti bagi istri yang sedang hamil agar ia tetap merasa aman dan nyaman. Selain itu, bantuan sederhana dari suami juga dapat meringankan beban istri saat menjalani masa kehamilan. Kebersamaan dengan istri ini juga bisa menjadi momen untuk mempererat ikatan dengan istri dan janin dalam kandungan, sekaligus ikut melihat serta merasakan Momen Wow Mama yang indah dan juga penuh tantangan.

Nah, itulah cerita teman saya seputar kehamilan sang istri dan bentuk dukungan yang pernah ia berikan dulu. Bagaimana dengan Ibu?

Apakah Ayah, sebagai suami, merasa sudah memberikan dukungan yang sesuai dengan ekspektasi istri selama masa kehamilan?


Terima kasih atas jawaban Ibu! Berikut ini hasil sementara polling ini:

Iya
Tidak